Advertisment

Monday, August 31, 2015

10 Fakta Unik Karnaval Mancing Kulon Progo (MKP) 2015

Pengalaman perdana berkarnaval dengan Mancing Kulon Progo tanggal 26 Agustus 2015 merupakan momen yang berharga. Luar biasa, saya bertemu langsung dengan para pemancing yang biasa menghiasi dunia maya dengan berbagai aktivitas, tangkapan dan keluh kesahnya. Karnaval bersama MKP saya ibaratkan sebagai memancing di jalanan (Fishing on the Street). Sejak pukul 08:00 WIB sampai pukul 18:00 WIB saya turut serta dalam aktivitas mulia, berkampanye memancing sebagai solusi kali yang lestari. Selama sepuluh jam di lapangan itulah saya menemukan berbagai hal yang menarik tentang karnaval pemancing Kulon Progo. Berikut ini adalah faktanya: 

1. Bagi pemancing, matahari di jalan lebih panas daripada di spot mancing 
Ngemper ngarep lapak pasar

Ini terbukti beberapa saat sebelum karnaval memasuki garis start. Ketika matahari mulai naik di ubun-ubun, udara yang panas membuat beberapa peserta mencari tempat berteduh. Dari mencari perlindungan di pinggir jalan, bawah pohon, emperan toko, bayangan spanduk, sampai mencari lindungan di bawah ikan pari raksasa. 
Ini berbeda saat mereka berada di spot mancing, panas matahari apapun tetap asyik. Entah di pinggir kali atau pinggir pantai. Apalagi kalau sedang plung nyot, matahari runtuhpun tetap asyik dengan konsen pada joran dan senar. 

2. Peserta karnaval MKP ter-imut yang masih kelas 2 SD
Calon pemancing harapan bangsa
Anda adalah orang yang malas untuk berjalan kaki? Apakah anda cepat lelah ketika jalan jauh? Apakah anda tidak kuat jalan di tengah teriknya panas matahari?. Jika itu terjadi pada anda yang masih berusia relatif muda. Maka anda patut malu pada anak kecil. Salah satu peserta karnaval membawa serta gadis imutnya. Saya menanyakan sekolah kelas berapa? masih kelas 2 Sekolah Dasar (SD). Saya terkagum-kagum. Gokil ini kecil-kecil susah sanggup berjalan jauh dengan senang riang. Dari titik awal sampai ke finish, sebuah tongkat mainan ala dirigen drumband menjadi pelepas penat dan lelah diakhir karnaval. 
Kecil-kecil cabe rawit


3. Mancing itu pemersatu 
Guyup
Memancing dan berkomunitas itu menyenangkan. Akrab di dunia maya, lebih akrab lagi di dunia nyata. Begitu bertemu teman-teman sesama pemancing, kami banyak membicarakan tentang spot, teknik, pengalaman mancing, dan tentu saja peralatan. Seperti bertemu keluarga, itulah pemancing yang merasa setiap pemancing adalah saudara seperjuangan, saudara seperjoranan. Tidak heran jika saya melihat keakraban yang berlanjut pada aksi solidaritas jika ada saudara pemancing yang sedang mengalami kesusahan.

4. Pemancing sejati punya prinsip SING PENTING YAKIN
Sing penting yakin Dab !
Memancing itu mengajarkan kita menjadi orang yang optimis. Sing penting yakin !. Itu slogan yang umum dipakai ketika kita sedang mengail di spot baru. Atau ketika melihat pemancing lain sudah mendapat ikan sementara kita sendiri belum. Pemancing sejati selalu antusias jika melihat fenomena yang berhubungan dengan air. Ada sungai, danau, pantai, pemecah ombak, sampai bila perlu kubangan air di tepi jalan. Sing penting yakin, karena tidak ada yang bisa mengalahkan the power of yakin.

5. Akik batu kali itu lebih cihuy 
Progo Gems, Jam Watu
Saya kira hanya gerombolan kami saja yang menikmati anugrah melimpah di pesisir pantai selatan. Mancing di tepi muara Banaran dan mendapat bonus batu. Diolah dan digosok menjadi akik. Ketika rombongan karnaval berada di depan SMK N Pengasih, tidak disangka saya melihat jam batu. Batu yang ditaruh di bekas alroji. Usust punya usut, tenyata batu tersebut diperoleh di kali Progo. Itulah manfaat lain mancing, sering blusukan di kali bisa menemukan batu kali.

6. Ikan pari dikira layang-layang 
Layang-layang raksasa
Saat rombongan karnaval MKP melintas, dengan membawa replika ikan pari (Stingray). Ikan pari atau Manta birostris merupakan ikan favorit bagi pemancing di lautan. Bentuknya mirip pesawat luar angkasa dalam film fiksi ilmiah. Saat membawa ikan pari menyusi jalan ada beragam penafsiran penonton. Dari yang mengira kami membawa layangan, ada yang tanya ikan pari sebesar itu didapatkan di mana, ada yang bilang dimasak saja ramai-ramai, sampai ada yang terkejut saat kami menggerak-gerakan ikan replika ini seakan sedang menggeliat berenang di lautan bebas. 

7. Banyak yang mengira Sidat itu Belut 
Penggembala Sidat
Sidat (ordo Anguilliformes) memang sekilas mirip belut jika dilihat sekilas lalu. Secara tempat hidup dan gaya hidup keduanya berbeda. Sidat mempunyai keunikan, berkembang biak di pesisir dan membesarkan diri di sungai. Itu semacam siklus hidup yang tidak dimiliki oleh semua ikan. Nah pada saat rombongan MKP membawa sidat keliling kota, tidak sedikit yang menyangka kami membawa replika belut. Bahkan pada awal keberangkatan, pembawa acara bilang kami membawa belut dan dia curhat kalau doyan belut. Saya kebetulan mendengar sendiri, dan bilang pada orang di sebelah: "Sidat jare welut" sambil tersenyum kecut.

8. Joran pasiran itu jangkung dan nyaris nyetrum 

Joran Tepi Laut
Karnaval MKP melibatkan semua aliran dan kegemaran pemancing. Dari pemancing tegeg, pemancing belanak, pemancing kali, pemancing sidat, pemancing pemecah ombak, sampai pemancing pasiran. Yang menarik pemancing pasiran, membawa joran super jangkung. Dengan panjang yang sampai hampir setara tiang telepon, melintasi jalanan kota. Untung si empu joran pasiran waspada. Setiap melewati halang rintang kabel listrik, segera menarik mundurkan joran agar tidak menyangkut di listrik. Saya kuatir kalau sampai terkena kabel yang melintang dan nyetrum. Setrum listrik tentunya lebih 'dasyat' dari pada setrum ubur-ubur.

9. Ada bakul burjo nyambi dagang Lele 
Monggo ingkang kerso ulam Lele..
Anggota MKP terdiri dari beragam latarbelakang, termasuk pekerjaan. Ketika ada pemancing yang membawa ikan lele segar dan still alive, turut serta dalam karnaval. Lele tersebut menjadi salah satu pusat perhatian. Adalah Mas Ipong, yang sempat beralih profesi sejenak, dari mengurus warung burjo menjadi penjaja ikan lele segar. Fresh from the fishing spot.

 10. Rahasia kuat jalan siang itu es lilin dan arem-arem

Ransum S
Perjalanan menusuri pusat kota Wates, bantaran kereta api, jalanan yang panas, persawahan, pinggir kali sampai pinggiran kebun tebu pada karnaval MKP tidak bisa lepas dari konsumsi. Selain air minum, bakmi gratisan ada rahasia kuat. Es lilin untuk kesegaran bersama menghadapi panasnya mentari siang. Untuk tenaga, kami mempunyai PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Arem-Arem).

Itulah beberapa fakta menarik yang saya amati dan catat saat mengikuti karnaval Mancing Kulon Progo. Salam Paseduluran, Saudara Senasib Seperjoranan.

Bonus Track: 




4 comments:

  1. Replies
    1. matur nuwun Mas Alam..pokok apapun tentang mancing tak simpan, catat dan tulis...selamat berlagunaria di Glagah :)

      Delete
  2. Replies
    1. Terima kasih Mas Tejo telah mampir ke blog saya...semoga bisa mencerahkan dan menghibur semuanya.

      Delete