Advertisment

Wednesday, June 11, 2014

Ekspedisi Sigung Bye-Bye!! (Bagian 3)


Episode sebelumnya di bagian II 
Day IV (13 Agustus 2008) – Pos Mata Air I
Pagi hari pun tiba, dengan tidur yang tidak tenang kulihat jam sudah menunjukkan pukul 04.50, spontan teman-teman langsung kubangunkan.. oiii... wes isuk shubuh.. ayo tangi.. dan alhamdulillah akhirnya mereka menjawab. Roykan pun mulai menggeliat dari sleeping bagnya. Langsung saja aku bertanya ke Roykan, ”Kan,mambengi iku opo?” dia menjawab ”iku sing due panggonan iki mungkin lagi ngecek omahe”. Aku pun menyadari hal tersebut..pantes aja..
Sekitar pukul 5 pagi Roykan sudah bangun dan segera mempersiapkan diri buat melanjutkan perjalanan. Saat itu, anak-anak sudah terbangun, kami semua keluar tenda untuk menikmati pemandangan dari tebing seberang yang sangat eksotis. Hamparan pohon besar di perbukitan dan tebing dengan air yang menyerupai air terjun mini menjadi pengalaman mata yang susah untuk dilupakan. Kami mengadakan kesepakatan untuk melanjutkan perjalanan menuju Cikasur pada pukul 08.00 tepat. Kesempatan buatku untuk mengambil air di bawah tidak kusia-siakan dengan sekalian mandi kecil, cuci muka dan pasang ’ranjau’ di bawah batu besar tidak jauh dari mata air. Sandal gunung Eiger yang aku beli di Gunung Agung Delta bersama Emi selepas gajian dua bulan yang lalu kuuji ketangguhannya di medan ini. Naik turun mengambil air dengan medan yang licin ternyata kaki tetap nyaman melangkah. Hal ini berbeda dengan dua tahun silam yang hanya memakai sandal japit, jalan selangkah jatuh bangunnya dua langkah J.Tidak lupa kami mengadakan absen semua barang bawaan termasuk logistik. Semua perlengkapan buat hidup di hutan dan ransum makanan di keluarkan dari tenda. Sebuah jas hujan di jadikan alas sebagai tempat perwakilan segala macam logistik dan alat elektronik yang kami bawa waktu itu. 
Monggo Dipilih
Setelah masakan untuk sarapan siap tersaji, beserta aneka macam pilihan minuman, kami makan pagi bersama. Salah satu minuman hangat yang paling kusuka adalah wedhang temulawak hangat, minuman herbal yang menyehatkan dan dapat merangsang nafsu makan. Kalau nafsu makan sudah besar, keinginan untuk makan jumbo besar pula otomatis logistik bisa cepat berkurang. Hal ini tentu saja meringankan beban tas carrier dan segala macam bentuk kaleng yang berat J. Saat itu aku mengambil air dari mata air bawah satu jerigen isi lima liter dan beberapa botol kosong bekas air mineral. Jerigen lima liter full air menjadi prioritas utamaku untuk dimasukkan ke dalam tas carrier. Jangan sampai selama perjalanan menuju Cikasur kehabisan air di tengah jalan.
 
Full Team Full Power

Perjalanan menuju Cikasur dimulai walaupun molor selama beberapa menit namun tidak menyurutkan semangat kami untuk menaklukkan tanjakan yang membentang sepanjang jalan. Setelah berdoa bersama, pukul 08.50 kami mulai berjalan beriringan menuju ’pangkalan’ Cikasur. Tanjakan yang tidak pernah ada habisnya membuat nasi dalam perut serasa mau kocar kacir. Beban carrier yang bertambah berat dari pada waktu berangkat, membuat nafasku semakin ngos-ngosan. Air lima liter plus dua botol besar penuh, logistik kaleng dan beras serta tenda kumpul jadi satu dalam tasku. Tapi semua pikiran buruk harus disingkirkan, pokoknya optimis akan sampai Cikasur sebelum gelap. Arif berjalan paling depan di susul Danang, sementara aku dan Mboys berada di belakang mereka.
Seandainya ada macan iseng yang mau makan kami saat itu, pasti sasaran empuk yang paling diprioritaskan adalah Arif. Alasannya selain badannya yang gedhe, punel penuh daging, posisinya juga berada di garis depan J. Medan dengan hutan lebat dan tanjakan yang tidak ada habis-habisnya membuat perjalanan ini begitu menyesakkan. Kami keseringan berhenti untuk ambil nafas dan mengumpulkan tenaga. Tapi untung saat itu, sisa turun hujan beberapa hari yang lalu masih membekas, sehingga jalanan yang biasanya penuh debu menjadi basah namun tidak terlalu licin. Orang jawa mengistilahkan sebagai jalanan yang nyemek-nyemek. Salah satu hal yang tidak bisa terlupakan saat itu adalah ketika di tengah perjalanan aku mencoba untuk mengatur nafas setelah melewati beberapa tanjakan.
Di kiri jalan ada sebuah kayu bekas tebangan orang yang teronggok membujur, aku menghapiri kayu tersebut dengan maksud ingin mendudukinya, tiba-tiba Krosak!! Beban di punggung yang membuat berat badanku dua kali lipat, aku kehilangan keseimbangan dan jatuh terbalik ke semak-semak. Untung saat itu hanya semak yang menjadi tumpuan tas dan badanku, coba kalau tebing atau jurang pasti tinggal riwayat. Mboys sempat mengabadikan momen menarik tersebut dengan kamera, sekilas aku seperti kecoa yang terbalik atau laksana kura-kura yang berusaha membalikkan tempurungnya ke atas.
Sesekali medan yang kami lalui penuh dengan bonus alias jalanan mendatar yang berkelok-kelok. Selepas hutan, jalur berubah menjadi jalur romantis dengan bunga putih di kanan kiri jalur, romantis namun tanjakannya tidak ketulungan. Pemandangan alam di perbukitan kanan kiri jalur yang kami lewati serasa menjadi obat pencegah rasa capek selama melewati rute ini. Sebuah kayu besar yang tergolek di sebelah kiri jalan, berbentuk seperti sofa masih berada pada tempatnya. Dua tahun yang lalu, aku pernah melihatnya namun kemudian Cuma numpang lewat saja. Mumpung ada kesempatan, aku duduk di kayu itu sambil mengisi ulang air ke dalam botol dotku. Rasanya seperti duduk di sofa meskipun tidak empuk, duduk berdua bersanding dengan Danang laksana seperti pengantin baru.
Perjalanan terus berlanjut, tanjakan demi tanjakan kami lewati, jalur yang paling membuat hati jengkel adalah jalan menurun yang curam, hati senang karena dapat bonus menarik, namun jika melihat jauh ke depan ternyata jalanan itu berbentuk seperti mangkuk. Bahagia yang berbuntut dengan rasa kesal. Di tengah perjalanan, terdapat sebuah jalan yang bercabang, dua pilihan yakni jalur resmi dan jalur tidak resmi. Aku memutuskan untuk mengambil jalur yang tidak resmi alias jalan kompas. Ternyata meskipun lebih menyingkat waktu namun medan dan tanjakannya membuatku berpikir dua kali untuk melewatinya kembali. Sampai pada ujung jalan kompas tersebut, anak-anak sudah menunggu dan kami beristirahat sejenak sambil makan roti gaban bawaanku. Tak terasa kami memasuki hutan kembali dan kali ini lebih lebat dari sebelumnya. Di tengah perjalanan aku melihat segerombolan kera hitam yang bergelantungan di sebuah pohon besar kanan jalan, kera-kera itu berpindah dari pohon ke pohon. Arif mencoba mengambil kameranya, namun kera tersebut susah untuk diabadikan, sedah begitu ketika kamera sudah di tangan untuk membidik mereka, ternyat mereka menghilang, namun ketika kamera tidak ada mereka bergelayutan. 
Menuju Cikasur

Perjalanan kali ini banyak didominasi oleh medan yang penuh bonus dan romantis. Aku mengambil beberapa bunga untuk sampel siapa tahu berguna bagi bisnis handycrafku. Pokoknya kalau Edelweiss sudah menjadi komitmen bersama untuk tidak mengambilnya, cukup hanya memandang dan menikmati bau bunganya saja. Perut sudah lapar lagi dan aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di jalanan yang seingatku pada dua tahun yang lalu pernah makan biskuat di bawah pohon. Tas Carrier ku bongkar dan mengambil nasting yang masih berisi sisa nasi tadi pagi. Sengaja aku sisakan buat ransum di tengah perjalanan. Hanya dengan lauk pilus Tic-Tac rasa udang panggang nasi dalam nasting tersebut habis.
Sementara itu cuaca yang berkabut membuat suhu menjadi dingin, segera anak-anak menyalahkan api unggun kecil-kecilan, sekaligus membakar sampah yang ada di sekitar tempat itu. Dari tempat ini jika melihat tebing di kanan bawah nampak hamparan perbukitan sabana, berarti alun-alun kecil sudah tidak jauh lagi. Dengan ditemani rintik hujan dari kabut kami terus berjalan sambil sesekali saling mengingatkan agar tidak terkena kontak langsung dengan Rengas alias Ri Jancukan yang tumbuh di sepanjang jalur tersebut. Salah satu daya tarik sekaligus hal yang membuat Gunung Argopuro berbeda dengan gunung yang lain adalah adanya tumbuhan berduri yang dapat menyengsarakan pendaki jika kena kulit, Ri Jancukan atau Rengas adalah momok selama melintas di jalur bersemak. Setelah melewati sebuah jalanan menurun akhirnya kami sampai di alun-alun kecil.
 
Alun - alun Kecil

Alun-alun kecil adalah sabana pertama yang akan ditemui pendaki Argopuro jika berangkat melalui Baderan, selanjutnya akan banyak sekali sabana yang membetang luas dengan pemandangan yang jarang dijumpai di gunung lainnya. Medan selanjutnya berupa sabana dengan jalur yang naik turun. Sepanjang jalur ini Edelweis sudah dapat dilihat. Kabut terus bergelayut mengikuti perjalanan kami. Setelah melewati beberapa tanjakan, kami masuk hutan kembali dengan vegetasi banyak pohon cemara. Tidak terasa kami berada di tempat pemberhentian selanjutnya yakni jambangan. Jambangan adalah nama daerah yang terletak di antara alun-alun kecil dan Cikasur. Berbentuk sebuah daerah datar dengan semak yang lebat di kanan kiri yang diapit oleh hutan cemara. Daerah ini dapat juga digunakan tempat untuk mendirikan tenda. Selepas jambangan medan yang kami lalui adalah jalur datar yang mlipir memutari sebuah bukit.
 Cuaca saat itu tidak mendukung, kabut tebal bahkan sampai berkondensasi dan mengakibatkan hujan rintik-rintik. Jarak pandang yang tidak terlalu jauh membuat kesempatan untuk melihat pemandangan jurang di kanan jalan tidak jadi terlaksana. Jalur yang datar juga membuat kami merasa jenuh. Namun kejenuhan oleh jalur datar hilang setelah kami sampai sebuah tikungan di mana terdapat Edelweis yang tinggi dan padat. Sayang kebakaran hutan di sebagian daerah itu membuat hutan edelweis yang seharusnya elok, menjadi gersang. Hamparan sabana membentang luas menanti kami di depan, sambil foto-foto kami terus berjalan melewati setapak demi setapak area sabana dengan tebing kiri yang penuh edelweis dan sebelah kanan lapangan yang membentang. Sekilas mirip seperti pemandangan alam di wallpaper windows yang baru saja di instal ulang, hanya saja warnanya di sini kuning kecoklatan dengan langit yang penuh kabut.
Sebuah jalur yang padat pepohonan dan semakin menurun kami lewati, ternyata ada sebuah jembatan kayu, jembatan ini mirip dengan jembatan kayu yang ada di jalur pendakian gunung Semeru. Selepas jembatan ini medan yang kami lalui berupa tanjakan dan jalan menurun yang rimbun oleh semak. Di ujung jalan menurun semak semakin rimbun, bahkan aku sampai merunduk untuk melewatinya. Sementara itu Mboys berjalan di belakangku sambil berkata ”Orang kecil berlindung di depan orang besar!”. Spontan aku menjawab ”habis ini ada orang besar yang menindas orang kecil!!” J. Kemudian kami memasuki kawasan sabana kembali, sementara itu kaki kiriku sudah tidak bisa diajak kompromi. Dengkul terasa nyeri jika harus melewati area yang menurun dan datar, namun kalau melewati tanjakan kaki tidak terasa sakit. Walau terasa perih semua rasa sakit aku singkirkan karena aku yakin Cikasur sudah tidak jauh lagi. Pada sabana selepas jembatan kami istirahat sejenak dan Arif menyempatkan diri untuk fotoria di rumput warna merah yang tumbuh melingkar di tengah sabana. Selain warna merah ada juga yang berwarna kuning. 
Arif dan Sabana

Perjalanan berlanjut lagi, aku yakin Cikasur sudah dekat. Dua bukit membentang di depan dan jalur sabana yang mendatar dan berkelok-kelok. Hingga pada sebuah tikungan ke arah kiri dan di sana berdiri dua pohon besar yang berjajar. Pohon itu berbeda dengan pohon-pohon yang lain, sekilas dari jauh seperti pohon asam yang tumbuh di antara pohon cemara. Dua pohon tersebut seperti gapura masuk ke Cikasur, dan di bawah batangnya nampak bekas api unggun dan kayu-kayu rontok. Akhirnya kami sampai di Cikasur pukul 16.00 setelah melihat sebuah bekas bangunan yang terbuat dari tembok, sementara dari arah kiri berdiri sebuah pondok kayu di tengah sabana dan sungai kecil yang penuh dengan selada air. 
Selamat Datang di Cikasur

Arif dan Danang berjalan lebih dahulu menuju pondok kayu Cikasur, sementara Aku dan Mboys mengikutinya dari belakang. Kakiku semakin sakit sehingga tertinggal jauh dari Arif dan Danang, rasa sakit sedikit terobati setelah berfotoria di jalanan menurun dekat sungai Selada Air. Lutut yang kesakitan berusaha aku tahan, agar terus bisa tahan jalan menyeberangi sungai dengan jembatan dari sebuah batang pohon dan jalur tanjakan yang cukup menguras tenaga. Akhirnya sampai juga di pondok kayu, kemudian kami sepakat untuk mendirikan tenda di antara puing-puing bangunan yang konon bekas pabrik pengalengan daging rusa dan ruang komando Jepang pada masa perang Pasifik.
Konon Dulu Bekas Markas

Setelah mendirikan tenda, aku jalan-jalan sendirian melintasi puing-puing tersebut,setelah mengadakan penelusuran aku berasumsi bahwa pada masa lalu bangunan ini seperti ruang bersekat-sekat dan kemungkinan tebuat dari kayu pada dinding dan atapnya. Sebuah pohon tumbang menjadi batas akhir dari puing-puing tersebut, aku sempat naik pohon tumbang tersebut dan berjalan di atasnya. Kemudian pandanganku mengarah pada puing yang paling ujung, nampak sisa tegel atau lantai dari puing tersebut di antara rerumputan. Setelah turun aku mengamati lantai itu, dan mengambil sebuah potongan lantai yang berwarna merah bata tersebut. Dilihat dari bentuk, tekstur dan warna potongan lantai tersebut nampak seperti lantai yang ada di SMA komplek Malang yang bertempat di gedung tua dekat dengan alun-alun. Aku balik lagi untuk menyiapkan makan malam agar bisa tidur nyenyak di base camp ’paling asri’ ini. Menu masakan kali ini adalah sayur sop dan mie sayur. Untuk pilihan minum terdiri dari kopi jahe, teh anget, nutrisari anget dan energen. Saat makan pun tiba kami doa bersama terus makan di ruang sebelah karena memang banyak pilihan ruang di Cikasur, namun ketika mencicipi sop buatanku..Ups! asin sekali. Ternyata aku kebanyakan membubuhkan garam dan Masako. Hasilnya masakanku kali ini kalah laris dengan mie instan yang dicampur dengan sawi. Sisa asinan sop kemudian kami buang di tempat begitu juga sisa sawi dan mie yang ada di nasting. Cuaca semakin dingin dan kabut kadang lewat seiring gelapnya hari. Saat itu kebetulan sedang padhang bulan, namun tidak bunder ser! Menurut perkiraan Arif saat bermalam di danau taman hidup nanti bulan purnama pasti indah karena kebetulan bertepatan dengan tanggal 15. Sesi berikutnya adalah curhat dan ngopi, ditemani oleh dinginnya malam dan angin dingin. Aku dan Danang membuat api unggun, memanfaatkan sisa kayu yang kami temukan di dekat pondok kayu. Aku berjalan mencari sampah yang bisa dibakar dari ruang ke ruang. Namun sesampainya di ruang yang dekat dengan pohon langkah aku hentikan, pikiran di sini jadi tidak enak sehingga aku kembali ke tempat anak-anak dengan sampah seadanya. Sinar bulan menemani saat-saat berapi unggun dan tanganku tidak henti-henti mencabuti rumput setengah kering agar kayu besar bisa terbakar, ban bekas pengganti minyak tanah harus dihemat. Hingga aku mencabut rumput yang ada di belakangku, tak sengaja wajah menengok ke ruang sebelah bekas ruang makan tadi..tiba-tiba!?! Ku lihat sesuatu yang menurutku asing dan spontan aku kaget sampai memundurkan kepala secepat mungkin. Teman-teman terkejut juga, dan aku mengintruksikan untuk tenang, kami ngintip dari atas tembok ternyata kami kedatangan dua tamu malam ini yakni Sigung yang rebutan sisa asinan sop buatanku tadi sore. Semula kukira hewan ini macan cilik atau rubah. Keberadaan sigung membuat kami menjadi menambah bahan untuk dibicarakan. Tidak hanya sigung yang menemani kami, ternyata juga banyak tikus yang berkeliling di sekitar tenda unutk mengincar makanan yang kami bawa. Tikus yang mengambil kesempatan disaat kita sesi curhat membuat kesal karena sampai masuk ke dalam tendanya Arief, untungnya saja ga ikutan tidur di dalam. Kami panggil tikus itu dengan nama siti alias ”sitikus”. 
Sigung dan Sisa Mie Kami
 Sigung adalah sejenis pengerat yang jika tertekan bisa mengeluarkan bau tak sedap. Baru kali ini aku melihat hewan yang sebelumnya aku lihat di film kartun terutama di Open
Season dan Sigung yang di sulap jadi kucing dalam film Over the Hedge.

Sepertinya hewan kecil nan lucu ini tidak merasa terganggu oleh ulah kami yang menyorotkan lampu senter bahkan sampai memotretnya. Dengan cuek ia makan sisa-sisa asinan sop dan sawi bekas mie tadi sore. Setelah puas bermain dengan teman baru, kami melanjutkan berapi unggun sambil menghabiskan sisa minuman hangat, sambil sesekali bermain dengan sigung. Kabut yang terus berhuyun-huyun melewati Cikasur membuat bulan kadang terlihat kadang tidak, meskipun begitu suasana bulan purnama masih terasa. Hingga ketika tiba-tiba langit cerah tanpa terhalang kabut sedikitpun, kami semua berteriak mengagumi keindahan langit ciptaan Yang Maha Kuasa. Awan tipis yang berada di sekitar bulan berbentuk seperti serpihan kapas yang berjajar. Taburan bintang di langit membuat kami lebih berdecak kagum, aku segera mencari rasi Scorpioku untuk memastikan arah mata angin, sebab sudah menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi kalau kepala Scorpio selalu menghadap dan mengarah ke arah barat. Aku berpesan kepada anak-anak kalau perjalanan masih panjang dan menganjurkan untuk segera istirahat di dalam tenda, hanya yang mau uji nyali saja yang bisa bermain-main malam hari di Cikasur. Kami lalu beres-beres segala perlengkapan, kompor dan peralatan masak lainnya aku tutup dengan jas hujan dan barang-barang sebisa mungkin dimasukan ke dalam tenda. Kami lalu mengadakan acara pipis bersama di samping tenda, dengan harapan agar sepanjang malam tidak ada niat untuk buang air di luar tenda.
Suasana malam di Cikasur saat itu terasa mencekam, kami memutuskan untuk bagaimana caranya bisa tidur. Kebetulan saat itu aku membawa dua kerpus, yang pendek buat nutup telinga dan yang panjang sedikit aku majukan untuk menutup mata agar tidak bisa melihat apa-apa. Terbukti cara ini ternyata cukup efektif untuk membuatku bisa tertidur meskipun beberapa jam saja. Tengah malam aku terbangun dan merasakan ada sesuatu yang lewat dekat dengan tendaku, sosok hitam berangkangan menerpa dinding tenda, hingga menyentuh langsung punggungku, rasanya empuk tapi menyeramkan. Kontan aku menggeser tubuhku agak ke tengah sampai mengenai tubuh Mboys. Kemudian aku melanjutkan tidur lagi, persetan dengan suara-suara yang ada di luar. Sesekali aku bertanya jam pada Mboys dengan harapan semoga malam cepat berganti pagi.BERSAMBUNG ke bagian IV