Advertisment

Monday, December 4, 2017

Tips sukses mancing di spot pusat kota

Bagi anda yang melintasi jalanan tengah kota Surabaya utamanya yang dekat sungai, pasti pernah melihat orang yang sedang memancing. Ya merekalah para pemancing sejati, pemancing tengah kota. Urban fishing merupakan cara menikmati stike ikan di sungai yang membelah kota. Aktivitas ini bukan barang aneh. Memancing itu aktivitas universal. Dimana mana di atas dunia banyak orang memegang joran. Dari ujung dunia di kutub sampai membuka pedestrian untuk memancing lele dan ikan bethik.

Di suatu pekan akhir bulan November, saya ada kesempatan untuk memancing di tengah kota. Spot depan Grand City di Jalan Gubeng Pojok Surabaya. Beberapa waktu sebelumnya setiap pulang mengajar selalu melihat aktivitas memancing malam. Ada yang terget udang galah ada yang target ikan biasa. Semua fokus. Apalagi kalau ada kabar telah ada pelepasan lele, pemancing semakin sesak merapat. Kali ini saya menargetkan ikan lele dengan umpan menje (sejenis kecoa, yang disebut cere dan dapat dibeli di penjual umpan tidak jauh dari pintu air Jagir Wonokromo).
Umpan ini sangat praktis dan awet bahkan bisa beranak pinak, asal tidak lupa dikontrol rumah dan nutrisinya.
Dengan berbekal joran Tornado model antena, reel Carbon ukuran 1000. Pencarian ikan yang 'tenggelam' mulai dilakukan. Sementara pemancing sebelah, berumpan cacing dan berkepala gundul (pemancing yang biasanya mancing di jembatan rolak Gunungsari dan pindah haluan memancing di kalimas). Si gundul sudah omset beberapa ikan keting. Memanfaatkan air yang keluar deras dari mall yang dulu ketika awal masuk kuliah tahun 2003 masih berupa hutan kota.
Dengan modal prinsip sing penting yakin, akhirnya setelah beberapa lemparan dan pergantian umpan, terasa ujung joran bergetar. Secara sigap langsung memegang joran dan menggulung reel. Terasa ada ikan yang telah menelan mentah-mentah umpan menje. Spekulasi awal yang menarik senar adalah ikan lele, namun ada sesuatu yang sangat tidak asing. Pergerakan yang sangat familier. Begitun reel terus ditarik, terlihat putih-putih kelabu dengan ujung sirip berwarna merah. Ya ikan bader abang (derbang) penghuni kalimas. Awalnya tidak percaya jika ada derbang di kalimas yang membelah tengah kota. Biasanya para pemancing hanya berburu ikan lele, mujair dan lele. Setelah membuktikan sendiri akhirnya tahu jika derbang cukup banyak di sungai ini. Semoga sampai kapanpun ekosistem di sungai kota selalu terjaga.

Jika anda mencoba memancing di sungai tengah kota ada beberapa tips nyaman mancing:
1. Pastikan kendaraan anda terpantau aman dan tidak menganggu kenyamanan para pengguna jalan lainnya.
2. Cari waktunya yang tepat. Adakala pelepasan ikan lele secara besar-besaran adakala musim hujan mendatangkan ikan yang kelaparan (nggolek gorengan).
3. Persiapkan umpan dan piranti dengan baik, spot dalam kota tidak sebebas bermotor di daerah pinggiran, jika harus pindah tempat kadang harus memutar jauh.
4. Jika anda termasuk orang yang pemalu, gunakan penyamaran yang baik agar tetangga, rekan kerja dan kawan anda tidak mengenali, jika perlu gunakan topeng yang keren saat mancing.
5. Jika memancing dipinggir jalan, tengok lingkungan sekitar saat akan melempar kail ke tengah sungai, jangan sampai tersangkut pengendara motor, becak, bakul tahu tek, gerobak sego goreng, satpol pp patroli atau bahkan mobil militer.
6. Ketika area lempar sempit dan dirasa mengganggu pengguna jalan lain, tidak ada salahnya menggunakan tegeg atau pancing bebekan untuk meminimalisir resiko tersangkut kabel listrik atau orang lewat.
7. Perhatikan rambu disekitar anda. Jika ada tiang listrik atau instalasi listrik bertanda bahaya, kecuali jika ingin jadi electricman.