Advertisment

Wednesday, July 11, 2012

Tipologi Peci: Studi Deskripsi Penutup Kepala Muslim Pendhalungan

Etnokartunologi (sby-kamarkos). Orang muslim jika beribadah terutama Sholat diharuskan untuk memakai sesuatu yang bisa mencegah jangan sampai rambut menempel langsung ke tanah (sajadah) ketika bersujud. Itu salah satu bagian dari ilmu Fiqih yang saya pelajari pada waktu jaman sekolah Madrasah beberapa tahun silam. Oleh sebab itu terciptalah yang namanya Kopiah alias Songkok alias Peci alias Kethu alias Ketayap alias Kufi. Nama bolah beda namun sama bendanya, sama-sama penutup kepala untuk sholat atau kondangan. 
Pada postingan kali ini, saya fokus pada peci yang dipakai oleh muslim pada masyarakat Desa Ganjaran Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang. Tipologi yang saya sajikan berdasarkan pada pengamatan langsung di lapangan -kebetulan dalam pendampingan mahasiswa Antropologi Budaya Universitas Brawijaya angkatan pertama melakukan KKN (PKL) perdana di Gondanglegi 9-12 Juli 2012- serta keterlibatan langsung mengikuti aktivitas masyarakat. 
Tipologi Kopyah (Peci)
Desa Ganjaran adalah kawasan yang spesial terutama untuk mereka yang mencari pencerahan, satu desa penduduknya ribuan dan yang istimewa terdapat pondok pesantren yang berjumlah lebih dari 10 buah. Salah satu aparat Desa Gondanglegi Wetan (sebut saja Bunga, bukan nama sebenarnya:) mengatakan bahwa jumlah pondol pesantren di Desa Ganjaran adalah 27 buah. Ganjaran dalam bahasa Jawa berarti Pahala, maka tidak heran jika aktivitas keagamaan yang penuh pahala menjadi makanan sehari-hari masyarakat desa dan sekitarnya.Walaupun terdapat paradoks yang kontras, misalnya gang 1 sedang ngaji dan sholawatan tapi gang 2 memutar musik dangdut koplo karena ada yang sedang punya hajat. 
Berdasarkan pengamatan dan analisa saya, keragaman pondok pesantren berpengaruh pada keragaman gaya busana muslimah yang dipakai oleh para santrinya. Ada pondok yang mewajibkan santrinya keluar dengan tetap menggunakan atribut yang berhubungan dengan 'almamaternya', ada yang mengharuskan keluar pondok dengan memakai perlengkapan standar seperti sarung, baju lengan panjang dan kopiah alias peci. Ada pula pondok yang sudah moderat dengan membebaskan santrinya keluar dengan busana apa saja, walau berkaos tengkorak yang penting tertutup auratnya.  
Peci di Desa Ganjaran saya bedakan menjadi lima macam, yaitu Peci Pantheisme, Peci Berambut, Peci Kolaborasi, Peci Ulama NU dan Peci MP3. Peci Pantheisme adalah peci yang biasa kita temui pada masyarakat Madura, terbuat dari beludru hitam dengan tinggi yang tidak seperti peci kebanyakan. Berdasarkan penuturan teman asal Pamekasan-Madura, peci orang Madura memang dibuat tinggi sebagai upaya untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu peci ini saya namai Peci Pantheisme, Peci yang bisa mendekatkan diri lebih cepat dengan Tuhan, istilah Javanismenya Manunggaling Kawulo lan Gusti. Peci ini biasanya di pakai oleh tokoh tertentu dalam masyarakat Madura seperti Klebun (lurah), Tokoh adat, Tokoh agama sampai pentolan preman yang berjiwa santri. Peci yang kedua adalah Peci Berambut, bentuknya seperti peci yang bulat dan bermotif hanya saja yang membedakan adalah terdapat benang yang menjulur keluar di tengah bagian atas peci ini. Awalnya saya kira peci ini adalah peci yang belum jadi atau peci gagal produksi, namun setelah saya telusuri tenyata beberapa orang memakai tipe yang sama bahkan tersedia di pedagang kaki lima khusus peralatan sholat dan busana muslim.
Peci ketiga adalah Peci Kolaborasi, yaitu peci yang terbentuk dari perpaduan antara peci dengan sorban yang dililit melingkat pada bagian bawah. Kalau kita ingat tokoh pahlawan perang Aceh: Tengku Umar, maka bentuk penutup kepalanya tidak jauh dengan peci model ini. Peci ini biasa dipakai oleh pemimpin pengajian yang biasa disebut Habib. Peci yang keempat adalah Peci Ulama NU, sekilas kalau dilihat dari belakang seperti orang pakai kerudung. Model ini biasa dipakai oleh tokoh agama baik itu ulama atau kyai yang cukup senior (baca sepuh) -berilmu tinggi, berkaromah, mempunyai banyak santri dan sering menjadi tokoh penting dalam kehidupan keagamaan di wilayahnya-, Peci ini adalah perpaduan peci kotak dengan sorban yang biasa dipakai alas sholat sekaligus penanda busana muslim yang paling menonjol untuk seseorang yang mempunyai kedudukan lebih dalam hal keilmuan dan kesalehan. Peci kelima adalah Peci MP3, peci ini saya lihat ketika sholat Jamaah di langgar (surau) yang berada di depan penginapan mahasiswa putri di Desa Ganjaran. Awal melihat biasa, namun setelah menelusuri lebih dalam akhirnya baru sadar kalau motofnya mirip dengan tombol yang biasa kita lihat di remote control VCD player atau Ipod serta pemutar musik manapun baik yang berupa Gadget atau Software. Konsentrasi dan kekhusukan doa saya setelah sholat Maghrib sempat terganggu gara-gara motif peci ini, dan dari situlah muncul ide postingan ini. 
Mengaji bersama Hubbun Nabi, Desa Ganjaran Gondanglegi Malang (Courtesy of Bayu Lalu's Photo)
Gambar di atas adalah salah satu aktivitas mahasiswa dalam rangka KKN perdana yang berbasis Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat.  Kebetulan malam itu, tepatnya tanggal 9 Juli 2012, salah satu pondok mengadakan acara rutin yang disebut Jamaah Hubbun Nabi. Mahasiswa dan saya berpartisipasi aktif dalam rangka pendekatan dan pengenalan masyarakat atau lebih dikenal orientasi medan. Pada kesempatan itu, karena tidak membawa peci saya membeli peci di depan masjid seharga lima ribu rupiah dengan bentuk peci bulat. Salah satu bentuk peci favorit saya yang tidak ribet karena bisa disimpan dengan praktis, bisa dicuci dan elastis. Apapun bentuk pecinya tujuannya tetap sama yaitu mendekatkan diri pada Tuhan yang Maha Esa. Selamat menyongsong bulan Puasa, Salam Ngartun.