Advertisment

Wednesday, June 11, 2014

Ekspedisi Sigung Bye-Bye!! (Bagian 6-Habis)

Episode Sebelumnya di Bagian V
Day VII (16 Agustus 2008) – Danau Taman Hidup “Last Day”-
Pagi hari di Danau Taman Hidup, serasa bangun pagi di kamar kos lama, tidak ada burung berkicau maupun kokok ayam hutan sebab semua suara tertutup oleh aktivitas dan celoteh anak-anak peserta pendakian bersama. Perut terasa lapar, apalagi membayangkan sajian spesial buat curhat tadi malam, yakni Kentang rebus yang dipadu dengan saos sambal terus di makan di tepi danau di tengah bulan purnama di bawah taburan bintang, pengalaman makan malam yang langkah. 

Mentari Pagi di Danau Taman Hidup

Segala model tenda ada di sini, dari yang paling sederhana sampai model yang paling besar yang bisa memuat sampai 10 orang. Salah satu tenda yang cukup berbeda adalah tenda yang berbentuk seperti keong. Sagera aku berjalan-jalan ke tepi danau untuk mencuci muka dan mengambil air, mumpung belum semua penghuni base camp ini terbangun. Ku lihat ada orang yang lagi memasang pancing tarikan di danau, buat lauk barangkali. Dua hal yang menyita perhatianku adalah cewek-cewek peserta pendakian bersama (maklum sudah satu minggu di hutan tidak pernah bertemu dengan cewek kecuali monyet betina dan ayam hutan betina) dan seorang pria gondrong yang mengenakan baju penerbang lengkap dengan sepatu hak tinggi. Perawakannya mirip Jarwo anggota band Naif. Kebetulan ia ke danau buat mengambil air dan aku langsung menanyakan pada orang itu, dimana ia menyembunyikan pesawatnya. Bersama Mboys aku rasan-rasan anak-anak Antro sekarang yang berambut gondrong, tak lama setelah itu ada seseorang di samping kami yang bertanya apakah kami dari Antro. Ternyata orang itu adalah Adik kandung dari Mas Andik Rosan Antro angkatan 2001 asli Sumobito Jombang, yang kuliah di jurusan Geografi IPS Unesa. Kami masak bersama menghabiskan sisa logistik yang masih tersisa, sebab ini adalah acara masak untuk yang terakhir kali. Pesta Cocacola yang rencananya kami laksanakan di Puncak Rengganis aku alihkan di danau Taman hidup. Tugasku sekarang adalah menjadi abdi dalem yakni pembawa payung untuk melindungi juru masak kesayangan Arif dari sengatan matahari supaya ia bisa lebih konsentrasi membuat sarapan untuk kami. Yang membuat suasana yang seharusnya nyaman di taman hidup menjadi tidak nyaman adalah ulah beberapa orang peserta pendakian bersama yang dengan sengaja menyalahkan petasan model sreng dor. Suara ledakan yang menggelegar menggema masuk ke dalam hutan. Semoga oknum yang melakukan perbuatan bodoh ini tidak jadi mangsa macan kalau masuk hutan nanti. Setelah sarapan dan berkemas-kemas kami pesta sejenak dengan cocacola. Tak lupa sisa logistik aku berikan buat tetangga, gula merah untuk tenda tetangga sementara Adik Mas Andik aku beri dua bungkus marimas. Tak lupa kami juga berfoto bersama. Rombongan pendakian bersama meninggalkan bumi perkemahan Taman Hidup satu persatu, sementara kami malah menuju ke danau. Sehingga salah satu rombongan paling ujung (yang meninggalkan seonggok sampah) bertanya tujuan kami, Arif menjelaskan kalau kami akan menunggu kapal di tepi dana, 
Bersama Adiknya Mas Andik Rosanto


Perjalanan menuju Bremi dimulai pada pukul 09.00 berlanjut seiring sepinya kawasan Danau Taman Hidup, kali ini aku yang memimpin teman-teman untuk berdoa demi keselamatan bersama. Medan yang kami lalui berbentuk jalanan yang menurun bahkan bisa dikatakan sebagai jalur yang didominasi turunan curam. Meskipun jalan menurun tapi sesekali kami harus melewati medan ekstrim yang memerlukan kekompakan antara tangan dan kaki. Ketahanan alas kaki di uji di medan ini. Seperti biasanya formasi kami, Arif berada di depan kemudian Aku, Danang dan Mboys berada paling belakang. Banyaknya jalur kompasan membuatku iseng-iseng mencoba, jalur non konvensional seperti ini konon dibuat oleh dua kriteria pendaki yakni yang kreatif dan yang frustasi karena tanjakan yang cukup menguras tenaga. Baik fisik maupun mental. 
Danang Masuk Selokan Season One
Ketika sampai di sebuah persimpangan, aku memilih jalur kompas yang berada di sebelah kiri sementara yang lain mengambil jalan yang sebelah kanan. Begitu sampai pada titik pertemuan jalan tersebut, tiba-tiba Mboys berteriak menyuruh kami naik kembali. Usut punya usut ternyata Danang jatuh terpelanting mengenaskan dengan kepala di bawah dan salah satu tangan masuk ke dalam saluran air. Aku tak kuasa menahan tawa begitu juga Arif. Sementara Mboys yang berdiri tepat di belakangnya bukannya bergegas menolong, namun segera mengambil kamera untuk mengabadikan momen yang cukup menggelikan saat itu. Perutku sampai sakit karena tidak sanggup menahan tawa akibat ulah Danang yang menggemaskan. Kami istirahat sejenak di tempat itu untuk olah TKP, sementara aku dan Arif tak kuasa untuk melihat muka Danang, begitu melirik mukanya saja langsung ingin tertawa lepas. Peristiwa jatuhnya Danang terulang untuk yang kedua kalinya dengan lokasi yang berbeda. Kalau kejatuhan Danang yang pertama karena terpeleset, sedangkan untuk kecelakaan yang kedua diakibatkan karena ia menginjak akar kecil dan akar tersebut tiba-tiba putus sehingga ia terpelanting. Mboys mencari akar yang telah membuat Danang celaka, setelah menemukan akar tersebut Mboys langsung berkata ”nakal banget sih!”.
Sinyal seluler sudah masuk sampai daerah ini, sesekali aku mencek Hpku sapa tahu ada SMS yang penting. Perjalanan terus berlanjut, entah berapa jalan turunan yang telah kami lewati. Sesekali kami menjumpai monyet yang sedang bergelantungan di pohon, begitu juga Mboys ia mencium suatu bau yang aneh dalam perjalanan di tengah hutan. Setelah ku tanya ternyata tadi ia mencium bau seperti aroma kemenyan. Hi......!
Begitu masuk jalur hutan mahoni, medan yang kami lalui lebih beradab daripada medan sebelumnya, jalanan datar dan sedikit menurun semakin membuat kami semangat untuk segera sampai menuju Bremi. Selepas hutan mahoni kami memasuki ladang penduduk. Banyak pohon waru dengan ketinggian spektakuler tumbuh di sini. Ingat waru aku ingat masa kecil, sebelah rumahku yang berbatasan dengan kuburan banyak ditumbuhi pohon waru. Sepulang sekolah aku sering manjat batang waru atau mengambil batang kecilnya untuk dijadikan pedang-pedangan. Sepanjang perjalanan aku menjumpai banyak bunga waru yang berjatuhan di tanah, aku mengambil satu satu kemudian kumasukkan tas roti. Siapa tahu berguna nanti setelah sampai di Surabaya. Begitu sampai di pertigaan jalan yang ada pos seperti menara pantau sipir penjara, kami istirahat sejenak, sembari menentukan jalur mana yang di antara persimpangan tersebut yang menjadi jalan paling cepat menuju Bremi.
Aku mengadakan orientasi medan dengan berjalan menyusuri dua jalur di persimpangan tersebut. Setelah itu aku yakin kalau jalur yang benar adalah yang terletak di sebelah kanan. Sepanjang jalur banyak dijumpai perkebunan heterogen segala jenis tanaman ada di sana mulai dari cabe merah, tomat, wortel, jagung sampai cengkeh dibudidayakan di sini. Sampai di kawasan perkampungan seorang Ibu yang sedang menggendong balita mempersilahkan kami untuk singgah sejenak di rumahnya namun kami memilih untuk melanjutkan perjalanan. Kalau tidak salah, dua tahun yang lalu rumah tersebut adalah rumah yang masih dalam proses pembangunan bahkan seingatku bersama rombongan Gempa bsq kami singgah dan makan camilan di rumah tersebut. Sungguh sebuah keramahtamahan yang begitu indah. Tak terasa akhirnya kami sampai di kantor Polisi (Polsek) Krucil pukul 15.00 setelah sebelumnya mendapat tanjakan ujian mental dan fisik untuk yang terakhir kalinya.   
 
Canteng Bersatu

Sesampainya di kantor polisi kami istirahat sejenak sambil melemaskan otot. Akhirnya kami bisa kembali menuju peradaban. Kami cangkruk di sekitar tempat parkir petugas Polsek. Kemudian bersiap-siap untuk membersihkan diri secara bergantian. Mboys yang telah beberapa lama kehilangan sikat giginya segera membeli sikat gigi di warung depan Polsek. Karena posturnya yang kecil, ia dikira salah seorang peserta kemah SMP yang kebetulan saat itu rombongannya lewat di depan kantor polisi J.
Setelah mandi kami bersiap-siap untuk makan, untuk pilihan tempat makan aku mengusulkan untuk mencari makan di warungnya Bu Rusdi, yang terletak tidak jauh dari kantor polisi. Dua tahun yang lalu, aku makan di warung tersebut dan banyak mendapat cerita tentang pendaki-pendaki yang meninggal di gunung termasuk cerita tentang pencarian Si Vincent. Rumah Bu Rusdi yang sekarang bukan kayu seperti dulu, namun sudah terbuat dari tembok. Hanya saja yang aku sayangkan, kumpulan stiker peninggalan teman-teman pendaki sudah tidak dijumpai di warung ini. Kami makan nasi campur dan minum teh hangat sementara Arif memesan segelas kopi.
Kebetulan saat itu, hari setor susu jadi banyak kami jumpai Ibu-ibu maupun Bapak yang lalu lalang menuju dan dari Pos Penampungan Susu KUD Krucil. Mboys sempat memotret seorang Ibu tua yang sedang memerah susu di sebuah kandang yang tidak jauh dari kantor polisi. Kami sudah ditunggu oleh bapak sopir angkutan pedesaan menuju Pajarakan yang dikenai Rp 24.000 untuk 4 orang. Dalam perjalanan meninggalkan desa Krucil kami terus melihat rentetang pegunungan Hyang Timur (Argopuro) yang membentang luas. Selama berada di angkutan desa tersebut, kami selalu mengenang bagaimana Danang mengalami banyak depresi karena jauhnya perjalanan yang berbeda dengan Gunung lain. Teman-teman pun berkata arek-arek iki lho gendeng ngapain ke Gunung capek-capek, ngentekno duit.
Sampai di pertigaan Pajarakan, kami langsung menuju jalan utama Anyer-Panarukan untuk menunggu bus menuju Surabaya, setelah menunggu 20 menit bus PO Anggun Krida datang, untuk 4 orang total dikenai biaya Rp76.000 atau setiap orang Rp19.000,-. Selama perjalanan menuju Surabaya, kita dihiasi oleh merahnya langit dari sunset..hmm Subhanallah betapa indahnya ciptaan Allah. Tak terasa perjalanan kurang lebih 2,5 jam kita sampai di terminal bungurasih kira-kira jam 21.00. turun dari bus antar kota kita melanjutkan untuk menuju ke terminal bus kota damri tujuan Perak atau P1 dengan membayar Rp12.000 untuk 4 orang. Kita turun di depan TP yang bertepatan ada acara konser di depan McD Basrah. Kita jalan memutar sampai di depan SMU Trimurti untuk melanjutkan dengan naik bemo E menuju Jojoran dengan biaya Rp12.000 untuk 4 orang. Turun di depan gang Mojo kita langsung menuju warung tempe penyet untuk merasakan nikmatnya masakan peradaban J hmm lekker.. perut kenyang siap berjalan lagi menuju kos-kosan Roykan dan sampailah kita pukul 22.30 dengan selamat Alhamdulillah dan disambut teman-teman kos. Sampai jumpa lagi Argopuro.. pesonamu akan selalu terpancar abadi dalam sanubari.The End.
 
Bis Bald Argopuroberg


Special Thank to:
Tuhan Yang Maha Kuasa, Keluarga Tercinta, kawan-kawan seperjuangan SigungPala (Mboys, Arif, Danang), Ari Katamso (nggak papa lain waktu ada pendakian bersama kami kembali), I-Tutor.net Galaxy (gaji terakhir yang menyenangkan), Sepeda Pancal United (buat latihan fisik dan membantu nabung beli carrier), Caesar Hartini Handycraf (terima kasih buat permen Kiss dan uang sakunya), Pak Suyono (pathok jalurnya masih kurang banyak Pak mungkin sampai HM 260sekian), Emi Fatmawati (goyang Dewi Persikmu selalu melekat di hati), Malia Manyar (don’t worry), Andik Lilis (terima kasih telah menjaga Kamar kosku bersama Katamso), Anak-anak KPLA Unair (jalur Bremi PP memang sip!!), Pak Tani dan Bu Tani Baderan – Bremi, Bapak Polisi (Polsek Besuki dan Polsek Krucil), Mas Jangkung Prio Blitar, Gempa bsq, toko outdoor Bratang (buat sleeping bag dan cover carrierku), Southmerapi, Eiger (matras dan sandal Catalys memang nyaman di jalur turunan), pemilik ban bekas di kamar kos (makasih tidak membuat kami harus antri berjam-jam demi seliter minyak tanah), Vincent (who are you?), anak kami Sigung Cikasur (I Miss You Bibeh), Katul fotokopi Corp, Kerabat Antro Unair yang lebih dahulu berangkat, Reza Gundul, Mas Negro UGM, Swalayan Bilka (sumber logistik paling lengkap)…dan semua pihak yang tidak disebutkan satu persatu…. Vielen Dank! Matur Suwun! #