Advertisment

Monday, April 23, 2012

Tribute to Pak Raden (Drs Suyadi) - Intro

Etnokartunologi (Kamar Kos-Sby). Beberapa waktu lalu di berbagai pemberitaan memuat tentang masa tua Drs. Suyadi yang tidak lain adalah tokoh Pak Raden yang biasa kita temui dalam Si Unyil. Pada era tahun 90-an, setiap hati minggu dan rabu saat masih kecil saya biasa nonton  acara ngartun Si Unyil, sebuah tayangan buatan dalam negeri yang mendidik. Salah satu karakter dalam Si Unyil yang tidak pernah saya lupakan selain Pak Ogah adalah Pak Raden. Kenapa tidak bisa melupakan dua tokoh ini, alasannya cukup simpel karena kedua tokoh ini bersifat aplikatif artinya bisa diterapkan sebagai ikon untuk seseorang yang berdandan seperti Pak Raden atau Pak Ogah. 
Pak Raden (Drs. Suyadi)
Tetangga saya di kampung ada yang di kenal dengan nama Pak Raden karena kegemarannya memelihara kumis yang lebat, walau tanpa memakai beskap Jawa dan tongkat tetap orang kampung menyebutnya Pak Raden. Ada lagi seorang teman sekolah yang aslinya bernama Slamet, tapi karena pada masa kecil suka berambut gundul, maka teman-teman memanggilnya Pak Ogah sampai sekarang beberapa sahabat SD mengenalnya sebagai Pak Ogah. 
Pak Raden adalah tokoh di tayangan Si Unyil yang saya takuti karena melihat bentuk kumis dan suaranya yang menggelegar membuat saya pernah sawanan saat masa kecil melihat Unyil di TVRI. Namun ketakutan tersebut berubah menjadi kekaguman, saat melihat Pak Raden (Drs. Suyadi) menjadi pemandu di acara gambar anak-anak dan sejak saat itu ada keinginan untuk menjadi seorang pengajar gambar anak yang bersifat on the spot ala Pak Tino Sidin. 
Pak Raden adalah sosok seniman yang mempunyai kecintaan besar pada dunia anak-anak. Lahir di Jember Jawa Timur pada tanggal  28 November 1932. Walau tidak muda lagi namun beliau tetap enerjik bernyanyi di depan teras rumahnya di Jalan Petamburan III Jakarta. Kalau bicara soal kelahiran, maka Pak Raden adalah satu kampung dengan Mbah Sujiwo Tedjo-Presiden dari Republik Jancuk. Pak Raden tidak menikah dan tidak punya anak. Beliau tinggal bersama dua orang pengasuhnya Pak Madun dan Pak Nanang. Menurut Madun, pembantunya, Pak Raden menggantungkan hidupnya dari melukis dan juga melakukan pertunjukan boneka sebagai keahlian. Seiring dengan perkembangan jaman dan usia, pertunjukan boneka merosot tidak seperti jaman masa jayanya si Unyil.
Permasalahan terjadi saat tidak ada pengakuan terhadap karakter si Unyil yang sebenarnya diciptakan oleh Drs. Suyadi dan itulah yang sedang dipergunjingkan bahkan diperjuangkan oleh teman-teman Kartunis dan sesama Tukang Gambar di seluruh Indonesia. Atas prakarsa teman-teman Persatuan Kartunis Indonesia (PAKARTI) terbentuklah gerakan 1000 karikatur untuk Pak Raden yang dimotori oleh Pak Jan Praba. 

Jan Praba




Sampai tanggal 23 April 2012 tercatat 214 karikatur masuk dalam email khusus gerakan 1000 karkatur untuk Pak Raden (karikaturpakraden@gmail.com) dan ini dipastikan akan terus bertambah. Kalai ini saya akan memposting beberapa karya untuk Pak Raden yang pertama kali masuk sejak awal deklarasi gerakan Tribute to Pak Raden dan segera saya tangkap dengan klik kanan save as image as .... Langsung menuju TKP: 

Jan Praba's artwork

Henri Mc Donal's artwork

Djoko Susil's artwork

Andy Santajay's artwork

Dwi Gondrong S's artwork
Gambar di atas adalah beberapa gambar yang sekarang menjadi bagian penyemangat perjuangan Pak Raden dalam memperjuangkan Si Unyil. Tunggu perkembangan berikutnya tentang Tribute to Pak Raden dalam kajian yang lain..bagi yang merasa bisa gambar atau sekadar corat coret dan mau menggambar Pak Raden. Kirimkan karya anda yang high resolution setara kertas A3 ke karikaturpakraden@gmail.com. Salam Ngartun :)



No comments:

Post a Comment