Advertisment

Thursday, April 25, 2013

Kartun Sunat (Aspek Antropologis)

Etnokartunologi. Kamar Kos Bantul 

"nggak papa tidak sakit, rasane mung seperti dicakot semut"

Pernyataan hiburan dari orang tua kepada para pengantin sunat beberapa saat sebelum masuk ruang praktik dukun sunat. Sunat dikenal di Indonesia sebagai bagian dari masa transisi seorang anak laki-laki. Istilah lain menyebut sebagai khitan. Proses pemotongan bagian depan alat kelamin laki-laki (penis) yang dianggap sebagai tempat berkumpulnya kuman dan penyakit. Jaman dulu (seperti yang saya alami sendiri, merasakan bagaimana sensasi sunat secara tradisional dengan calak atau dukun sunat) sunat dianggap sebagai sesuatu yang sakit tapi menyenangkan karena sakit waktu disunat dan senang karena dapat banyak uang. Hari ini seiring dengan perkembangan teknologi operasi kecil ada beragam cara sunat dan prosesnya tidak selamban masa lalu. 


Dukun Sunat (Calak) 
Gambar di atas saya buat pada tahun 2011, yang menceritakan seorang preman yang tengah ketakutan saat melihat seorang dukun sunat melintas di depannya. Bisa jadi preman ini belum di sunat dan dia menganggap kalau sunat adalah menyakitkan. Anggapan orang tua-tua di desa yang pernah saya dengar, konon jika ada laki-laki yang sampai melewati usia aqil baligh namun belum sunat maka jika suatu hari sunat akan dipotong dengan kapak (di pecok). Asumsi ini menyebar luas dan dapat menjadi senjata ampuh untuk membujuk seorang anak laki-laki yang sudah dianggap besar namun masih enggan untuk disunat. 
Sebuah artikel menarik karya Eric K Silverman (2004) yang berjudul “Anthropology and Circumcision” mengangkat tema tentang sunat. Sunat berlaku tidak hanya di Indonesia terutama bagi kaum muslim. Namun telah tersebar di berbagai kawasan dunia dan yang disunat buka hanya laki-laki namun ada sunat perempuan (Female Circumcisions). Sunat juga berlaku pada masyarakat tradisional daerah Sub-Sahara dan Afrika Utara, Muslim timur tengah, Orang-orang Yahudi dan daerah penyebaranannya, Kepulauan Pasific, Asia Tenggara dan beberapa terdapat pada masyarakat asli Amerika utara dan Eropa (Silverman 2004:420). Sunat bukan hanya sekadar proses pemotongan bagian depan penis atau beberapa sisi klitoris semata, namun secara kultural dapat berimbas pada simbol gender, hegemoni struktur, proses menuju kedewasaan (ritus inisiasi), persiapan untuk menuju kelengkapan reproduksi dan perkawinan, pelaksanaan ajaran agama. Dalam sunat terdapat ideologi dominan yang kerap terjadi pada sunatnya anak laki-laki yang setelah disunat akan dianggap telah dewasa dan dapat menjadi seorang remaja yang dianggap memiliki kematangan fungsi seksual. Pembahasan tentang sunat dan berbaga aspek implikasinya baik secara kultural maupun sosial oleh Silverman dikaji sebagai sistem simbol, politik, agresivitas laki-laki, inversi strukturali dan pembedaan antara yang natural dengan kultural.  Menurut saya, sunat yang natural adalah yang memakai jasa tukang sunat atau calak karena menggunakan alat-alat yang masih tradisional. 

Tekonologi Sunat Modern 
Gambar di atas menceritakan bagaimana perkembangan teknologi dalam dunia persunatan, yang dulu hanya memakai pisau tajam sekarang menggunakan laser, dari logam menjadi cahaya. Maraknya sunat laser saya plesetkan dengan membuat kartun di atas pada tahun 2011 dengan 'calak' yang berbeda, bukan dokter atau pak mantri namun alien sebagai makhluk luar angkasa yang suka pegang pistol laser. 
Sunat mempunyai manfaat untuk kebersihan alat kelamin dan pada beberapa kalangan mempercayai bahwa dengan sunat kepuasan hubungan suami istri akan lebih optimal. Mengenai pandangan yang kedua, tidak selamanya valid karena semua tergantung pada banyak aspek. Jadi mengingatkan pada stiker yang bertuliskan "Kalah Gedhe Kalah Dowo Menang Suwe" (Kalah besar kalah panjang namun menang dalam kekuatan dan waktu). Sunat juga dapat mengundang kontrovensi, yang oleh Silverman di jelaskan bahwa terdapat hubungan antara sunat terutama pada laki-laki dengan penularan penyakit seperti kanker, syphilis bahkan HIV. Menurut saya bukan berarti orang disunat langsung kena penyakit itu, namun dampak jauh hari dari tersunat (orang yang disunat) yang dipengaruhi oleh faktor kebersihan termasuk aspek kehigienisan alat yang dipergunakan , pola kehidupan seksual (terbukanya bagian glans dari penis bisa jadi membuat laki-laki semakin menggebu gairah birahinya dan kalau tidak kuat iman akan mengunjungi tempat prostitusi atau melakukan perilaku seks yang kurang aman). 
Mengenai sunat pada perempuan (Female Circumcision) menjadi bahasan khusus pada artikel yang ditulis oleh Silverman terkait masalah moral dan sistem nilai yang berlaku pada suatu masyarakat bahkan sampai pada tataran politik. Terminologi sunat pada perempuan dibedakan menjadi Female Circumcision (FC), Female Genital Mutilation (FGM) dan Female Genital Cutting (FGC). Ketiganya berbeda dalam aspek latar belakang dan orientasinya. FC berlaku pada beberapa masyarakat yang mempunyai kepercayaan bahwa perempuan yang mulia adalah perempuan yang disunat, FGM dapat terjadi pada kondisi yang secara medis bersifat darurat misalnya terdapat suatu penyakit yang mengharuskan beberapa bagian organ tubuh harus diangkat dan yang terakhir FGC bisa terjadi karena motif pribadi, berhubungan dengan penampilan seperti yang terjadi pada perempuan yang melakukan bedah plastik khusus organ vital (vagina surgery). Contoh untuk yang terakhir dapat dilihat pada film dokumenter yang berjudul Sexy Baby
Sunat sebagai perilaku budaya ternyata mengundang gugatan terbukti dengan adanya pihak-pihak yang menentang. Silverman (2004: 434) menyebutkan terdapat beberapa organisasi yang anti sunat terutama pada kaum laki-laki, seperti  NOCIRC (National Organization of Circumcisions Resources), INTACT (Infants Need to Avoid Circumcision Trauma), UNCIRS (Uncircumcisions Information and Resources Center), D.O.C (Doctors Opposing Circumcision), NOHARMM (National Organization to Halt the Abuse and Routine Mutilation of Males), MUSIC (Musicians United to Stop Involutary Circumcision), Boys Too, Mother Against Circumcisions, OUCH (Outlaw Unnecessary Circumcision in Hospital), S.I.C Society (Stop Infant Circumcision Society), Nurses for Memory of the Sexuality Mutilated Child. 
Sunat di Indonesia kadang terdapat unsur politisasi misalnya pada acara sunatan massal yang dilakukan oleh suatu partai, maksudnya baik untuk bakti sosial namun jika kepentingan politiknya terlalu mencolok maka sifat altruis dari sunatan massal itu sendiri akan hilang. 

 Bonus Pics (Tiwul Toon edisi Sunatan Massal) : 

Daftar Pustaka
Silverman, Eric K., “Anthropology and Circumcision”, dalamAnnual review of Anthropology, Vol. 33 (2004), pp. 419-445