Advertisment

Wednesday, June 11, 2014

Ekspedisi Sigung Bye-Bye!! (Bagian 2)

Episode Sebelumnya di  Bagian I  

Day III (12 Agustus 2008) –Ladang Tembakau-
Pagi harinya kami mencoba memaksa untuk masak nasi walau kompor sedang ada masalah. Sebelum memasak, tenda kami bereskan dulu karena tidak enak sama warga yang lalu lalang pergi menuju ladang. Kami memasak sosis dan sayur untuk dicampur dengan bumbu pecel. 
Baderan Resort

Setelah sarapan porsi jumbo dan berbenah kami bersiap melanjutkan pendakian pukul 07.50. Tidak lupa kami berdoa dulu dan disela-sela persiapan perjalanan tiba-tiba ada anak kecil yang akan pergi ke ladang. Sekilas tampak seperti Bolang (Bocah Petualang) dengan berbaju seragam SD dan bersepatu khas orang-orang ladang yakni sepatu seperti kantoran hanya saja bagian bawah lebih banyak bergerigi alias anti selip. Lewat di depan kami anak itu mengucapkan permisi. Aku kebingungan mau ngasih dia sebungkus coklat Top yang ada di dalam tas rotiku. Setelah aku rogoh beberapa kali masih belum ku temukan padahal sebelum berangkat aku telah memasukkannya. Wah durung rejekimu dik!.
Pagi itu aku menulis dalam selembar kertas pesan singkat buat rombongan kloter kedua (Danang dan Arif) yang pagi itu masih berada di Besuki. Isi pesan itu adalah bahwa aku ama Mboys akan menunggu mereka di mata air I. Kertas itu kemudian aku selipkan di dinding sebelah luar rumah kayu, dengan harapan agar mudah dilihat oleh mereka kalau lewat. Perjalanan berlanjut lagi, kali ini medan yang kami lalui masih di dominasi oleh area ladang tembakau, dengan tanjakan ringan yang agak licin akibat hujan kemarin. Perjalanan dalam area ini agak mengalami kesulitan karena adanya percabangan, akibat jalur ladang yang dibuat oleh penduduk. Hingga pada akhirnya kami melewati sebuah rumah tua teratas yang masih terlintas dalam ingatan dua tahun yang lalu aku pernah istirahat melepas lelah di daerah sekitar rumah tersebut. Perjalanan terus berlanjut, pemandangan tebing di kanan jalan sangat menawan, hutan yang masih lebat dengan sungai dan saluran air alami yang mengalir seolah memperdaya kami dari medan tanjakan yang semakin banyak di depan mata. Akhirnya kami tiba di medan tanjakan pertama yang membuat orang kapok lombok buat datang ke Argopuro. Baru berjalan beberapa langkah rasanya kaki mau pecah. Ada bekas jejak ban sepeda motor di jalanan yang aku lewati, ternyata sebuah motor Suzuki Crystal milik seorang peladang yang sedang mencari rumput. Ingatanku pada daerah itu, dua tahun yang lalu aku sempat makan biskuit di bawah pohon pisang yang berada di kanan jalan dan pohon itu sekarang masih ada. Namun yang sudah menghilang adalah rumah yang berada dekat pohon pisang tersebut sudah tidak ada, dulu aku pernah melempar permen buat di berikan pada anak-anak peladang yang menemani orang tuanya berladang di area itu.
Tanjakan demi tanjakan kami lalui, rasanya badan semakin tidak karuan, tapi sudah menjadi konsekuensi dari naik gunung. Tanjakan yang paling asyik walau agak menjengkelkan adalah tanjakan yang berada di perbatasan antara kawasan ladang dengan hutan. Sekilas mirip parkir mobil di mall, berbentuk spiral. Setelah memasuki kawasan hutan kami banyak mendapat jalan bonus alias jalan yang datar atau berupa tanjakan namun tidak terlalu curam. Guna menghilangkan jenuh kami berbincang-bincang membicarakan Pak Tani dan nostalgia waktu KKA baik ketika menjadi peserta maupun saat jadi panitia. Medan selanjutnya adalah tanjakan yang tidak ada habis-habisnya, dengan jalur yang lebar dan membentang jauh seolah-olah kami ditantang secara terang-terangan. Tak terasa kami sampai pada area dimana waktu pendakian dua tahun yang lalu, aku sempat depresi karena satu team kehabisan air. Setelah istirahat, makan biskuit, minum dan pipis, kami melanjutkan perjalanan dengan berbekal keyakinan bahwa mata air I sudah dekat. Hingga pada akhirnya aku melihat ada sebuah tanjakan yang membentang lurus dengan sebuah pohon besar di sisi kanan yang di batangnya ada tanda warna kuning. Tidak salah lagi itu adalah mata air I. Kami sampai pukul 13.30 dan langsung mendirikan tenda.


"Kamar Kos di malam ketiga (mata air I)

Senang rasanya bisa sampai basecamp Mata Air I tanpa kemalaman, kami langsung memasang tenda sekaligus menantikan rombongan kloter kedua (Danang dan Arif) datang. Setelah tenda jadi, iseng-iseng aku mencari kayu bakar dan sampah yang bisa di bakar buat api unggun. Beberapa saat kemudian, dari pepohonan samping tenda terdengar bunyi krosakan. Ternyata dua ekor kera lagi bergantungan dan setelah kami mendekat mereka langsung tunggang langgang. Kali ini Mboys bertugas mengambil air di sumber mata air I, sebelum berangkat aku berpesan kepadanya agar membawa pisau dan senter buat jaga-jaga siapa tahu di bawah sana ada Aum! alias macan yang lagi mainan air J. Aktivitas aku lanjutkan dengan membuat parit alias got di sekitar tenda buat antisipasi kalau tiba-tiba turun hujan deras. Saat mencoba mengambil kayu di bawah basecamp terlihat tiga ekor monyet sedang bertengger dengan sedikit kepanikan. Kulihat pohon di bawah tempat bernaung monyet tersebut sudah dalam keadaan habis ditebang oleh manusia yang tidak bertanggung jawab. Mungkin monyet itu ketakutan dengan kehadiran kami, mereka mengira sebagai pelaku pembalakan liar alias blandong. Untuk membunuh sepi di dalam tenda dengan sms-an karena masih ada sinyal sambil mendengarkan radio Pro 3 RRI jaringan berita nasional.
Hari mulai agak gelap, sementara Danang dan Arif belum kelihatan batang hidungnya. Hingga pada akhirnya sayup-sayup terdengar teriakan seseorang yang memanggil namaku dari bawah. Spontan aku berlari ke bawah, Danang dan Arif datang dengan membawa segenap penderitaan akibat ditantang tanjakan secara terang-terangan. Kloter danang dan Arief sampai di pos mata air 1 pukul 17.30. Aku membantu mereka mendirikan tenda dan kami bersiap-siap masak untuk hidangan jamuan makan malam. Kami masak nasi, sayur sop, mie instan, sarden. Minuman yang tersedia teh, kopi jahe, marimas jambu, nutrisari anget. (Baru kali ini naik gunung dengan berjuta pilihan makanan).
Setelah makan kita berkumpul di api unggun buat curhat, sambil menguji metode bahan bakar perapian terbaru dengan menggunakan potongan ban dalam bekas, ternyata ampuh juga dengan api yang besar dapat cepat membuat bara pada kayu kering. Meskipun asap dan bau yang ditimbulkan selama pembakaran cukup menyesakkan mata dan dada. Malam semakin gelap, api unggun yang kami buat pun semakin mengecil apinya sehingga salah seorang dari kita ada yang bilang, eh turu rek, mene ben iso budal isuk. Sebelum masuk tenda, barang-barang yang diluar tenda harus dibereskan biar tidak mengundang tamu lain. Akhirnya perlengkapan memasak dan botol-botol minuman kita letakkan di depan tenda persis dengan alas ponco dan ditutup juga dengan ponco.
 
Makan Malam Spesial



Setelah masuk tenda semua, aku dengan Roykan dan Arief dengan Danang. Sebelum beranjak ke peraduan, Roykan sempat mengucapkan selamat tidur pada 2 teman yang kecapean.. dengan kalimat yang agak manja dan sedikit mesra.. ”Danang.. gingap”, ”met bobok”... berulang kali kalimat itu diucapkan Roykan sehingga saat itu juga kita semua tertawa.. Malam hari sesaat setelah semua tertidur, aku terbangun dan kulihat jam masih menunjukkan pukul 02.15 mataku menjadi sulit diajak kompromi tidur, akhirnya aku hanya menutup mata di dalam sleeping bag. Pikirku aku merasakan sesuatu yang aneh terdengar diluar tenda.. sepertinya ada yang mengelilingi tenda kami dengan suara derap kaki yang keras. Perasaanku menjadi ga enag dengan ada apa diluar tetapi aku tidak berani membuka tenda, langsung saja aku menyenggol Roykan yang nyenyak di dalam sleeping bagnya. ”Kan, tangio... aku membisikkan pelan” berulang kail aku mengucapkan kalimat tersebut tetapi Roykan hanya mengucapkan kata.. ha..he..ha.. dengan nada ngantuk. Aku langsung saja bilang ”Kan, kamu ga denger suara ta?” koyoke ono sing muter-muter nang njobo tendo. Kemudian Roykan hanya bilang.. oiyo..wes menengo...digae turu ae. Saat itu juga aku langsung menutup mata menggunakan lomar  dari neng dengan degup jantung yang cukup cepat. BERSAMBUNG ke bagian III