Advertisment

Tuesday, October 22, 2013

Cartoonist of The Month: Ikhsan Dwiono

Etnokartunologi (Hotel Ningrat-Bangkalan) 
Rublik khusus membahas kartun berprestasi kali ini mengupas seorang kartunis profesional dari Jawa Tengah yang beberapa waktu lalu menorehkan sebuah prestasi gemilang. First prize The International Accessible Izmir Cartoon Contest Turkey 2013 adalah sebuah gelar yang bonafiid dan tentunya dapat menjadi sarana mengangkat harkat dan derajat hidup kartunis Indonesia 

Ikhsan Dwiono

Ikhsan Dwiono, seorang kartunis dan ilustrator profesional, karena total hidupnya digunakan untuk mengembangkan dan mempertahankan hidup dengan cara ngartun. Lahir di semarang,16 Juli 1974. Pendidikan terakhir tamat dari pendidikan di politeknik Semarang. Kehidupan dan pilihan hidup dengan kartun bermula dari hobi menggambar sampai dapat hidup dengan gambar, sebagaimana uraian kekaryaan Ikhsan Dwiono sebagai berikut:

"saya tertarik mendalami seni kartun, karikatur dan lain-lain sejak tahun 1991.Untuk lebih berkonsentrasi mengembangkan kecintaan akan seni kartun,saya mendirikan studio d'Ekspresi, agar bisa berkonsentrasi berkarya dlm bidang kartun, karikatur, komik, ilustrasi. Saat ini saya tergabung juga dlm komunitas Semarang Cartoonist Club (SECAC), wadah para kartunis yg berdomisili di kota ibukota Jawa Tengah ini. Selain mengembangkan studio d'Ekspresi,juga menjadi kontributor kartun strip di Harian Sindo dan beberapa media cetak lainnya"

Hobi yang ditekuni dengan total akan menjadi sesuatu yang gemilang dan menguntungkan, karena bukan hanya masalah finansial yang dapat bertambah, namun dari aspek ekspresi dan eksistensi juga semakin berkembang. Gambar di bawah ini adalah salah satu karya Ikhsan Dwiono yang menjadi juara di salah satu lomba kartun Internasional. 
Kemandirian diri
(First prize The International Accessible Izmir Cartoon Contest Turkey 2013)
Saya menginterpretasi karya di atas dengan kajian self embodiment, kemandirian diri atas tubuh termasuk tubuh yang dianggap kurang sempurna (disability). Orang kebanyakan lebih menyebut sebagai cacat istilah yang meliputi gangguan, keterbatasan aktivitas, dan pembatasan partisipasi. Gangguan adalah sebuah masalah pada fungsi tubuh atau strukturnya; suatu pembatasan kegiatan adalah kesulitan yang dihadapi oleh individu dalam melaksanakan tugas atau tindakan, sedangkan pembatasan partisipasi merupakan masalah yang dialami oleh individu dalam keterlibatan dalam situasi kehidupan. Jadi disabilitas adalah sebuah fenomena kompleks, yang mencerminkan interaksi antara ciri dari tubuh seseorang dan ciri dari masyarakat tempat dia tinggal. 
Merujuk pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat menyatakan bahwa Penyandang cacat adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari :
a. Penyandang cacat fisik;
b. Penyandang cacat mental;
c. Penyandang cacat fisik dan mental;
Intinya tidak ada manusia yang ingin dilahirkan dengan keterbatasan, namun jika ada sesuatu yang dianggap 'lain' harus lapang dada menerima dan tetap berusaha mengembangkan diri. Gambar di atas merepresentasikan bagaimana pemberdayaan tubuh yang cacat dengan cara kemandirian pribadi. Kursi roda sebagai alat bantu ternyata tidak cukup untuk memberikan fasilitasi ketika bertemu dengan tangga menanjak, maka tangan dapat digunakan sebagai kaki. Seperti halnya cerita dari salah satu blog orang Jogja yang membahas tentang bagaimana seorang gadis bernama Putri Herlina yang terlahir tanpa tangan yang sempurna dapat tetap percaya diri, pandai bersyukur hingga menghadapi kehidupan yang happy ending -menikah dengan seorang pemuda gagah dan sempurna- akhir penantian yang penuh cinta. Ketidaksempurnaan bukan awal tapi kehancuran atau kekecewaan namun awal dari manajemen diri serta pemikiran akan adanya celah pada pengembangan diri, sebab menurut biasanya orang yang memiliki kekurangan di salah satu bagian niscaya akan terdapat kelebihan pada bagian yang lainnya. Seperti seorang yang memiliki gangguan penglihatan akan memiliki pendengaran yang tajam, seorang tukang gambar atau bakat menggambar biasanya sulit memainkan alat musik demikian juga sebaliknya. 

Result of the 8th International Cartoon Contest Syria 2013
Karya lain yang tidak kalah inspiratif dari karya Ikhsan Dwiono adalah gambar burung bangkai dan peluru. Gambar ini secara kode simbolik dengan sangat gamblang membicarakan tentang satu tema yaitu perang. Pohon besar nan kering merupakan gambaran bagaimana dampak perang dapat merusak kehidupan, pohon melambangkan sebuah pusat kehidupan bukan hanya sekadar pohon karena saya menggunakan makna konotatif. Pohon adalah kehidupan keluarga, peperangan dapat memisahkan bahkan memusnahkan dari sebuah kelurga, entah karena pengungsian atau akibat dari kekerasan yang terjadi selama perang. Perang menimbulkan kerusakan ekologis sebagai tempat manusia atau komunitas menggantungkan hidup, hal ini tergambar dari tanah dan tandus. Faktor luar dapat menyebabkan kehancuran dari suatu peradaban, sebagaimana adanya perang dengan peluru yang berjatuhan dan setelahnya ada pihak lain yang berusaha memancing di air keruh yang digambarkan dengan burung bangkai. Sebuah gambar yang menurut saya sangat inpiratif. 
Proses kreatif Ikhsan Dwiono mempunyai totalitas yang patut diapresiasi karena totalitasnya, seni ilustrasi salah satunya adalah kartun telah menjadi bagian dari nafas kehidupannya. Saya sendiri ketika menanyakan terkait bagaimana proses kreatif diberi satu file jpg yang membuat saya terkesan, sederet perlombaan internasional menjadikan nama kartunis yang mempunyai studio d'Ekspresi sebagai kartunis berprestasi. Menjadi juara bukan hanya pada even nasional tapi karya Ikhsan Dwiono telah melanglang buana sampai go internasional. Kartunis juara menurut hemat saya bukan hanya kartunis yang memenangkan sebuah sayembara atau sekadar kartunnya dimuat oleh media. Kartunis juara adalah kartunis yang karyanya dapat menggerakan hati nurani sesama manusia, menyuarakan aspirasi masyarakat atau orang yang dianggap sebagai marjinal . Kartun dapat menjadi instrumen untuk pergerakan dan mengadakan sebuah perubahan, dan Ikhsan Dwiono sudah melakukan hal tersebut. Salam Ngartun dan tetap Kritis.