Advertisment

Tuesday, May 26, 2015

Awal Berjoran (Ayo Memancing part II)

Panjatan 11 Maret 2015
Tidak mudik ke Malang bukan berarti kesepian dan tanpa kegiatan. Ada kegiatan produktif di luar belajar, membaca dan menggambar yaitu memancing. Memancinglah dan Berbahagialah. Sebagai anak yang dibesarkan lingkungan tambak, mancing telah menjadi bagian hidup. Pokok lihat kali pinginnya mancing. Dulu ketika di Lamongan memancing dengan peralatan yang sederhana. Cukup bambu yang dikondisikan seperti joran tegeg, senar, mata pancing, dan potongan sandal jepit untuk pelampung.
Persiapan tempur, bengkel Tri Kus...
Lain tempat lain pula tekniknya, tidak disangka setelah hampir 2 tahun tinggal dan bekerja di Kulonprogo baru sadar kalau di sini adalah surganya pemancing. Beruntung bertemu teman-teman yang suka mancing. Ada Tri Gotir yang hapal spot dan Tri Kus yang menjadi seorang mekanik handal.
Desa Gesikan Panjatan sebagai spot perdana mencoba mancing di Kulon Progo. Tempat tinggal Pak Satpam Eko, Mbah Seblu yang lucu. Tidak jauh dari rumahnya terdapat sungai kecil yang menjadi sarana irigasi untuk sawah setempat. Awalnya saya meragukan apakah kali sekecil itu ada ikannya.
..bethik ketitik...tangkapan Tri Gotir
Sebelum memancing kami mencari cacing di sebelah kandang sapi. Dapat cacing tanah dengan postur kekar besar, seperti atlet binaraga. Setelah itu persiapan peralatan termasuk alat yang tidak boleh ditinggalkan ketika kita mancing malam hari yaitu fosfor. Piranti yang memudahkan kita mengamati apakah umpan dimakan ikan atau malah justru boncos.
...mancing Mbah Lele, tangkapanku..

Begitu mendekati air saya melakukan pengukuran seberapa dalam airnya dengan menggunakan batang joran. Ternyata air tidak terlalu dalam sekitar 60 cm, apakah nanti dapat ikan?.  Prinsip sing penting yakin telah tumbuh di sini. Ketidakyakinan harus ditumbuhkan menjadi keyakinan yang mantap. Cacing sudah terpasang di mata kail dan saya memilih spot tepat di bawah jembatan karena percaya di sana ikan melakukan konferensi. Atau tempat untuk berteduh ikan-ikan yang sedang kehujanan dan kepanasan. Iwak gelandangan.

...brinjilan by Tri Kusnadi
Kali ini tangkapan pertama ada dipancingku yang dibeli dengan harga murah meriah, Rp 4.000; dengan joran sederhana, namun membuat bahagia. Bayangan mendapat ikan bersisik, ternyata yang tertangkap adalah Lele. Ikan sakral yang tidak boleh kumakan (kalau memancing boleh). Tangkapan berikutnya beralih ke Tri Kus yang mendapat anakan ikan Gabus yang masih imut, brinjilan atau koselan. Masih imut, mungkin masih sekolah menengah pertama, dan ketangkap pancing karena bolos sekolah bermain PS. Perut lapar, duit tipis, makan cacing sembarangan dan akhirnya kepancing. Tangkapan ketiga, adalah tangkapan yang paling sensasional, joran Tri Gotir bergetar dan mendapat ikan. Tali kurang terkontrol akhirnya ikannya lolos plus talinya. Dengan sigap saya masuk kali untuk mengejar cahaya fosfor yang semakin lama semakin menjauh. Setelah berjibaku dengan lumpur dan air kali akhirnya kondisi telah dikuasai. Seekor ikan bethik tertangkap, tidak lama kemudian ikan ini hilang setelah ember kami tinggal sejenak.
Kebahagiaan memancing perdana di Jogja berakhir setelah setiap kali terangkat yang didapat adalah kepiting kali (Mr. Crap) dan cuaca semakin tidak bersahabat karena hujan tengah malam. Kami pulang meninggalkan Panjatan dengan membawa dua ekor ikan: Lele dan Gabus imut. 
Tragedi terjadi pada pagi hari, pukul 03:00 WIB saya berniat ke kamar mandi dan mendengar suara berisik. Ternyata ikan hasil tangkapan telah dimakan kucing, dengan kondisi mengenaskan. Tubuh tinggal separuh dan tidak mungkin hidup. kalau disambung paksa dengan sedikit mukjizat akan menjadi sesuatu yang keren. Ikan Gabus bertubuh lele, atau sebaliknya. Dipastikan menjadi geger dan mengundang perhatian orang se-Giripeni bahkan awak media.
Bonus track
Mie Mbah Seblu...

..tembakau ting we Bapake Mbah Seblu...

No comments:

Post a Comment