Advertisment

Wednesday, July 18, 2012

Kartun Ramadhan (behind the scene dalam partisipasi di Festival Kartun Ramadhan 2012)

Etnokartunologi (kamarkos-sby) Dalam postingan kali ini bertepatan dengan menyambut datangnya Bulan Ramadhan alis bulan puasa. Kartunis Semarang punya gawe dalam bentuk lomba kartun dan workshop yang bertema Festival Kartun Ramadhan 2012. Saya turut serta dalam lomba ini dengan mengirim satu karya yang telah saya kirim via pos express dan telah sampai di Semarang dan diterima oleh satpam (berdasarkan pelacakan kiriman via internet). Lomba ngartun yang bertajuk Ramadhan, Toleransi dan Perdamaian saya mengangkat satu karya tentang pentingnya toleransi demi sebuah perdamaian di Bulan Ramadhan. 
Fragmen dalam toleransi dan sahur
Gambar yang saya kirim menggunakan teknik manual secara keseluruhan, dengan pertimbangan menggunakan kertas A3 dan dikirim via pos. Kalau dibuat dalam format A4 dan email maka saya menggunakan teknik digital sebagaimana lomba ngartun yang saya diikuti di dunia maya. Teknik manual membutuhkan kesabaran ekstra karena tidak mengenal tombol undo (ctr+Z) dalam teknik menggambar digital. Langsung saja saya akan membagi ilmu dan pengalaman menggambar di kertas A3 dalam waktu 6 jam tanpa henti. Pada dasarnya menggambar dengan teknik manual membutuhkan empat proses yang saya bagi dalam 4 fase. Adapun proses itu diantaranya: pengolahan ide, pensil, tinta dan pewarnaan dengan teknik manual. 
Step #1 Pengolahan Ide
Courtesy of Bayu Lalu's Photo
Ini fase yang paling menyita waktu, tenaga dan pikiran karena kita dituntut untuk membuat sesuatu yang unik dan orosinil dalam tataran ide. Ide pembuatan karya ini timbul saat melakukan pendampingan kuliah lapangan mahasiswa Antropologi Universitas Brawijaya, selain menemukan ide tentang Tipologi Kopiah, pada saat mengawal karnaval bersih desa saya melihat rombongan musik patrol. Musik ini berasal dari instrumen tradisional yang bertujuan untuk membangunkan orang agar masak dan bersiap santap sahur. Alat yang dipakai dalam musik ini adalah kentongan, yaitu alat sederhana dari seruas bambu yang diberi resonansi suara dan dioperasikan dengan cara dipukul. Kentongan banyak kita temui di poskamling terutama di pedesaan. Ukuran kentongan ada yang hanya sebesar seruas bambu sampai menggunakan batang pohon yang isinya dihilangkan agar menghasilkan suara yang lebih keras. Kentongan yang besar digunakan untuk tanda suara peringatan pada kejadian tertentu, misal jika terjadi kematian di pukul lima kali, jika ada himbuan untuk melakukan kerja bakti dipukul sebanyak delapan kali.  
Dalam musik patrol -patroli untuk membangunkan orang sahur yang dimulai dari jam setengah tiga dini hari sampai menjelang imsyak- selain kentongan, biasanya memakai bekas kaleng biskuit yang dipukul, bahkan berdasarkan pengalaman masa kecil di kampung menggunakan jrengki (cetok) dari seng dengan dua orang pemain, satu pembawa dan yang belakang bagian memukul. Ide sudah mantap tahap berikutnya adalah mulai eksekusi karya.

Step #2 Bermain dengan Pensil

Pada tahap ini alat yang kita butuhkan hanya pensil HB, penghapus yang bagus dan kertas A3. Simulai dari arsiran sederhana sampai pada arsiran yang mendetail. Berikut saya sajikan langkah demi langkah pada saat menggunakan pensil:
Langkah pertama: buat kerangka dasar ...


..detail tahap pertama...

...plus lettering detail... 


...hapus yang tidak perlu... 

...angkat dan tiriskan :)
Step#3 Bermain dengan Tinta 
Tahap ini membutuhkan kekuatan dan keuletan dalam menggunakan penghapus, buat yang tidak jeli dan kurang nyaman harus menghapus satu kertas A3, bisa meminta bantuan orang lain yang mempunyai ketekunan lebih dan cinta kebersihan. Kebersihan adalah bagian dari proses berkarya yang sempurna. Langsung simak reportase dari lapangan pada saat bermain dengan pena Boxi yang bertinta hitam:
Dua pena dengan dua ukuran ...

..proses detail kalau perlu tanpa nafas ..

..menuju pewarnaan, absen dulu pensil warnanya perbatang.
Step #4 Saatnya Mewarnai dan Nikmati Hasilnya
Tahap yang penuh warna dan melibatkan emosi karena berkaitan dengan pemberian warna pada setiap detail gambar yang telah kita buat. Jangan pernah melupakan untuk selalu menyiapkan mesin scanner sebelum diwarnai, selain sebagai arsip, gambar juga perlu di scan agar sewaktu-waktu jika ingin menggunakan pewarnaan digital kita tinggal membuka file jpg yang ada. Tahap finishing yang penuh warna: 
Penanganan pada kulit dahulu...

...orang pertama sudah 'matang'..

..'adonan' kedua sudah matang..

..tiga pemusik sudah terwarnai...

...mission complete. 

Semoga postingan kali ini bisa bermanfaat buat yang sedang belajar ngartun. Tidak lupa saya ucapkan:
" Selamat menyambut bulan puasa, jauhkan diri dari warung kopi di siang hari" . Salam Ngartun.