Advertisment

Saturday, June 6, 2015

Banaran Trisik Galur (Ayo Memancing V)

 Banaran Galur - Kulonprogo 19 Maret 2015
Boncoser in Action @muara Banaran


Selepas boncos di Waduk Sermo, kami menuju ke lokasi lain yaitu Banaran. Di sana terdapat sebuah muara yang berhubung dengan sungai progo dan laut selatan. Beberapa tahun silam, saat melakukan riset bersama PSAP UGM iseng-iseng saat menunggu kedatangan peneliti lain. Saya main ke pantai selatan dan melihat aktivitas mancing di sana. Sasaran utama saya adalah dam dekat bekas pabrik yang sekarang dialihfungsihkan tanahnya untuk pertambakan. Tambak udang, sebuah komoditi dan ‘mainan’ baru di pesisir selatan Jogjakarta. Ternyata spot idaman telah ramai oleh para pemancing yang datang terlebih dahulu. Memadati hampir seluruh bagian jembatan. Kami melaju di sisi selatan sungai, tapi tidak ada spot yang asyik. 


Hamparan Sandal


Lalu kami berangkat menuju muara paling selatan. Beberapa tahun silam, daerah ini masih pantai berpasir. Sekarang berupa tanah pasir luas membentang yang ditanami cemara udang/cemara laut pada beberapa bagian. Terbentang sampah yang berasal dari daratan Jogja di sisi sebelah utara. Dari yang natural seperti kelapa, kayu dan bambu sampai sampah yang buatan manusia seperti plastik, kemasan makanan, kaleng sampai sandal jepit. 


Pemancing Pasiran




Keting Muara


Khusus sandal jepit, ada daerah yang menjadi tempat berkumpulnya sandal jepit bekas berbagai ukuran. Siang itu, laut sedang surut, meskipun air dari hulu berdatangan dengan sangat kencang. Maklum musim hujan dan banjir. Air berwarna kopi susu, coklat seperti capucino. Saya melihat pemancing yang menggunakan joran khusus pasiran, besar dan panjang. Joran apa tiang listrik Ndro?. Itu awal saya melihat pemancing yang dengan kuat dan tegar memancing di tengah matahari yang menyengat plus suara debur ombak yang menggelegar. Pemancing pasiran (sand fisherman) ini memakai umpan udang hidup yang dipotong-potong dan ikan yang didapat adalah ikan keting muara yang ukurannya relatif besar. Soal pancing menggunakan tali khusus dengan teknik percabangan yang banyak. Arus deras bukan masalah, karena dilengkapi dengan pemberat yang terbuat dari timah.

Itu Joran Apa Tiang Listrik Ndo?
Tips mancing di muara berpasir (tempuran): Gunakan alat pancing yang diperuntukan untuk memancing pasiran. Soal harganya relatif mahal, nabung dulu ya. Musim hujan kurang aman untuk mancing pasiran karena laut bergolak rawan badai dan petir.

Siap Tempur dab

Siap Tempur

Tempur di tempuran


Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan bertemu dengan muara untuk merentangkan joran. Berburu ikan apapun yang doyan cacing unthel. Ternyata sekali lempar, arus dengan deras menggeser senar dan pancing dengan cepat. Padahal telah memakai timbel. Usut punya usut, ternyata untuk memancing di tempat seperti ini menggunakan teknis khusus dan alat yang khusus pula.


Galau Melanda Kembali



Karena arus tidak bersahabat, kami berpindah menuju ke lokasi lain. Pada spot yang penuh perjuangan. Ada jalan yang penuh dengan air. Semacam halang rintang ala benteng tekeshi. Naik motor harus turun salah satu, jika tidak ingin malu jika sampai terjatuh, terhempas dan basah. Tantangan di spot ini berlanjut pada adanya tanah berpasir dan berbatu yang harus dilewati. Otomotis motor harus dilewati oleh satu orang saja. Saya berjalan sambil konsentrasi melihat batu-batu yang tertata oleh ombak muara. Siapa tahu ada yang bisa digosok jadi akik. Ternyata ada salah satu anggota rombongan yang menemukan batu. Dialah Tri Kus (Mbud, bukan nama sebenarnya-red) yang menemukan batu eksotis dan rencananya akan kami gosok untuk dijadikan akik bersama. Memang insting kebatuan dari orang Kebumen telah teruji di sini. 


Joran Aragon feat Joran Patang Ewuan

Mustika Ndolalak Manjing Sipat


Sampai matahari menggelayut menuju ke barat, kami masih boncos. Baru menjelang senja, dengan the Power of ombyok batok. Gotir berhasl mengangkat ikan kething imut yang khilaf. Suasana sore di sini begitu menyenangkan. Saat ombak mulai menyerang seiring air laut yang naik, kami memutuskan untuk mundur. Ada insiden kecil saat ombak besar menyerang joran patang ewuan tersapu ombak sampai hilang. Saya sempat panik, tapi untung dengan tangan dingin Tri Setro joran kembali didapatkan. Senja sampai malam kami habiskan di muara. Karena penghasilan kurang memuaskan, kami pindah ke kali Mboro, BRI Karang Sewu ke kiri. Malam semakin larut dan kami terus keasyikan mendapatkan ikan kething yang jumlahnya semakin bertambah dan meramaikan tas kresek. Sementara saya memilih untuk tiduran di rerumputan sambil melihat indahnya bintang. 

 Bonus Track:
Obat Boncos

Perjuangan ke TKP

Pantang Pulang Walau Petang


No comments:

Post a Comment