Advertisment

Saturday, June 13, 2015

Uncal plung-nyot di Muara Congot Jangkaran Temon (Ayo Memancing IX)

Jangkaran-Temon,  23+24 Mei 2015
Muara pagi ini...
Selepas mewarnai kali serang dengan kedung Tegaron yang ngeri-ngeri sedap tapi bikin kangen. Saya dan Gotir mencoba spot baru. Spot yang dijamin lebih dingin dan berangin. Muara. Kawasan hilir yang tidak jauh dari laut. Memancing di area muara, kita akan mendengar deru ombak laut selatan yang gemuruh seperti suara kereta. Ada pula aktifitas nelayan. Dan yang bikin ngeri adalah melihat lalu lalang pemancing yang kerap membawa peralatan pancing dengan harga jutaan. Pancing pasiran yang selalu jadi impian.
..matahari dual...
Setelah boncos beberapa jam, malah dapat cawet di muara Glagah. Kami memutuskan pindah ke daerah Jangkaran. Ada penunjuk jalan menuju Pantai Congot. Obyek wisata paling kulon kulone kulon progo yang belum pernah sekalipun saya kunjungi. Ada suasana berbeda ketika sampai di tepi barat kali muara congot. Kali ini disebut sebagai kali Bogowonto. Memiliki arus yang fluktuatif karena ditentukan oleh bulan, arus laut, dan pasang surut air laut.
..ada yang mancing ada yang menjaring...
Kami sampai di muara ini pada tengah malam. Saat itu arus dengan kuatnya mengarah ke laut. Tidak disangka di sini juga sama boncosnya. Tapi nasi telah menjadi bubur, sebaiknya menikmati keadaan. Tiker digelar dan saya siap merebahkan tubuh sampai tertidur di pinggir kali. Sayup-sayup terdengar adzan subuh. Rupanya tertidur pulas di pinggir kali sampai subuh. Badan lelah setelah sebelumnya bekerja menjadikan saya cuek pada dinginnya udara dan suara mesin diesel kincir tambak udang yang tidak jauh dari spot kami. Umpan irisan belut yang ditemukan di tepi muara Glagah tidak efektif. Bahkan subuh itu, saya harus berjibaku di tepi kali karena arus besar telah menyeret pancing sampai ke tepian. Dicoba ditarik tetapi seperti terhambat sesuatu di tepian. Saya telusuri sampai ujung senar. 

Berbekal sedikit kesadaran setelah bangun tidur dan sepatu gunung tanpa kuatir terpeleset. Saya terus menuruni batuan besar. Ujung senar yang dekat pada mata pancing terkena batu. Dicoba tarik makin kencang. Tak sadar senar yang dipakai berukuran kecil, tarikan yang kuat dan bertubi-tubi memusnahkan harapan. Senar putus beserta rangkaian mata kailnya.Termasuk rangkaian kail yang saya di toko pancing kesayangan yang berada di Pasuruan. Hilang tertelan batu dan karang. Tidak perlu meratapi nasib, ada ombyok bathok yang bisa dipakai. Saat mentari mulai muncul tiba-tiba secara sporadis, ujung joran sering bergetar. Ada serangan keting pagi ini.
...setelah menunggu sejak masuk subuh...
Walau ikan kething yang didapat tapi kami tetap bahagia. Sedikit demi sedikit lama-lama bisa jadi lauk sarapan. Lundu (Mystus nigriceps) adalah nama ilmiah dari ikan keting. Daerah lain menyebut ikan berkumis penuh wibawa ini dengan tendon, kating, ndaringan, menyengat, senggiringan, ririgi, kelibere. Apapun namanya tetap menjadi ikan imut nan berbahaya kalau kita tidak waspada. Ada patil yang siap menusuk siapapun yang tidak waspada. Apa bedanya ikan keting dengan sembilang? Lundu (Mystus nigriceps) Tendon Ikan ini mirip dengan ikan Sembilang sekilas namun dengan ukuran yang lebih kecil dengan ekor yang memiliki cabang sebanyak 2.
...the power of ombyok batok...
Ada pengalaman kurang menyenangkan jika bertemu dan menyentuh ikan ini. Pada masa SD di kampung, saat sedang buri (menangkap ikan dengan tangan kosong ketika air sungai surut). Karena berlarian rebutan ikan saya tidak sadar melewati kubangan lumpur yang di dalamnya penih dengan keting. Saya masih ingat, di kali depan balai desa. Ada sesuatu yang menusuk di kaki. Tepatnya tulang keling dan daerah paha. Rupanya ada ikan keting, tidak hanya seekor tapi tiga ekor yang bertengger di kaki. Satu dapat dicabut dengan berbekal tekad yang kuat. Sakitnya terasa perih. Saya menyuruh teman untuk mengencingi kaki yang masih ada dua keting sedang asyik bertengger. Siapa tahu karena kena urine, akhirnya keting melepaskan patilnya. Alasannya bukan itu. Air kencing dapat menjadi obat luar yang efektif karena ada beberapa zat yang masih dapat digunakan oleh tubuh walaupun telah dibuang. 1x pembuangan Rp 2.000; kalau di toilet umum. Begitu kena air seni, satu keting dapat tercabut. Tinggal keting ketiga yang malah semakin merapatkan barisan ke kaki. Alhasil ritual tahunan kala kemarau di kali itu harus berujung pada dokter di puskesmas. Inilah karena keting sampai masuk puskesmas.
...Gotir bersama pemancing ikan Blanak dari Magelang...
Kembali ke cerita mancing di Congot. Pagi itu ada seorang bapak naik mobil yang berhenti di belakang spot memancing kami. Rupanya beliau adalah pemancing target ikan belanak yang berasal dari Magelang. dibelani berangkat pagi buta untuk mengejar jam makan ikan belanak (Valamugil Seheli). Ikan belanak sekilas mirip bandeng. Ikan belanak itu ikan yang suka mulet, blue-spot mullet atau blue-tail mullet. Bukan mulet menggeliat dalam bahasa Jawa, tapi mulet sebutan orang barat.
Cara mancingnya dengan dibom. Bukan peledak tapi umpan khusus yang bahannya mirip bahan untuk membuat roti. Dengan tepung terigu, telor, esense dan sedikit pelet. Tidak lupa sesendok besar doa dan pengharapan agar tidak boncos. Bapak pemancing belanak ini kemudian mencari spot di sebelah kami dan membawa 5 peralatan pancing yang seragam. Mungkin waktu belinya grosir, tidak eceran.
...ini mancing apa camping dro' ?..

Karena harus ngantor, maka pukul 08:30 WIB kami meninggalkan spot dengan membawa seperangkat ikan keting lengkap beserta patilnya. Sementara bapak pemancing Belanak, meneruskan misinya di tempat yang sebelumnya kami gunakan untuk 'camping'.
..Rully Galundeng...
Cerita berlanjut saat beberapa hari kemudian saya kembali dengan membawa rombongan pemancing dari kantor. Dengan lokasi tetap di muara Congot. Saya bersama Tri Setro berangkat lebih dahulu. Tri Gotir dan Rully menyusul. Oh ya, Rully adalah salah satu peserta didik di kantor yang mempunyai hobi memancing. Dia yang menunjukan spot mancing menyerupai game metal slug di dekat spirit, Pengasih. Kali ini doi ingin merasakan memancing di muara kali Bogowonto. Dia membawa seperangkat jajan khas Kulon Progo, namanya Galundeng. Orang galau dilarang makan jajan ini, Galundeng, dalam intrepetasi saya berarti galau langsung gendheng.
....Tri Setro dan baronang..
Angin sepoi-sepoi tepi muara turut mempermainkan acara mancing kali ini, ditambah arus air yang tidak jelas juntungannya. Kadang pasang, kadang surut. Duduk sekitar satu jam setengah tidak ada satu tarikan di ujung joran. Tapi ketika hari memasuki ujung siang, ada titik terang. Joran bergoyang bergantian. Kali ini ada varian pula ikan yang didapat. Tidak hanya keting. Kami juga dapat ikan baronang (Siganus sp). Ikan yang daya kenyontnya lumayan keren. Tapi untuk masalah perlawanan sampai ke daratan tidak sekeras ikan mangar.


...kadang sayang untuk digoreng...
Ikan Manggar/mangar/mangrove jack dikenal sebagai ikan kakap merah bakau. Saya sendiri belum pernah merasakan bagaimana memancing ikan ini plus sensasinya. Karena ikan ini mempunyai prosedur pemancingan yang khusus. Seperti sidat, anti cahaya. Jam makan juga ada jadwal khusus. Umpan yang dipakai direkomendasikan umpan hidup. Tapi siang itu saya ada kesempatan untuk memegang ikan mangar yang terhanyut ikut arus menuju ke laut. Ikan ini telah mati. Tapi saya punya kesempatan untuk memegang, mengabadikan dan tentunya merasakan baunya ikan yang membangkai ini.
...next target: Mangar Fish...
Perjuangan di muara Congot kali ini kami batasi sampai menjelang malam. Hasil melimpah, sampai yang bagian seksi masak cukup kerepotan. Tapi puas karena lauk ikan yang tersaji di meja makan kantor kami lebih besar dari biasanya. Salam pancing, saudara senasib seperjoranan.
...laris manis...
Bonus Track:


...sisi utara jembatan...


..ketika malam banyak yang meregang joran dari jembatan.

No comments:

Post a Comment