Advertisment

Wednesday, June 11, 2014

Ekspedisi Sigung Bye-Bye!! (Bagian 1)


Catatan Perjalanan                                                                                    
Ekspedisi Sigung Bye-Bye!!  (1)
(Gunung Argopuro rute Baderan – Bremi, 10 – 16 Agustus 2008)
Team: Roykan ”Truk Tronton”, Dony ”Mboys”, Danang ”Cah Slawi” dan Arif ”Truk Sampoerna”

...Aller Anfang ist Schwer
Gunung Argopuro bagi sebagian kalangan pendaki dianggap sebagai gunung yang nyebelin tapi ngangeni. Medan berat, tanjakan curam, hutan yang masih perawan dan rute yang jauh alasan sebagian orang untuk berpikir dua kali ngapain naik argopuro. Tapi semua itu terbayar oleh indahnya pemandangan, sabana yang eksotis, hutan edelweis, selada air serta keramahtamahan penduduk setempat.
Dua tahun silam tepatnya 27-31 Agustus 2008 bersama Doni ’Mboys’, Donny ’Pilot’, Reza ’Gundul’ dan Cimenk ’maling Jepang’. Aku naik Argopuro untuk yang pertama kali. Seiring dengan berjalannya waktu keinginan untuk muncak bersemi kembali apalagi semenjak aku membeli seperangkat peralatan naik gunung baru hasil keringat sendiri (Panas-panas nyebar Brosur yo pasti keringatan J). Tas Carrier South Merapi (South Beach) 80 liter + Cover,Sandal gunung Eiger, Sleeping Bag+mini pillow North Face, Matras Eiger semuanya serba baru telah ada di tangan. Rencana awal aku mau berangkat ke Semeru, namun karena ada kabar kalau gunung itu sedang tutup, maka terpaksa banting stir naik Argopuro. Setelah tertunda selama seminggu lantaran teman-teman belum ada yang selesai dengan urusan kampus akhirnya ada kesepakatan untuk berangkat tanggal 10 Agustus dan tanggal 11 Agustus Danang ama Arif menyusul.

Day I (10 Agustus 2008) – Kosan Roykan “Day of Days”-
Berangkat dari kos di siang bolong pukul 12.50, aku dan Mboys pemanasan berjalan menuju stasiun Gubeng, kami kira awalnya ketinggalan komuter karena diberi jadwal oleh teman kalau komuter berangkat pukul 13.03 jadi dalam acara pemanasan kaki menjadi dipercepat apalagi lagkah Roykan terasa lebar. Roykan sekali melangkah bagiku seperti 1,5 langkahku sehingga bagiku benar-benar seperti diklat PA, hehehe. Tidak terasa perjalanan ngebut tadi kita sampai stasiun Gubeng pada jam 13.10. Setelah menunggu beberapa saat, loket pun dibuka 10 menit sebelum keberangkatan, Roykan pun membeli 2 tiket komuter sejumlah Rp4000,-. Tepat pukul 13:55WIB kereta Komuter tiba dan siap mengantarkan kami menuju terminal Bungurasih.
Sesampainya di terminal Bungurasih kita mencari bus langsung jurusan Situbondo, ternyata kita telah menjadi korban calo yang tidak bertanggungjawab. Kita naik bus AKAS NNR AC tarif biasa 2 orang Rp26.000,- lha pikirku kok murah sampai Besuki cuma kena segitu karena di terminal dikatakan kalau bus akan turun di Besuki, namun ketika membayar karcis kita akan diturunkan di terminal Probolinggo, hmm..kena juga deh ditipu. Sesampai di terminal Probolinggo pada jam 17.30 kami pindah bus AKAS untuk melanjutkan perjalanan menuju alun-alun Besuki dengan tarif Rp16.000 2orang. Malam itu sekitar jam 19.40, bus turun di depan Polsek Besuki, setelah minta ijin dengan petugas jaga dan ninggal KTP, aku mandi, sementara mboyz membeli makan di sekitar alun-alun besuki.
Sekarang Dony niy yang nulis, pada saat membeli makanan di sekitar alun-alun Besuki, aq teringat masa kecilku yang sering main ke alun-alun. Sambil bernostalgia mengingat masa kecil, aku mengelilingi alun-alun sambil mencari makan malam yang cocok. Setelah memberikan berbagai pilihan makanan, akhirnya aku tertuju pada nasi goreng. Langsung saja aku memesan 3 bungkus karena seingatku ada bapak yang lagi tidur di dalam mushola sewaktu kita tiba di polsek Besuki. Setelah membeli nasgor berwarna pink, aku bergegas membeli kekurangan barang belanjaan kita yakni gula, baterai senter, dan film untuk kamera poket Roykan. Sesampai di mushola polsek kita langsung menyantap nasgor dan es teh, tetapi 1 bungkus masih tersisa karena bapak yang dtidur di mushola sudah pulang jadi kita bagi 2 nasgor tersebut. Setelah kenyang dan bermain-main dengan teman baru kami yakni si pus ngeong, kita mulai mengantuk dan beristirahat karena perjalanan masih panjang. 
Menanti Komuter di Stasiun Gubeng Surabaya
 

Day II (11 Agustus 2008) – Kantor Polisi Besuki -
Gedung Tua Samping Kantor Polsek Besuki

Pagi itu jam 07.00 tepat dari polsek setelah belanja sayur di pasar Besuki, kami siap-siap untuk menuju Baderan. Hari itu bertepatan dengan tanggal pasaran, hari di mana Pasar Khewan Besuki berlangsung aktifitas jual beli Kambing, Sapi dan tembakau. Selama menunggu angkutan pedesaan yang menuju Baderan di lampu merah banyak hal yang asyik untuk di observasi, di antaranya truk maupun colt bak yang mengangkut sapi, motor yang narik becak dengan muatan berat dan anak SD yang sedang latihan gerak jalan. Ketika Mboys mau memotret seorang anak kecil perempuan berseragam putih merah berkata “Lek,…Foto Lek!” padahal dia adalah pemimpin barisan, sementara teman-temannya hanya tersenyum. 
"Lek....Pak Lek ...Foto Lek !!!"

Setelah menunggu kurang lebih 45 menit di bawah lampu merah akhirnya datang angkutan pedesaan warna biru laut melintas dan Ups!! Hampir saja aku kehilangan HP Moto W230 karena tanpa sengaja jatuh dari kantong dan tergeletek secara terbalik di rerumputan yang berdebu. Andai saja dalam sepersekian detik saja aku tidak menoleh ke belakang maka HPku pasti sudah dicucuk pithik. Aku dan Mboys duduk di dalam angkutan pedesaan yang di awaki oleh tiga orang anak muda dengan musik dangdut koplo yang menggelegar dari sound sistem di bawah dashboard.
 Belum sempat enak-enakan menata pantat, angkutan berhenti dan ngetem di sebelah timur pasar Khewan Besuki. Aktivitas perekonomian berlangsung saat itu, Blantik, pemilik Sapi, Tengkulak Tembakau sampai penjual VCD Kesenian Ludruk Pendalungan Tumplek Blek di tempat tersebut. Sembari menunggu angkutan untuk berangkat lagi Mboys bergegas berburu momen menawan yang tidak dijumpai di Surabaya. Salah satu hal yang menarik adalah cara orang-orang Besuki mengangkut Sapi. Sapi yang besar (Senior) diletakkan sejajar bentuk colt bak atau Truk, sementara Sapi yang kecil (Junior) alias  Pedhet di letakkan melintang di bawah pantat Sapi yang besar. Jadi bisa dipastikan kalau ada sapi besar buang air (besar atau kecil) maka Sapi yang kecil akan menjadi tempat pertama kali kejatuhan kotoran.
Ada cara unik yang baru ku ketahui kalau ada sapi yang ogah buat diantar menuju pasar, biasanya penuntun ada dua orang depan dan belakang. Kalau dari didorong dari depan sapi tetap bandel maka penuntun yang di belakang mendapat tugas menggigit ekor sapi agar sapi mau dituntun menuju pasar. Akhirnya aku harus pindah ke mobil yang lain dalam satu armada yang sudah terisi lebih banyak penumpang, karena menunggu terlalu lama kurang lebih 1 jam. (nambah Rp3.000 gak popo sing penting nyampe Baderan). AngDes menuju Baderan dikenai biaya Rp13.000 untuk 2 orang.
 
Si Junior Investasi Masyarakat Besuki

Aktivitas lain yang tidak luput dari pengamatanku adalah perdagangan tembakau di hari pasaran. Warga Besuki yang menanam tembakau, di sekitar area pasar Khewan Besuki terdapat berjajar-jajar tengkulak yang siap membeli tembakau yang telah di proses yakni pemotongan dan pengeringan. Menurut penuturan seorang Bapak yang berada seangkot denganku, biasanya tengkulak membeli tembakau dari para petani yang telah diproses dengan kisaran harga antara Rp20.000 – 30.000/kg. Untuk kemudian dari tengkulak, tembakau akan diangkut ke tempat penampungan sementara dan dibawa menuju pabrik rokok. Berdasarkan pengamatan saat itu, seorang tengkulak mempunyai anak buah yang menjadi perantara (combe) untuk mempengaruhi petani agar mau menjual tembakau kepadanya. Setelah terjadi kesepakatan harga dan proses jual beli selesai yang ditandai dengan saling jabat tangan, maka petani akan memberikan tips kepada perantara tersebut, sebesar Rp 50.000;.
Tanaman berdaun 'emas'
 Angkutan pedesaan warna biru laut tancap gas menuju Baderan melewati jalanan yang naik turun. Sebuah pemandangan yang sukar untuk dilupakan, ketika melintas di area perbukitan yang penuh dengan ladang tembakau. Para penumpang dalam angkutan pedesaan ini yang aku temui baik tua maupun muda semua berbahasa madura. Ada nenek beserta cucunya, Ibu setengah baya yang sedang belanja minyak, anak Sekolah, ulama NU, guru SD sampai petani yang mengangkut jerami di atas bodi mobil. Berdasarkan pengamatan, yang menarik dari hubungan sosial masyarakat dalam angkutan tersebut adalah masalah kepercayaan (trust), sebuah ciri khas masyarakat pedesaan yang kental. Hal ini tercermin dari sikap sopir yang menitipkan anak balitanya di sebuah sekolah yang jauh dari tempat mangkalnya, selain itu anak-anak berseragam putih merah yang naik angkutan nampak dijaga oleh penumpang yang lain. Sebuah keharmonisan antar sesama pengguna angkutan yang tidak ditemukan di Surabaya.

Sebuah penderitaan dalam angkutan desa warna biru laut yang kami tumpangi adalah bahaya keracunan zat asam, sebab mobil yang kami tumpangi ternyata bocor bodi bawahnya. Alhasil setiap kali mobil tancap gas, sisa asap pembakaran dari knalpot masuk menyeruak ke dalam mobil. Apalagi posisi duduk kami tepat di bawah lubang bodi mobil tersebut, gas asam masuk campur debu sehingga cepat-cepat aku menutup hidung dengan slayer mini merah sementara mboys menutup hidungnya dengan topi. Andai saja mobil itu melintas lebih jauh lagi mungkin semua penumpang khususnya yang berada di belakang akan mati sesak akibat pengaruh gas CO.  Jalanan yang tidak rata dan berlubang membuat mobil bergoncang, kontan aku segera mengamankan empat butir telur ayam dari tumpukan sayur sawi yang aku beli di pasar Besuki. 
Pak Suyono, Sang Jagawana Argopuro Jalur Baderan

Tempat pemberhentian terakhirku di depan SD Baderan sampai pada 11.03, setelah mengemasi barang bawaan. Aku dan Mboys menuju Pos Perhutani yang menjadi tempat singgah pertama kali buat para pendaki. Di rumah tersebut kami bertemu dengan Pak Suyono, salah seorang staf Perhutani yang juga teman Pak Dadang, pegawai Perhutani yang kutemui dua tahun yang lalu. Kita berbincang tentang jalur pendakian yang telah di plot dengan patok dengan tanda angka yang baru (HM 1 – HM 150), dan berita kebakaran di sebelah atas Cisentor. Bapak dua anak ini tinggal di kantor Perhutani Baderan bersama istrinya, sementara dua orang anak perempuannya tinggal di Malang. Pada pos perijinan ini kami memberikan iuran untuk ijin pendakian, menurut pak Yono sesuai kemampuan pendaki dan alhamdulilah beliau memberikan keringanan karena menurutnya kita masih mahasiswa jadi kita membayar Rp15.000 untuk 2 orang. 

Sementara Roykan mengisi air ke dalam jerigen lima literan, dua botol besar air mineral dan botol air Specialized, mboys menyempatkan sholat jamak dhuhur dan ashar dan akhirnya kami bersiap-siap berangkat. Ada dua masukan yang cukup berarti saat itu dari pak Suyono, yakni Pertama kalau naik dari Baderan mengambil air langsung ke tanggul air di sekitar ladang. Kedua, jika membawa telur, ada cara terbaru dalam pengemasan yakni dimasukkan dalam plastik perbutir, lalu ditimbun dalam beras. Tujuannya kalau pecah tidak akan mengotori beras dan telur yang lain. Hal ini berbeda dengan cara lama yang langsung memasukkan dan menimbun telur lama beras yang kemudian di masukkan ke dalam kotak nasting. Namun kekurangan dari metode ini adalah kalau telur pecah akan mengotori beras dan peluang untuk telur lain pecah menjadi semakin besar. Karena terlanjur mengisi air, maka aku berangkat langsung dengan beban di tas yang lebih berat dari pada beban sebelumnya. Aku ingin mencoba ketahanan menahan beban dari South Beach 80 literku.
Perjalanan di mulai 12.50, setelah berpamitan dengan Pak Suyono, medan yang kami lalui masih di daerah perkampungan dengan jalanan yang kadang naik, datar dan naik lagi. Banyak persimpangan yang dijumpai sepanjang perjalanan, jika bingung maka tidak ada salahnya untuk bertanya pada penduduk setempat. Masalahnya sebagian besar penduduk Baderan menggunakan bahasa madura. Sesampainya di tanggul irigasi, aku istirahat sebentar dan melanjutkan perjalanan kembali. Aku terus berjalan lurus melewati beberapa orang Pak Tani yang sedang mandi dan membersihkan diri. Belum jauh kaki melangkah, aku diiingatin sama salah seorang Pak Tani kalau jalan yang aku lalui adalah salah. Kalau mau ke Puncak Argopuro harus belok kanan menyeberangi sungai melewati jalanan menanjak yang sempit.
Berjalan dalam lintasan yang sempit dengan tanjakan yang tidak habis-habis membuat stamina seperti di uji lebih awal. Jika ada petani yang lewat, otomatis kami harus minggir karena jalan tersebut hanya layak untuk satu orang saja. Peluh mulai bercucuran, badan rasanya remuk. Mungkin masa penyesuaian dengan lingkungan dan aktivitas yang baru. Ketika kami melewati saluran irigasi tak kusia-siakan untuk bermain air segar yang alami dan jernih. Suasana terasa menyenangkan jika melihat ke bawah, nampak sungai besar bebatuan yang mengalir deras, sebuah pemandangan yang sulit dilupakan.
Salah satu kendala yang harus dihadapi jika naik Argopuro lewat Baderan adalah banyaknya jalan bercabang di sekitar area ladang tembakau. Terhitung sudah empat kali kami kebingungan mencari jalan yang menjadi jalur pendakian, semua serba salah apalagi ditambah kendala roaming bahasa dengan penduduk setempat. Maka alternatif yang aku gunakan adalah menggunakan bahasa tarzan, yakni pertanyaan pada penduduk memakai isyarat tangan dan lebih menegaskan kata-kata Argopuro!. 
Persiapan Terakhir

Perjalanan terus berlanjut, kulihat Roykan sudah mengeluarkan keringat sebesar jagung dan banyak sekali sampai bercucuran, ya inilah pendakian awal yang dilakukan pada siang bolong dengan tanjakan yang bikin ngos-ngosan. Pada ujung tanjakan Roykan mengajak untuk istirahat dan mengambil coklat, sepertinya perjalanan bakal berlangsung lama seperti ini. Hingga kami sampai pada jalan yang mengitari perbukitan ladang tambakau dengan jalan turun yang di bawahnya terdapat mini tanggul. Kami beristirahat sejenak saat itu, mempersiapkan tenaga karena di depan mata terbentang tanjakan yang bisa dikatakan cukup menguras tenaga. Beberapa saat kemudian di tengah perjalanan, nampak seorang kakek yang membawa sebuah palu besar dari kayu. Sekilas seperti senjata andalan salah satu super hero Marvel yakni Thor J. Aku mempersilahkan beliau untuk lewat lebih dahulu, namun kakek tersebut bersihkeras agar kami yang lewat duluan. Sebelum berpapasan kakek itu bilang sesuatu kepada kami, walau tidak mengerti bahasanya namun jika ditafsirkan secara ngawur artinya untuk menuju argopuro jika ada rumah di depan selepas tanjakan langsung belok kanan. Begitu kira-kira artinya.
Setelah sampai di ujung tanjakan kulihat di sebelah kanan, nampak sebuah rumah kayu atau lebih bisa disebut sebuah gubuk. Di samping rumah tersebut tumbuh pohon pepaya dan nangka. Sementera di sisi lain terdapat hamparan kebun tembakau gunung khas Besuki. Tiba-tiba cuaca mulai berubah, langit yang tadinya cerah berubah menjadi agak gelap berkabut. Kemudian rintik hujan kecil mulai turun, waktu itu posisi kami tepat berada di dekat rumah tersebut. Kami putuskan untuk berteduh sejenak, dan di tiang rumah tersebut terdapat suguhan gratisan yang mengingatkanku pada Pak Jo Kalidami. Sebuah pepaya matang yang telah di iris sedikit dengan sabit nampak menggoda iman. Segera aku ambil pisau lipat dan mengupasnya bersama Mboys. Hujan makin deras dan kabut makin tebal sementara waktu bertambah sore, sehingga kita memutuskan kalau pukul 15.30 hujan tidak reda kita harus ngecamp, dan ternyata benar hujan belum reda sampai pukul 16.00 sehingga kami memutuskan mendirikan tenda.

Sementara Roykan mengisi air ke dalam jerigen lima literan, dua botol besar air mineral dan botol air Specialized, mboys menyempatkan sholat jamak dhuhur dan ashar dan akhirnya kami bersiap-siap berangkat. Ada dua masukan yang cukup berarti saat itu dari pak Suyono, yakni Pertama kalau naik dari Baderan mengambil air langsung ke tanggul air di sekitar ladang. Kedua, jika membawa telur, ada cara terbaru dalam pengemasan yakni dimasukkan dalam plastik perbutir, lalu ditimbun dalam beras. Tujuannya kalau pecah tidak akan mengotori beras dan telur yang lain. Hal ini berbeda dengan cara lama yang langsung memasukkan dan menimbun telur lama beras yang kemudian di masukkan ke dalam kotak nasting. Namun kekurangan dari metode ini adalah kalau telur pecah akan mengotori beras dan peluang untuk telur lain pecah menjadi semakin besar. Karena terlanjur mengisi air, maka aku berangkat langsung dengan beban di tas yang lebih berat dari pada beban sebelumnya. Aku ingin mencoba ketahanan menahan beban dari South Beach 80 literku.
Perjalanan di mulai 12.50, setelah berpamitan dengan Pak Suyono, medan yang kami lalui masih di daerah perkampungan dengan jalanan yang kadang naik, datar dan naik lagi. Banyak persimpangan yang dijumpai sepanjang perjalanan, jika bingung maka tidak ada salahnya untuk bertanya pada penduduk setempat. Masalahnya sebagian besar penduduk Baderan menggunakan bahasa madura. Sesampainya di tanggul irigasi, aku istirahat sebentar dan melanjutkan perjalanan kembali. Aku terus berjalan lurus melewati beberapa orang Pak Tani yang sedang mandi dan membersihkan diri. Belum jauh kaki melangkah, aku diiingatin sama salah seorang Pak Tani kalau jalan yang aku lalui adalah salah. Kalau mau ke Puncak Argopuro harus belok kanan menyeberangi sungai melewati jalanan menanjak yang sempit.
Berjalan dalam lintasan yang sempit dengan tanjakan yang tidak habis-habis membuat stamina seperti di uji lebih awal. Jika ada petani yang lewat, otomatis kami harus minggir karena jalan tersebut hanya layak untuk satu orang saja. Peluh mulai bercucuran, badan rasanya remuk. Mungkin masa penyesuaian dengan lingkungan dan aktivitas yang baru. Ketika kami melewati saluran irigasi tak kusia-siakan untuk bermain air segar yang alami dan jernih. Suasana terasa menyenangkan jika melihat ke bawah, nampak sungai besar bebatuan yang mengalir deras, sebuah pemandangan yang sulit dilupakan.
Salah satu kendala yang harus dihadapi jika naik Argopuro lewat Baderan adalah banyaknya jalan bercabang di sekitar area ladang tembakau. Terhitung sudah empat kali kami kebingungan mencari jalan yang menjadi jalur pendakian, semua serba salah apalagi ditambah kendala roaming bahasa dengan penduduk setempat. Maka alternatif yang aku gunakan adalah menggunakan bahasa tarzan, yakni pertanyaan pada penduduk memakai isyarat tangan dan lebih menegaskan kata-kata Argopuro!.
Perjalanan terus berlanjut, kulihat Roykan sudah mengeluarkan keringat sebesar jagung dan banyak sekali sampai bercucuran, ya inilah pendakian awal yang dilakukan pada siang bolong dengan tanjakan yang bikin ngos-ngosan. Pada ujung tanjakan Roykan mengajak untuk istirahat dan mengambil coklat, sepertinya perjalanan bakal berlangsung lama seperti ini. Hingga kami sampai pada jalan yang mengitari perbukitan ladang tambakau dengan jalan turun yang di bawahnya terdapat mini tanggul. Kami beristirahat sejenak saat itu, mempersiapkan tenaga karena di depan mata terbentang tanjakan yang bisa dikatakan cukup menguras tenaga. Beberapa saat kemudian di tengah perjalanan, nampak seorang kakek yang membawa sebuah palu besar dari kayu. Sekilas seperti senjata andalan salah satu super hero Marvel yakni Thor J. Aku mempersilahkan beliau untuk lewat lebih dahulu, namun kakek tersebut bersihkeras agar kami yang lewat duluan. Sebelum berpapasan kakek itu bilang sesuatu kepada kami, walau tidak mengerti bahasanya namun jika ditafsirkan secara ngawur artinya untuk menuju argopuro jika ada rumah di depan selepas tanjakan langsung belok kanan. Begitu kira-kira artinya.
Setelah sampai di ujung tanjakan kulihat di sebelah kanan, nampak sebuah rumah kayu atau lebih bisa disebut sebuah gubuk. Di samping rumah tersebut tumbuh pohon pepaya dan nangka. Sementera di sisi lain terdapat hamparan kebun tembakau gunung khas Besuki. Tiba-tiba cuaca mulai berubah, langit yang tadinya cerah berubah menjadi agak gelap berkabut. Kemudian rintik hujan kecil mulai turun, waktu itu posisi kami tepat berada di dekat rumah tersebut. Kami putuskan untuk berteduh sejenak, dan di tiang rumah tersebut terdapat suguhan gratisan yang mengingatkanku pada Pak Jo Kalidami. Sebuah pepaya matang yang telah di iris sedikit dengan sabit nampak menggoda iman. Segera aku ambil pisau lipat dan mengupasnya bersama Mboys. Hujan makin deras dan kabut makin tebal sementara waktu bertambah sore, sehingga kita memutuskan kalau pukul 15.30 hujan tidak reda kita harus ngecamp, dan ternyata benar hujan belum reda sampai pukul 16.00 sehingga kami memutuskan mendirikan tenda. 
 
Cobaan di hari pertama: Kabut Berbasis Badai


Tenda pantai Colleman cap Petromaks kami dirikan tepat di dalam teras rumah kayu tempat awal berteduh dan makan pepaya. Jadi saat ini tempat bernaung sementara memiliki double protection dengan dua cover satu dari parasut dan satu dari jerami alias atap teras gubuk kayu yang tidak akan takut basah. Setelah tenda berdiri, hujan tidak kunjung reda, kami memutuskan untuk masak menggunakan kompor alien dengan bahan bakar gas tabung butana. Setelah mencoba untuk merebus air ternyata kompor yang aku bawa tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya, katup besi yang terletak di sebelah pintu jepit tabung gas bocor, akibatnya keluar api. Dengan penuh kesigapan Mboys mencoba membereskan kejadian tersebut, api cepat-cepat ia matikan dan baut pada katup gas dikencangkan dengan kunci inggris. Namun metode itu tidak bertahan lama, api tetap saja bocor. Sore itu kami hanya memasak mie instan yang dicampur dengan sayur sawi dan minuman hangat serta kopi, sebagai pengganjal perut buat istirahat.
Malam hari pun tiba, Roykan sudah siap-siap masuk dalam sleeping bag barunya. Dia sudah start duluan meniggalkan aku yang masih membereskan tempat di dalam tenda. Sengaja pada malam di pondok tersebut aku tidak menggunakan sleeping bag karena kupikir belum terlalu dingin, aku hanya menggunakan jaket, celana panjang dan kaos kaki. Ternya gelapnya malam di bawah pondok bagus juga tak kulewatkan untuk mengambil foto suasana waktu itu. Setelah mengambil foto, peralatan kamera dan baterai aku tempatkan di dalam sleeping bag diantara kaki agar tetap hangat untuk menjaga kekuatan baterai selama di gunung dan menghindari embun pada kamera akibat dingin. Dan terlelaplah kita beberapa saat kemudian...   BERSAMBUNG ke bagian II