Advertisment

Wednesday, June 11, 2014

Ekspedisi Sigung Bye-Bye!! (Bagian 4)

 Episode Sebelumnya di Bagian III
Day V (14 Agustus 2008) - Cikasur
Pagi harinya, kami bertiga kecuali Arif yang masih pingin tidur, jalan-jalan keliling Cikasur untuk menikmati udara pagi dan mata hari yang sebentar lagi akan terbit. Kami berjalan sampai di pohon besar yang tumbuh di tengah sabana, ternyata ada bekas api unggun di sana. Aku berpikir siapa orang yang nekat mendirikan tenda dan bermalam di bawah pohon ini. Kami terus berjalan menuju area yang konon menjadi lapangan terbang Jepang pada masa perang Pasifik. Di tengah jalan kami melihat sebuah celana jeans yang sobek di bagian pantat dan pahanya. Mungkin ini bekas celana pendaki yang di sobek-sobek Aum karena mengantongi daging kaleng J. Setelah puas jalan-jalan di sabana kami kembali menuju tenda dengan di lewat jalan setapak yang berada di antara rerumputan. Dua tahun yang lalu, aku dan Mboys pernah tersesat di area ini, maksud hati ingin melanjutkan perjalanan ke Cisentor tapi malah kebablasan mengarah ke tengah lapangan terbang.

Selada Air Cikasur
Acara selanjutnya membersihkan diri dan kora-kora nesting di sungai, kami bertiga mencoba merasakan nikmatnya air dingin yang jernih mengalir. Tak lupa aku mengambil beberapa lembar selada air untuk di gunakan sebagai campuran mie dan sandwich. Hanya Mboys yang turun ke dasar sungai dengan kedalaman setinggi tulang kering. Kalau lebih dari itu mungkin Mboys bisa hanyut tenggelam menuju Danau Taman Hidup atau ke laut karena kebetulan dia tidak bisa berenang. Setelah mengambil air kami kembali dan berganti Arif yang turun ke bawah buat membersihkan diri. Menu makan buat sarapan pagi kali ini beberapa kaleng sarden yang dicampur dengan nasi. Sedangkan minumnya Marimas Jambu, Nutrisari Anget, Kopi, Teh dan Energen. Juga tidak lupa wedhang temulawak hangat.
Ayam Hutan (Jepretan Arif)
Ketika Arif pergi mandi besar di sungai ia sempat melihat dua ekor ayam hutan yang sedang turun minum, dengan kesigapannya ia berhasil mengabadikan moment yang cukup menarik bagi orang yang suka bercengkrama dengan hewan liar. Selesai sarapan sigung kembali lagi di ruang sebelah ketika kami menjemur sebagian pakaian dan perlengkapan lain akibat embun. Sepertinya ia bisa menerima kehadiran kami sampai Mboys berusaha untuk PDKT dengan memberinya roti, ternyata dia cukup penurut juga.
Karena itulah kami menganggap sigung itu seperti anak sendiri. Kami juga sempat melihat seekor alap-alap yang melintas di udara (mungkin mencari kacang seperti pada iklan kacang garuda) dan seekor merak jantan yang melompat sambil berkicau dari dahan cemara menuju sabana. Sekilas suara merak seperti suara suku indian yang sedang berperang sedangkan bulu panjang pada bagiannya berfungsi seperti penyeimbang ketika terjun di udara. Sungguh sebuah pengalaman yang tidak mudah untuk dilupakan jika melihat satwa-satwa liar ini dengan mata kepala sendiri tanpa harus membayar tiket masuk seperti kalau kita lihat di kebun binatang.
Makan pagi telah siap kami makan nasi dengan lauk sarden. Nafsu makan pagi ini agak berkurang setelah menikmati sandwich spesial selada air buatan Arif. Selada Air Cikasur di jepit di antara roti tawar, kemudian di campur dengan keju dan sedikit margarin. Makanan mahal yang tidak biasa kami makan di Surabaya. Setelah berkemas-kemas kami siap berangkat melanjutkan perjalanan menuju Cisentor. Sebelum berangkat aku keluarkan kaos kaki baruku, sementara kaos kaki yang lama aku taruh di bawah tumpuan kaki sepatu cap wedhus.


"Sini Nak !! Sama Om Mboys"
Perjalanan kembali dimulai pukul 09.00, setelah berdoa bersama di depan pondok kayu kami mempunyai yel baru yakni ”Sigung Bye-bye!!!” sebagai tanda penghormatan dan salam kenal buat teman sekaligus anak angkat kita yang baru. Kali ini medan yang harus kami lewati pada awal perjalanan berupa tanjakan, meskipun tidak separah tanjakan cinta di Gunung Semeru, namun tanjakan ini cukup membuat nafas ngos-ngosan. Dari ujung tanjakan kami dapat melihat padang luas sabana di Cikasur. 
Landasan Udara Masa Perang
 Selepas tanjakan, kami menjumpai Sabana lagi. Kebetulan saat itu tasku agak miring jadi perlu disetting ulang. Namun tanpa sengaja tali bagian bawah yang terletak di dekat punggung tiba-tiba putus, dengan penuh kesigapan Mboys mengganti sementara tali itu dengan potongan ban bekas sebagai pertolongan pertama. Perjalanan berlanjut lagi hingga kami sampai di hutan cemara dengan semak belukar yang tinggi dan padat. Tas aku setting lagi, namun kali ini lebih aku tekankan pada bagian atas, jadi berat tas lebih banyak di topang bagian pundak dan Tulang Scapula. Jalur ini merupakan jalur yang kadang menanjak dan menurun dengan semak yang tinggi dan banyak dijumpai tumbuhan Edelweis dengan tinggi sampai setara tinggi langit-langit kamar kos. Selepas jalur semak kami memasuki sabana kembali dengan medan yang sedikit menanjak. Selepas sabana kami masuk hutan kembali, mlipir sebuah bukit.
Jalur ini lebih dikenal dengan jalur brimob, sebab lewat area ini seperti sedang pendidikan militer dengan banyaknya pohon yang tumbang. Sehingga kami harus melangkah melewati banyak polisi tidur alami dan kadang-kadang harus merangkak berjalan di sela-sela batang. Di kanan jalan nampak sebuah tumbuhan yang mirip dengan kemangi, namun ukurannya lebih besar daripada kemangi yang biasa dibuat lalapan. Selepas hutan jalur brimob kami memasuki sabana lagi yang banyak didominasi oleh tanjakan. Di tengah-tengah jalur sabana kami dapat melihat bekas kotoran hewan. Termasuk kotoran carnivora mungkin macan, sebab berbentuk seperti kotoran kucing namun lebih banyak didominasi oleh bulu. Sisa bulu-bulu ayam hutan yang habis terkoyak juga kami jumpai. Cuaca yang makin panas dengan medan sabana membuat konsumsi air menjadi lebih banyak daripada perjalanan sebelumnya. Hanya Mboys yang terlihat tidak banyak minum, sebab ia sedang mempraktekan ilmu unta. 
Kiri Ada Jurang

Selepas sabana kami melewati jalur sempit dengan jurang cukup dalam pada bagian kiri jalan, sesekali kami menjumpai Rengas tumbuh di sini. Perjalanan serasa menyenangkan kalau menjumpai arbei yang tumbuh di kanan kiri jalan. Buah arbei yang matang dengan warna yang memerah cukup enak untuk dikonsumsi, sebagai asupan vitamin C. Rasanya asam bercampur manis. Jalur yang sempit dengan kiri jurang seperti tidak ada habisnya, setelah sampai pada tebing yang indah di kanan jalan aku yakin kalau tidak lama lagi kami akan tiba di Cikasur. Perjalanan menjadi lebih menegangkan setelah kami melewati jalanan mendatar di bawah tebing. Jurang yang menganga dengan banyak pepohonan di bawahnya sementara banyak pohon tumbang membuat kami harus lebih berhati-hati melangkahkan kaki. Dari atas kami dapat melihat satu keluarga besar monyet di sebuah pohon di bawah jurang, mereka bergelayutan dari satu dahan ke dahan yang lain seolah menyapa kedatangan kami. Jalan mendatar membuat kaki kiriku terasa sakit kembali hingga aku harus lebih memperlambat jalanku. Hingga kami sampai pada sebuah jalur menurun yang curam, dan sayup-sayup terdengar suara air yang mengalir. Tak salah lagi Cikasur sudah berada di depan mata. Danang dan Arif sudah berjalan lebih dahulu sementara aku dan Mboys berjalan pelan-pelan di belakang mereka. Sesampai di sebuah jalur turunan nan curam aku hanya bengong, sebab anak-anak sudah berjalan secepat kilat sampai di sungai begitu juga Mboys aku suruh berjalan lebih dahulu. Kakiku tidak bisa diajak kompromi semakin ngilu saat melangkah di jalur ini.

Dua tahun yang lalu, aku pernah jatuh di jalan menurun ini karena tanah yang aku jadikan tempat berpijak tiba-tiba pecah, tapi untung tidak sampai masuk jurang di kanan jalan. Melewati jalur menurun ini aku banyak berjalan dengan menggunakan pantat, sambil menahan rasa ngilu, anak-anak sudah sampai di bawah menyeberangi sungai dan menaruh tas mereka di dekat pondok kayu. Mboys dan Danang berteriak dari bawah agar aku segera menyusul, begitu sampai di sebuah batang pohon tumbang yang membujur di jalan tersebut, tiba-tiba Ups! Aku jatuh terpeleset akibat keseimbangan yang mulai terganggu dan sepatu yang tak berdaya menahan beban tubuhku. Sesampainya di sungai Danang membantuku berjalan menyusuri jembatan dari batu yang di tumpuk. Setelah melepas tas, akhirnya kami cangkrukan di dalam pondok kayu sekalian masak mie campur sayur buat ransum ke puncak hari itu juga. Aku berjalan sendiri ke atas untuk mencari semak yang cocok buat persembunyian tas carrier selama perjalanan ke puncak. Rencananya setelah makan siang kami langsung ke puncak Argopuro untuk menikmati matahari tenggelam dan menuju puncak Rengganis pada dini hari untuk menikmati matahari terbit.
Setelah makan dan berbenah buat menuju ke puncak, kami berjalan buat menyembunyikan tas di semak yang telah ku pilih dan tidak jauh dari tempatku membuat tenda dua tahun yang lalu. Setelah menumpuk masing-masing tas lalu kami membuat kamuflase dengan meletakan daun kering dan ranting setelah diberi lapisan jas hujan. Perjalanan menuju puncak di mulai, sekitar pukul 14:00 WIB kami berangkat. Hingga sampai pada batas akhir pathok putih yang dipasang pihak Perhutani dengan angka HM 155 medan yang kami lalui penuh dengan tanjakan. Selepas itu kami masuk sabana, namun lebih kecil dengan edelweis yang tumbuh di kanan kiri jalan.
 
Lurus Puncak Argo, Kiri Puncak Rengganis

Hingga sampai di kawasan rawa embik, aku menawarkan pada teman-teman yang ingin mengisi air bisa mengambil di sungai kecil yang berada di bawah alun-alun lonceng. Perjalanan berlanjut dengan medan percampuran antara sabana dan hutan yang didominasi oleh tumbuhan cemara. Entah berapa bukit yang kami lewati saat itu, setiap kaki melangkah tak peduli tanjakan yang curam bersatu dalam tekad untuk segera menginjakan kaki di puncak Argopuro. Medan penuh tanjakan membuatku terasa segar kembali, melupakan ngilu kaki beberapa jam yang lalu. Aku mengambil posisi di depan, dan sesekali menggoda Danang supaya tidak jenuh dalam perjalanan. Karena Aku, Mboys dan Arif sudah pernah ke Argopuro sementara Danang belum sama sekali. Kami bermain ospek-ospekan dengan obyek penderita satu orang yakni Danang. Satu harga mati junior harus menurut dan mematuhi semua kata senior. Akhirnya kami sampai di puncak bayangan yakni jalan pertigaan sisi kiri menuju puncak Rengganis sedangkan sisi yang kanan menuju puncak Widodaren Argopuro.
Bau belerang khas puncak telah tercium sebelum kami sampai di kawasan ini. Kami memilih jalur yang ke arah kanan, artinya ke puncak Widodaren, meskipun jalurnya telah dibarikade oleh batu dan ranting membentuk tanda silang kami tetap berangkat. Sebuah bukit kecil yang didominasi tumbuhan cemara berdiri di depan, pengalaman pertama kali menuju puncak I Argopuro. Begitu masuk kawasan penuh cemara tersebut, nampak di depan mata jalur berkelok-kelok di antara rerimbunan cemara dan edelweis. Sebuah tali biru menjadi panduan kami untuk mengikuti jalur menuju ke pundak. Tanjakan yang tidak ada habisnya cukup menguras tenaga, saat itu posisiku berada paling depan, hingga pada akhirnya sampai juga di ujung tanjakan, kemudian aku menoleh kanan kiri dan menemukan tulisan PUNCAK dari cat warna merah  di atas sebuah batu persegi yang diletakkan paling ujung. Puji Tuhan! Akhirnya aku sampai juga di puncak tepat pada pukul 16.30, setelah perjalanan lima hari. Segera aku sujud syukur sebagai ekspresi dan apresiasi atas salah satu kenikmatan dari sebuah pendakian. Sebuah barang spesial dalam tas roti kukeluarkan, sekaleng leccy dan empat buah coklat koin. 
Menjelang Pesta Leccy di Puncak Widodaren

Beberapa saat kemudian, muncul Danang yang disusul oleh Mboys dan Arif. Kami semua bergembira bersama dengan ekspresi masing-masing, mulai dari teriak histeris sampai sujud syukur. Semua lelah dan keringat yang bercucuran, perjuangan melewati medan tanjakan sampai malam mencekam di Cikasur terbayar sudah di tempat ini. Sebelum pesta Leccy tak lupa aku meminta Mboys supaya mencukur sedikit bagian belakang rambutku (Tahalul). Tak lupa aku keliling-kelilling di sekitar puncak dan baru kali ini naik gunung dengan puncak yang banyak pepohonan. Dari sisi timur melalui sisi-sisi cemara nampak jelas terlihat puncak Rengganis. Sementara pada sisi sebelah barat terdapat batu yang menyerupai umpak lingga yoni, dan ada potongan rambut yang ditaruh dalam kaleng rokok. Tak lupa potongan rambut yang habis dipotong Mboys juga aku gabungin jadi satu. Selain itu, ada secarik kertas yang berisi puisi atau lebih tepatnya curahan hati. Dari kata-katanya kelihatan seperti seorang lelaki yang terobsesi oleh seorang wanita yang sangat dicintainya. Udara di puncak cukup dingin, sehingga aku segera merapatkan pakaianku, sembari mengadakan cek ulang senter sebab dipastikan dalam perjalanan ke Cisentor dalam gelap.

Pesta leccy tiba, setelah berfoto ria dekat batu berundak di puncak, kaleng leccy ku ambil dan kuberikan kesempatan kepada Danang untuk menjadi orang yang pertama membuka tutup kaleng Leccy. Begitu Leccy terbuka kami bersorak kegirangan, seperti tahanan perang yang diberi makan enak pada hari pembebasannya. Segera sendok kukeluarkan dan kami satu persatu secara bergilir menikmati Leccy yang manis dan segar walau tanpa lemari pendingin. Udara semakin dingin dan kami mengumpulkan kayu untuk membuat api unggun kecil-kecilan. Sambil menunggu momen matahari yang semakin ke barat, kami duduk-duduk dekat api unggun, sinar matahari sore yang masuk melalui sela-sela daun cemara memberikan pemandangan yang menakjubkan. Aku mengambil batu kecil sebagai tanda kenang-kenangan sekaligus kangen-kangenan. Setelah puas dipuncak kami memutuskan untuk kembali menuju Cisentor selepas matahari kembali ke peraduan. Saat itu mboys melihat pukul 17.45 kita turun dari puncak.
Medan menuruni tanjakan membuat kakiku kembali ngilu, jadi aku berjalan agak pelan berpegangan pada pohon atau batu jika menjumpai turunan yang curam. Langit bertambah gelap dan senter sudah siap di tangan. Selepas ujung tanjakan, Mboys mengatakan padaku kalau dia mengalami dejavu, ia bilang pernah mimpi pernah lewat daerah tersebut pada waktu dan suasana yang sama. Wah berarti pendakian kami kali ini memang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.
Dengan ditemani sinar rembulan kami berjalan beriringan, dengan senter menyala di tangan. Tak lupa aku membawa tongkat kecilku yang aku temukan di tengah sabana selepas berangkat dari Cisentor. Rerimbunan Edelweis kami lewati dengan Arif sebagai penunjuk jalan (sekaligus umpan buat Aum!! –red-). Hingga saat kami berjalan menyusuri jalanan sempit yang mlipir bukit tiba-tiba terdengar seperti suara serigala dari sisi tebing di atasnya. Spontan tongkatku pegang erat-erat dan kami agak mempercepat langkah kaki, tak peduli kaki sakit aku melebarkan jangkauan kaki, dengan harapan supaya segera keluar dari tempat yang begitu mencekam ini. Di tengah perjalanan Arif mengeluh kalau paha dan kakinya sakit, sehingga kami memperlambat jalan dan kadang istirahat buat menata tali sepatu atau sekadar makan gula merah. Langit cerah malam ini, membuat bintang-bintang bersinar terang, pemandangan astronomis yang berbeda kalau kita melihat bintang dari kampung halaman.
Pada saat kami berhenti di jalur yang penuh semak, tanpa sengaja aku salah pegang, maksud hati ingin pegang barang di kanan jalan ternyata yang kupegang batang arbei yang berduri dan kebetulan tumbuh melingkat di batang yang lain. Untung tidak terlalu dalam dan hanya lecet sedikit. Berbeda dengan kejadian dua bulan yang lalu saat aku disuruh Mantili pasang spanduk di sekitar daerah ruko Galaxy, pohon asam londo aku panjat dan hasilnya seluruh tangan luka-luka bahkan banyak duri yang masih menancap sampai beberapa jam (tapi gak popo sing penting dibayari iso gawe tuku carrier).
Ketika kami tiba di area menjelang rawa embik, sebuah ayam hutan sempat mengejutkan kami. Dari rerimbunan Edelweis di kanan jalan ayam itu berlari sambil terbang dengan penuh kepanikan. Begitu juga kami juga dibuat panik oleh ayam tersebut. Jadi malam itu ada empat orang dan satu ayam hutan yang sedang panik J. Pada saat menuruni puncak juga terdegar lolongan anjing hutan, teman-teman menyebutnya asu mbaong, spontan langkah perjalanan menuruni puncak semakin menggila dan tega-teganya meninggalkan orang kecil di belakang sendiri karena kalah jangkauan langkah kaki. Sambil derap langkah yang cepat akupun mempercepat langkah agar tidak ketinggalan dengan teman-teman yang punya kelebihan postur tubuh.
Pukul 19:40 WIB kami sampai di Cisentor, setelah mengambil tas masing-masing dari bungker, kami bergegas menuju pondok kayu. Ternyata disebelah pondok kayu sudah berdiri dua tenda, wah berarti rombongan kami tidak sendiri malam ini. Setelah mengucapkan salam kami sempat berbincang-bincang dengan penghuni tenda yang enggan keluar dari persembunyiannya. Mereka rombongan dari Jakarta tepatnya Mapala UIN Jakarta. Berangkat menuju Cisentor dari Bremi, pantes aja mereka bilang ketemuan besok pagi aja pasti sangat capek. Kami langsung bagi tugas, aku mencari kayu, Danang dan Mboys mendirikan tenda dan Arif masak. Malam itu benar-benar malam yang kacau, udara dingin dan tenda yang sudah diajak kompromi untuk berdiri (kami mendirikan satu tenda supaya kalau berangkat ke puncak Rengganis pada dini hari lebih efektif dan efisien) membuat segala bentuk cacian dan umpatan bergemuruh seantero Cisentor. Makan malam tersaji dan kami cepat-cepat makan karena sudah tidak tahan dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Setelah itu kami tidur berempat dalam tenda trapesium yang mirip gubuk reot PSK rel kereta api Gubeng seng. BERSAMBUNG ke bagian V