Advertisment

Saturday, January 5, 2013

Hidup di Jogjakarta (part 1)

Etnokartunologi (Padepokan Taman Tirto) Jogjakarta kota budaya dan kota pelajar, sebagai tujuan pariwisata yang diperhitungkan untuk mengembangkan sektor pariwisata nasional. Tidak terasa sudah beberapa lama ngunduh kaweruh akhirnya sudah mulai adaptasi dengan lingkungan Jogjakarta. September 2012 adalah awal saya menginjakan kaki di bumi Sultan ini. Kos bersama teman main CS dulu, Muflih, di daerah yang kondusif untuk belajar, sepi, pedesaan dan jauh dari gangguan batiniah dan syahwatiniah
Tirakat Room
Setiap waktu jika tidak sedang kuliah dihabiskan dengan belajar di kamar kos dengan lingkup satu karpet anti rematik warna biru. Tidur tanpa kasur membuat saya tidak bisa bermalas-malasan karena setiap bangun pasti punggung agak sakit dan kulit terdapat tanda relief motif karpet. Tapi semua itu adalah bagian dari perjuangan, tanda lebam atau apapun habis tidur menjadi pengingat untuk selalu keras berusaha. Dua tahun adalah target untuk menjalani semua aktivitas yang menyita pikiran ini. Insomnia kadang menganggu jika disertai kumatnya anemia, karena untuk membaca atau ngartun mata tidak bisa fokus karena selalu berkunang-kunang. Terinsirasi dari cerita dalam manga One Piece karya Eichiro Oda, dimana ada salah satu segmen ketika Ruffy dan para krunya diasingkan oleh kuma, ternyata 2 tahun dalam pengasingan tersebut masing-masing kru dibuang pada tempat yang dijadikan untuk mengembangkan kemampuan. Dua tahun Ruffy bersama dengan Raleigh, seorang anggota bajak laut jaman jadul era Roger yang mengajarinya banyak hal. Selain ketegaran, sikap pemberani juga ilmu haki. Ilmu idaman para Bajak Laut karena hanya dengan kekuatan dari tatapan mata sampai teriakan bisa mengalahkan apa saja. 
Ruffy and Raleigh: my inspiration

Setelah proses mutasi untuk tetap mengajar di Ganesha Operation Jogjakarta aktivitas bertambah, mengajat bimbel. Bergabung dan mengajar kembali pada 24 September 2012, memulai adaptasi dengan para ABG-ABG kota Gudeg. Lingkungan yang berbeda secara natural dan kultural membuat saya semakin memahami perlunya untuk menguatkan diri dalam berbagai situasi. Tapi ada keuntungan yang ketika pindah ke Jogja adalah jarang mengeluh kepanasan lagi. 
Berangkat kuliah, mengajar dan keterminal dengan revoabang kencana
Salah satu yang membuat mengeluh dari Jogja adalah cara dan pola bermotor masyarakatnya, kecepatannya dibawah standar rata-rata Surabaya. Jika di Surabaya kita bisa melaju sesukanya bahkan pada saat lampu merah sekalipun, justru berbanding terbalik di sini. Kecepatan standar rata-rata setelah saya amati hanya di bawah 40 km per jam. Begitu juga untuk yang pengguna motor luar Jogja seperti daerah Kulon Progo. Walau jalur luar kota, masyarakat sana tetap menggunakan kecepatan yang sama, kecuali orang-orang luar daerah. Pengalaman yang tidak pernah terlupakan adalah membleyer (memindah gigi sambil pasang gas sehingga menimbulkan suara keras) orang yang bermotor sangat pelan dengan posisi di tengah akibat saya klakson tapi tidak memperhatikan. Akhirnya muncul inisiatif untuk memepet orang tersebut terus mbleyer sekencang mungkin. Bukannya marah tapi orang tersebut masih asyik pada jalurnya dan tersenyum simpul sambil mengganggukkan kepala. Intepretasi saya adalah orang tersebut berkata: "monggo mas di bleyer ingkang kenceng, kulo lempeng-lempeng mawon". Bermotor dengan membawa kebiasaan di jalan Prapen Surabaya dan Gedangan Sidoarjo membuat setiap lampu menyala hijau di bangjo, revo merahku (revoabang kencana) selalu juara paling tidak lima besar. Musuh duel balapan di jalan hanya motor-motor nopol luar kota seperti plat N, D, B dan musuh bebuyutan yang bernama Yamaha RX-King, raja jalanana terbaru di Jogja raya. (Bersambung dalam edisi aktivitas mengajar)