Advertisment

Wednesday, June 11, 2014

Ekspedisi Sigung Bye-Bye!! (Bagian 5)


 Episode Sebelumnya di Bagian IV
Day VI (15 Agustus 2008) - Cisentor
Kekuatiranku bangun tidur sudah berada dalam jurang tidak terbukti. Pagi itu aku sudah masih dalam tempat tenda berdiri sejak semalam. Suara klutik-klutik yang ditimbulkan oleh Mboys di pondokan Cisentor yang kami jadikan dapur membangunkanku. Ternyata Mboys bangun lebih awal diakibatkan dia tidak kuasa menahan hawa dingin dan segala dorongan dan himpitan ketika dia tidur. Kebetulan saat itu dia berbaring dekat pintu tenda, tapi bangun-bangun satu tangan sudah berada di luar tenda. Benar juga inilah saat, orang kecil ditindas oleh orang besar. 
Tenda beradab (kuning biru) dan tenda tak beradab (Gubuk PSK rel sepur Gubeng seng)

Pagi itu, aku bisa melihat tetangga tendaku. Rupanya ada seorang cewek yang ikut dalam rombongan mereka. Kami sempat kenalan dengan masing-masing anggota rombongan, namun beberapa saat kemudian sudah lupa dengan nama mereka masing-masing. Sing penting kami tahu kalau mereka dari Jakarta mahasiswa pecinta alam UIN campur anak Probolinggo dan Bondowoso featuring seorang anak Baduy luar (mboys jadi inget sama neng Anny_antroUI yang pernah mroyek kesana). Pagi itu kami menyadari kebodohan yang telah kami buat, ngapain dini hari berjalan lagi di jalur yang sama untuk naik ke Puncak Rengganis?. Hal ini menurut pengamat sejarah, Sejarawan muda Universitas Airlangga Surabaya Republik Indonesia, Arif S.S sama dengan kalau kita naik puncak gunung Arjuno dengan tujuan menikmati puncak Arjuno I untuk menikmati Matahari Terbenam dan kembali ke Pondokan selanjutnya pada dini hari kembali menuju puncak Arjuno II ditengah hawa dingin untuk menikmati matahari terbit. Padahal seharusnya ke puncak Welirang untuk menikmati matahari terbenam dan puncak Arjuno untuk menikmati matahari terbit. Danang pun sepakat untuk kembali ke puncak Rengganis lain waktu.
Bersama Rombongan UIN Jakarta

 Supaya tidak kemaleman sampai di Danau Taman Hidup dan dapat berjalan dengan santai, kami memutuskan untuk segera berbenah. Yang penting segera meruntuhkan tenda trapesium. Selama masak pagi masih diproses, Danang dan Mboys membersihkan diri. Rombongan UIN sudah pamitan kepuncak lebih dahulu. Menitipkan tendanya pada kami buat sementara selama menuju puncak Argopuro dan puncak Rengganis. Begitu barang sudah masuk tas kami bersiap-siap berangkat setelah doa bersama. Tas Carrierku sekarang kuisi dengan dua tenda dan barang bawaanku sendiri. Sebelum berangkat kami berdoa dan tidak lupa foto-foto dengan latar belakang tenda tetangga.
Tepat pukul 09.00 kita berangkat dari pos Cisentor. Awal perjalanan dari Cisentor benar-benar membuat hati pilu, sepanjang jalan yang terlihat hanya sisa kebakaran hutan. Tidak sedikit pohon-pohon besar yang tumbang menghalangi jalan setapak, sehingga kami harus merunduk, merangkat sampai harus ngangkang melewati berbagai macam halangan. Ada beberapa pohon tumbang yang masih menyisakan asap bekas kebakaran. Satu pohon besar yang membuatku serba salah, mau menunduk terlalu rendah, mau menaikinya juga terlalu tinggi, jadi aku mencoba untuk memutarinya saja meskipun harus berjalan agak menjauh, toh di tengah perjalanan aku menemukan sebuah sarung tangan yang bisa dijadikan sebagai pelindung dari bahaya racun rengas. Selepas kebakaran hutan kami masuk area yang penuh dengan semak dan pohon cemara dengan medan yang berkelok-kelok. Setelah itu kami masuk sabana kembali, yang lebih enak di sebut sebagai bekas sabana atau sabana gosong karena kebakaran sampai merambah area ini. Di tengah perjalanan kami menjumpai dua orang pendaki yang berasal dari Surabaya menuju Cisentor. Satu orang agak kurus dengan membawa carrier dan tas kecil di bagian depan, sementara temannya lagi gemuk membawa carrier 60 liter dan yang menarik perhatianku Mas yang gemuk ini ternyata udel ’e bodong

Sisa Kebakaran Hutan

Berjalan menyusuri sabana terbakar cukup menguras tenaga, medan naik turun, pohon tumbang dan panas yang menyengat menjadikan konsumsi air kami lebih banyak. Entah berapa luas hutan yang terbakar di area ini, sampai pada kawasan yang dulu bervegetasi cemara dan edelweis kami menjumpai kawasan hitam dan berdebu. Selepas hutan yang terbakar kami masuk jalur T-Rex, yakni jalur berkelok-kelok dengan jalan yang sempit dan banyak rumput yang tumbuh tinggi sehingga mirip jalur dalam film Jurassic Park. Pemberhentian kami berikutnya adalah di Aengkenik.
 
Rengas atau Ri Jancu’an


Aengkenik adalah sebuah tempat lapang kecil di antara dua bukit yang mempunyai sebuah sungai kecil yang mengalir di bawahnya. Aengkenik (kalau diartikan secara bebas dari bahasa Probolinggo) berarti air kecil. Sampai  di tempat ini sekitar pukul 13.15 aku melepas Carrier untuk mengisi ulang air minum dan menikmati doping gula Jawa sebab perjalanan masih panjang. Perjalanan menuju Danau Taman Hidup berlanjut kembali, menyusuri berbagai jalur dari yang datar, menanjak, penuh semak, jalan menurun sampai jalan curam yang harus ekstra hati-hati kalau melewatinya. Banyaknya jalur yang tertutup pohon tumbang membuat Mboys sedikit bisa tertawa, dengan postur yang kecil ia bisa merangkak dan masuk dengan mudah. Sementara bagi Arif yang paling gedhe tentu menjadi perjalanan yang menguras tenaga dan pikiran. Begitu masuk jalur menuju tebing kesayangan, aku ingat di mana dua tahun yang lalu aku sempat berfoto bersama anak-anak Gempa Besuki dan Rombongan Blitar. Sebelum tikungan menuju tebing kesayangan tanpa sengaja Ups!..tanganku dicubit rengas alias ri Jancukan. Terlihat tiga buah lubang kecil bekas kena durinya. Cepat-cepat aku menghisap tangan yang sakit supaya racunnya tidak menyebar luas ke tanganku.
Di depan nampak tiga orang sosok pria asal Bandung yang sedang berjalan akan berpapasan dengan kami. Penampilan mereka mencerminkan bukan pendaki gunung pemula lagi, hampir semua barang yang melekat ditubuhnya adalah peralatan outdoor yang bermerek. Salah satu dari mereka mempunyai postur tubuh yang keren, kaki besar dengan betis yang membuat para pendaki lain berpikir dua kali kalau di ajak naik kuat-kuatan sama dia. Meskipun begitu kaki seperti itu masih kalah besar jika dibandingkan dengan betis Pak Tani Si Raja Kentol Internasional produk Antropologi Unair J. Kami memberi kesempatan pada tiga orang itu supaya berjalan lebih dahulu. Salah seorang dari mereka terkena ri jancukan, tepat pada posisi di mana aku tadi juga terkena.
Selepas tebing kesayangan kami terus berjalan entah berapa bukit yang harus kami lewati. Hingga pada saat kami lewat di bukit yang banyak ditumbuhi cemara dan edelweis, kabut tebal bergelayut yang mengakibatkan turun hujan rintik-rintik. Lumayan buat sedikit menghemat air karena udara menjadi dingin, meskipun jalanan menjadi licin. Untung ada sandal gunung Eiger yang siap menahan jalanan licin karena memang sepatuku sudah aku pensiunkan sejak berangkat dari Cisentor. Memasuki hutan lumut, stok airku sudah menipis, saat itu aku mulai latihan untuk ngelakoni ilmu menahan rasa haus alias ilmu unto.
Perjalanan yang paling menegangkan adalah saat melewati hutan lumut yang banyak ditumbuhi pohon raksasa, sinar matahari saja tidak sanggup masuk karena terhalang rimbunnya dedaunan disamping kawasan ini selalu berkabut. Sepanjang jalan kanan kiri hanya pohon-pohon besar dan yang lebih mengerikan ada suara seperti babi hutan terdengar dari kejauhan. Segera ku ambil pisau lipat dan berjalan lebih cepat. Kalau saja ada babi hutan menyeruduk dari depan, pisau akan aku goreskan sedikit di punggungnya sampai membentuk seperti sayatan kecil yang menyerupai lubang masuk uang koin ke dalam celengan J. Begitu menegangkan dengan suara hewan liar entah babi hutan atau Aum! mengiringi perjalanan kami sore itu.
Hingga akhirnya kami sampai juga di Danau Taman Hidup pada pukul 16.15, menikmati malam yang puitis dengan bulan purnama, kabut yang datang dan pergi membuat suasana malam bertambah dingin dan romantis. Suasana itu tidak berjalan lama, rombongan lain datang dan memenuhi tempat lapang di depan kami. Kebetulan saat itu ada pendakian bersama guna upacara bendera yang diadakan oleh salah satu Universitas di Malang. Seorang anggota rombongan mereka mendirikan tenda tepat di belakang tenda trapesium Arif. Setelah berbincang-bincang sejenak, kami lalu memutuskan untuk beristirahat seiring habisnya kopi dalam gelasku. 

”Malam padang bulan di bukit taman hidup”
BERSAMBUNG ke bagian VI