Advertisment

Tuesday, June 24, 2014

MATOA KONG: Pekarangan dan Ketahanan Pangan

Matoa KONG
Seekor gorilla yang lagi enak-enaknya makan pisang terkena tsunami pisang. Untuk mencapai kemenangan dan meraih poin yang banyak, harus berlari menghindari terpaan pisang dari belakang, halang rintang di depan, mulai dari tembok, jaring laba-laba, buaya sampai bisa masuk lorong yang terhubung dengan tempat bawa tanah. Walaupun kelihatannya anda menjadi monyet yang malang, namun tidak perlu kuatir ada bonus booster dan kendaraan gratisan dari beberapa hewan yang ditemui. 

Terinsipirasi dari game android bernama Banana KONG, saya membuat gambar di atas dengan berganti nama menjadi Matoa KONG. Tidak terasa sudah hampir dua tahun tinggal di Jogja, turut merasakan berbagai dinamika kehidupan dan fenomena alam dari gempa sabtu siang yang menggemparkan sampai pada abu vulkanik dari letusan gunung Kelud pada hari Valentine. Salah satu yang menjadi kesenangan selama tinggal di Jogja adalah dapat menikmati buah gratisan dan langsung dari pohonnya. Semua tersedia di kantor, kalau kantor Wates tersedia jambu air dan mangga gadung, kantor Yos menyediakan matoa, nangka dan rambutan, kantor pusat di Abu menyediakan sawo kecik. Ada saat-saat di mana kita bisa menikmati pesta buah dengan ceria bersama-sama. Semua buah ini berasa manis dan asem, sesuai dengan kegemaran orang Jogja yang suka makanan manis dan suka bilang asem jika merasa tersinggung.
Matoa Muda Karana (MAMUKA)
Matoa (Pometia pinnata) adalah tanaman buah khas Papua, tergolong pohon besar dengan tinggi rata-rata 18 meter dengan diameter rata-rata maksimum 100 cm. Penyebaran buah matoa di Papua hampir terdapat di seluruh wilayah dataran rendah hingga ketinggian ± 1200 m dpl. Tumbuh baik pada daerah yang kondisi tanahnya kering (tidak tergenang) dengan lapisan tanah yang tebal. Iklim yang dibutuhkan untuk pertumbuhan yang baik adalah iklim dengan curah hujan yang tinggi (1200 mm/tahun). Matoa juga terdapat di beberapa daerah di Sulawesi, Maluku, dan Papua New Guinea.
Di Papua dikenal 2 jenis matoa, yaitu Matoa Kelapa dan Matoa Papeda. Ciri yang membedakan keduanya adalah terdapat pada tekstur buahnya, Matoa Kelapa dicirikan oleh daging buah yang kenyal seperti rambutan aceh, diameter buah 2,2-2,9 cm dan diameter biji 1,25-1,40 cm. Sedangkan Matoa Papeda dicirikan oleh daging buahnya yang agak lembek dan lengket dengan diamater buah 1,4-2,0 cm.
Matoa Kelapa di belakang kantor GO Yos

Matoa umumnya berbuah sekali dalam setahun. Berbunga pada bulan Juli sampai Oktober dan berbuah 3 atau 4 bulan kemudian. Khusus matoa di belakang kantor GO Yos, kadang berbuah dengan edisi terbatas di luar bulan yang semestinya berbuah, entah lagi eksperimen atau buat prematur. Sebagai buah dengan induk pohon yang relatif tinggi, untuk dapat menikmati segarnya buah matoa bisa menggunakan dua cara: cara manusia dan cara primata. Cara manusia menggunakan peralatan sebagai media bantu untuk meraih dahan tertinggi, bisa menggunakan bilah bambu atau getek/gotek dan mendapat buah matoa matang secara rombongan.
Momon with Getek in action
Fresh from the tree
Cara kedua yaitu cara primata, tanpa perlu alat bantu langsung menggunakan piranti yang dari Yang Maha Kuasa yaitu tangan dan kaki memanjat pohon matoa sampai ranting tertinggi. Dibutuhkan  kekuatan fisik dan nyali untuk dapat meraih pohon matoa pada tempat yang diinginkan, keuntungan dari cara ini adalah bisa langsung menikmati buah matoa langsung di atas pohon, (tentunya dengan rambut teruarai, tanpa kaki kelalawar, anjing dan bulan purnama-sebagaimana lagu panas dalam band berjudul rintihan kuntilanak).
Wahyu sang pemanjat Matoa
Dody berburu matoa di atas genten: Cara Alternatif
Ada lagi cara alternatif yaitu cara semi manusia-primata, penggabungan dua pendekatan. Menggunakan peralatan untuk dapat mencapai pohon dan dilanjutjkan dengan berburu matoa pada sudut dahan yang diinginkan.
Atlet panjat matoa dari Klaten, Wahyu 
Berbagi dengan Pak GT
Kucrut dan Momo: Manusia Pemakan Matoa 
Pesangon seperangkat matoa
Dari Matoa, pohon yang tersedia di lingkungan kantor selanjutnya adalah Nangka. Ada pohon tidak terlalu besar di dekat matoa dan setiap hari sering dilewati oleh pesawat terbang yang akan mendapat di bandara Adi Sucipto.
Pesawat di atas nangka
Nangka memiliki sejarah tersendiri dalam masa kecil, karena buah ini menjadi oleh-oleh wajib setiap kali keluarga berziarah ke makam Wali Songo terutama Sunan Giri pada masa panen. Biasanya bapak membeli dua butir nangka besar dan dibagi-bagi pada tetangga terdekat dan malam harinya ada kenduren (slametan) dengan menyediakan lauk bandeng dengan menggunakan sego liwet. Sejak hidup di Jogja, nangka tersedia dengan melimpah pada musim ketika berbuah.

Ranum dan menggoda
Me and Jackfrut: Terapi Anemia
Bagi para penderita anemia seperti halnya saya, nangka adalah buah terapi. Kandungan buah nangka mengandung vitamin dan mineral seperti Zat Besi mencegah anemia, mangan serta magnesium penting untuk kesehatan tulang.
Sujar
Deden
Buah nangka memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk kesehatan. Nangka mengandung vitamin A, vitamin C, thiamin, riboflavin, niacin, kalsium, potasium, zat besi, dan magnesium.Namun dalam mengkonsumsinya perlu memperhatikan porsi, karena mengandung getah kalau kebanyakan bisa menyebabkan sakit perut. Nangka dapat diolah dalam beragam versi dari dimakan segar sampai dibuat kripik. Kripik nangka dapat ditemui di toko oleh-oleh seputaran kota Malang. Biji dari nangka, yang dikenal dengan beton juga dapat dikonsumsi setelah direbus terlebih dahulu. Tapi jangan dibayangkan setelah makan rebusan beton kita akan menjadi kuat seperti otot kawat, balung besi dan daging cor-coran (semen yang mengering).
Alek Efendi: Sang Pawang Nangka
Merebus beton
Ketika mulai berbuah di bulan Juni 2014
Buah ketiga yang tersedia di kantor tepatnya GO pusat Jogja Jalan Abu Bakar Ali adalah Sawo Kecik. Pohonnya terletak di depan kantor TI dan menjadi perindang yang romantis kala habis kelas.
Sawo kecik (Manilkara kauki) adalah sejenis tanaman penghasil buah pangan anggota suku sawo-sawoan atau Sapotaceae.Dulu jaman masih SD, biji sawo kecik dapat dimanfaatkan untuk piranti permainan tradisional yaitu dakon dan das-dasan. Dua permainan tradisional yang mulai langka dan bisa jadi hanya dikenal oleh generasi-generasi sebelum datangnya internet dan playstation.
Seratnya manis-manis menggoda
Wahyu pemburu sawo kecik
Fresh
Formasi dua jagoan pemanjat sawo kecik, Wahyu dan Tri Setro
Pekarangan dan Ketahanan Pangan Keluarga
Merujuk pada buku karya Andreas Maryoto (2009) yang berjudul JEJAK PANGAN: Sejarah, Silang Budaya dan Masa Depan (Penerbut Buku KOMPAS). Terdapat salah satu tulisan yang dapat menjadi kajian menarik pada postingan berjudul Matoa KONG. Pemanfaatan tanah untuk sesuatu yang bermanfaat dari kesadaran akan karunia yang tidak terhingga dari berupa kesuburan tanah. Pada Masyarakat Jawa, dikenal adanya pekarangan di sekitar rumah sebagai bentuk kearifan lokal dan ketahanan pangan. Kalau kita mengamati pekarangan pada masyarakat Jawa akan menemui pohon yang bisa dimakan seperti pisang, sukun, kelapa dan nangka. Awalnya untuk konsumsi pribadi, namun karena memiliki potensi pasar tidak sedikit yang kemudian dijual ke pasar atau via tengkulak. Sebagaimana ungkapan Maryoto (2009) bahwa kearifan masyarakat Jawa dan beberapa suku lain dalam memanfaatkan pekarangan sebagai salah satu ruang penyangga untuk tanaman pangan. 
Pesta buah akan berakhir sejalan dengan masa studi yang sudah di ujung tanduk di Jogja, namun sebagai rumah kedua dan menemukan keluarga baru, jika suatu kesempatan saya janji akan selalu mengunjungi kawan-kawan di Wates dan Jogja Kota. Piye betul toh Dab? ..Salam Ngartun 

Bonus Track 
Mangga Gadung asli barat GO Wates
Jambu Air asli GO Wates, merah memukau