Advertisment

Thursday, October 1, 2015

Batikku Punya Cerita

›Batik punya publik. Salah satu kekayaan khasanah budaya nusantara kini telah menjadi aset tak terkira. Dan selayaknya untuk selalu dijaga. Batik Indonesia tersebar di mana-mana. Dari papua sampai Sabang. Mempunyai ciri khas tersendiri yang mencerminkan masyarakatnya. Cerita batik, batik yang bercerita. Ada cerminan masyarakat dari selembar kain batik. Dari motif, proses, pemakaian sampai pemasaran. Batik (menghamba pada titik-kata majalah Gong) menjadikan masyarakat Indonesia mempunyai identitas khas dalam tata busana. Fashion Coordinate, demikian Roland Barthes menyebut satu struktur sosio-kultural dalam berpakaian. Batik dapat mencerminkan kelas sosial penggunanya, belakangan mencerminkan kelas dan selera pembelinya. Coba bandingkan harga batik grosiran dengan sepasang batik di gerai ternama pada pusat perbelanjaan di kota anda. Tentu ada perbandingan dan selisih antara langit dengan bumi. -Dua tahun yang lalu. Saya berkesempatan bersama UGM melakukan riset tentang batik di Jogja dan Madura. Fokusnya tentang pewarna alami dalam penggunaannya dan daya saingnya. Sepulang dari lapangan, saya sadar sebetulnya ada permasalahan yang pelik dalam selembar batik. Bahan kain, pewarna dan peralatan yang serba impor. Saya mendapatinya waktu ngulik di salah satu tempat pembuatan batik. Aslinya di sekitar kita terbentang aneka potensi atas nama persaingan pasar. Siapa yang patut disalahkan? Siapa yang patut berbenah?. Semua tentunya. Kabeh podho dene, kata wong Suroboyo. Tidak baik saling menyalahkan di era cyberspace yang membuat generasi bimbang. Membatik itu proses yang penuh filosofis, ada cerita, ada makna di motif dan tentunya pembuatnya. Itulah yang seharusnya kita renungkan dan benahi. Jangan cuma untuk seremonial saja, tapi perlu dipikir sampai ke ranah mondial (kata yang sering diucapkan oleh Prof Suhardi). Batik itu penghambaan pada titik, titik syukur atas segala anugerah untuk bangsa. Selamat hari batik 2015.

Batik Gentongan pada suatu resepsi di Sentolo-Kulon Progo

No comments:

Post a Comment