Advertisment

Thursday, November 24, 2016

Dua tahun yang Luar Biasa

Tepat pada tanggal 27 Juli 2016 Presiden Jokowi melakukan reshuffle kabinet. Tanggal yang sama dengan keputusan Presiden Soekarno saat mengeluarkan dekrit pada tahun 1959. Reshuffle sebuah istilah yang umum untuk otak atik gathuk pejabat negara. Ibarat memutar mp3 ada proses pemilihan acak yang berulang, begitu definisi ngawur saya. 

Pada awal 2015 saya merasakan bagaimana rasanya kena 'reshuffle', saat masih menjadi pengajar luar biasa di salah satu kampus negeri. Jika para menteri kena reshuffle melalui prosedur administrasi yang protokoler, mendapat pemberitahuan formal dan seterusnya, saya mendapatkannya hanya dengan telepon. Sebuah telepon sederhana dan datar dari suara di seberang sana, namun sangat menyentuh dengan pukulan yang telak. "Mas untuk semester depan, sampean tidak dapat mendapat mata kuliah untuk diampuh dikarenakan bla bla bla". Apalah artinya bertanya balik jika segala alasan tidak diterima dan saat itu beberapa hari menjelang akhir masa studi S2 dan belum lagi sudah terlanjur menyiapkan RKPPS beserta buku ajar dan metode praktik lapangan termutakhir. 
Awal mulanya di bulan Juli 2012
Gambar di atas menjadi sebuah pengingat yang tidak pernah saya lupakan. Dari kegembiraan yang meluap saat mendapat tawaran untuk bisa menyalurkan ilmu dan adanya kesempatan untuk melanjutkan mencari ilmu yang lebih banyak juga. Semua asa, cita dan pengharapan sudah terfokus di sana. Tidak masalah jika mengajar sambil menempuh perjalanan antar provinsi setiap minggunya. Setelah melewati segala proses administratif yang tertib akhirnya saya dapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah lagi sambil mengajar. Menjadi pengajar Luar Biasa. Perjalanan luar kota yang menjadi makanan tiap rabu berangkat naik bus malam dan kembali lagi pada kamis malam, antara Jogja-Malang dan Malang Jogja. Seorang teman pernah bertanya: "Kamu yakin dengan sepak terjangmu ini akan mendapat apresiasi yang baik dari sana?" ketika mendapat pertanyaan itu saya hanya tersenyum sembari berkata pelan: "untuk ilmu, perlu sedikit rekoso". No Pain no gain, kata orang barat. Saya merasa tidak sendiri karena sebelum saya bergabung, sudah ada seorang teman yang tidak kalah atraktifnya, menempuh perjalanan Malang-Jakarta pp tiap minggu via kereta ekonomi karena mengajar dan sekolah pula. Dari situlah awal kemantapan hati saya. Tidak hanya itu, ada yang pernah bilang untuk sepenuhnya membantu mbabat alas karena nanti akan ada kiriman buku sebanyak satu kontainer dari Profesor di Jerman. Ada yang bilang untuk biaya perjalanan akan diganti dan diberi janji kalau uang kuliah akan disauri oleh fakultas. Semangat semakin menggebu-nggebu walaupun setelah itu tahu kalau itu hanya wacana semu. 
Waktu demi waktu terus terlampaui, perjalanan mingguan yang lakukan tanpa mengenal kantong kosong dan capeknya bokong (Jogja-Malang jika jalanan lancar dapat ditempuh dengan normal dan selamat selama 9-10 jam, jika macet atau gangguan bisa sampai 12 jam itu berlaku sama kalau lewat Surabaya terlebih dahulu dengan angkutan bus). Beberapa kali pergantian semester terjadi perubahan dan penyesuaian hari karena harus kuliah dan ada kewajiban mencerdaskan anak bangsa di GO Jogja dan Kulon Progo. Segala capek perjalanan terbayar oleh antusias dan cerianya para peserta didik. 
Penumpang setia Lumba-lumba dengan mata Panda