Advertisment

Sunday, June 15, 2014

Misri KOKKANG Barbershop: Pangkas Rambut Sentuhan Kartunal

Siapa yang bilang kalau kartunis hanya bisa menggambar saja. Dalam wisata kartun kedua kali ini, tanggal 23 April 2014, saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu kartunis yang merangkap menjadi barbershop (sebuah sebutan yang lebih keren daripada tukang pangkas rambut). Atas rekomendasi dari Zaenal Abidin KOKKANG, kami berdua potong rambut di tempat pangkas rambut Misri. Terletak tidak jauh dari rumah Zaenal di bukit kuburan permai, kenapa saya sebut semacam ini? alasannya karena rumah ini terletak di perbukitan selatan alun-alun Kaliwungu yang dipenuhi oleh pemakaman. 

Saya pertama kali melihat karya Misri di majalah INTISARI dan beberapa karyanya juga kerap muncul di rublik Senyum Itu Sehat, rublik kartun strip di JAWA POS dengan inisial Gundul. Bapak satu anak ini mengaku bahwa menggambar itu bukan sekadar berkarya namun untuk menyambung hidup. Menggambar dan mengirim karya ke koran ibarat menanam (tandur) di lahan redaksi. Untuk urusan panen atau tidak tergantung kepada doa dan yang penting tetap mengirim terus mengirim. 

Cartoonal Touch
Obrolan kami diawali dengan prosesi potong rambut, kebetulan saya dan Zaenal Abidin ingin merasakan bagaimana sensasi dipotong secara kartunal. Di tempat pangkas rambutnya terdapat peralatan standar memotong, kursi tinggi, cermin besar, perlengkapan potong (gunting, sisir dan peralatan potong listrik) dan yang menurut saya spesial adalah Misri tidak meninggalkan identitasnya sebagai seorang tukang gambar setanan. Sebutan kartunis di mata masyarakat Kaliwungu dari golongan tua. Selain ada dua karya masterpiece yang dipajang di tempat pangkas rambutnya, juga ada beberapa guntingan karya dari kartunis-kartunis luar negeri yang berasal dari katalog lomba ditata rapi melingkar dekat cermin besar, Saya mengasumsikan dengan memasang gambar dekat tempat yang biasa terlihat diharapkan dapat merangsang ide untuk berkarya. Ini seperti yang dikatakan Misri bahwa ide dapat dicari dengan dua mekanisme yaitu pemanasan-pemancingan melalui melihat-lihat gambar di katalog atau arsip kartun dan yang kedua melalui kontemplasi yang menyebabkan ide bisa keluar sendiri (njedul dhewe).

Misri dan Zaenal Abidin

Misri adalah salah satu kartunis dari anggota KOKKANG yang menjadi tidak memiliki relasi kekerabatan antar sesama kartunis dan termasuk generasi ketiga. Generasi ketiga di KOKKANG di sebut sebagai generasi ragil, mengingat kendala masalah regenerasi terjadi di komunitas kartunis manapun. Misri pertama kali kepincut ngartun setelah pertemuan dengan inspirator yang bernama Bowo Semarang.



Kartunis Potong Kartunis

Kenapa menjadi tukang potong rambut? apakah pensiun menggambar seperti yang dihebohkan oleh teman-teman kartunis bahwa Misri pensiun? gantung sepatu istilah pemain bola? Itulah pertanyaan verifikasi saya kapada Misri karena beberapa kawan kartunis penasaran dengan keberadaan dan keberkaryaannya. Jawaban yang saya terima adalah karena sepi kapling dan harus banting stir.

"Ora gantung sepatu, tapi cuti..soale mbayi tur nek nang pabrik yo ora payu dadi sak-sak e"

Itulah pernyataan dari Misri, jadi karena semakin sempitnya kapling dengan berkurangnya lahan untuk kartunis lepas di beberapa media yang telah bertahun-tahun menjadi tumpuan hidup menjadikan seorang kartunis harus memutar otak agar tetap bertahan. Salah satunya adalah memanfaatkan potensi yang ada seperti halnya Misri, menjadi tukang potong dengan tetap berkarya. Ngartun bagi sebagian tukang gambar setanan di Kaliwungu adalah bagian dari aliran darah yang akan terus mengalir, seberapa kering sekalipun lahan dan kapling tempat 'menanam' karya. Salam Ngartun.

New Hair with Misri Hairstyle