Advertisment

Friday, January 25, 2013

Tribute to A Rafiq (1948-2013)

Etnokartunologi (Kamarkos-Tamantirto).  Salah satu legenda dan maestro penyanyi dangdut Indonesia telah berpulang. A Rafiq adalah penyanyi yang terkenal dengan lagu Pandangan Pertama dan Cantik yang juga berbakat menjadi seorang aktor. Perkenalan pertama dengan tokoh ini saat duduk di sekolah dasar, kenalnya dari Film dan kaset yang sering diputar di rumah, mengingat A Rafiq adalah salah satu artis kesayangan keluarga saya selain Kartolo Cs. Siapa A Rafiq itu, sekilas biografi tentang beliau yang saya kutib dari wikipedia: Ahmad Rafiq (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 5 Maret 1948 – meninggal di Jakarta, 19 Januari 2013 pada umur 64 tahun) adalah aktor dan penyanyi dangdut Indonesia yang dikenal dengan nama populer A. Rafiq. A. Rafiq dikenal luas oleh masyarakat Indonesia sebagai penyanyi dangdut yang cukup terkenal. Lagu dangdutnya "Pengalaman Pertama" jadi top hit di pertengahan tahun 1978. Lagu tersebut dinyanyikan ulang oleh Nirina Zubir yang duet bersama Slank dan menjadi jalur suara film Get Married. Selain sebagai penyanyi dangdut, ia juga sempat bermain dalam beberapa judul film layar lebar bersama dengan Farouk Afero (dengan ciri khas yang selalu mempunyai gerakan kecup di tangannya sendiri). 
Film-film yang pernah diperankan oleh A. Rafiq adalah Si Gondrong (1971), Pandangan Pertama (1978), Karena Dia (1979) dan Pengalaman Pertama (1977). Selain itu beliau juga pernah mencoba untuk menjadi seorang sutradara dengan sinetron drama semi musikal berjudul Si Miskin Bercinta. Penggarapan sinetron berseri tersebut melibatkan musisi dan penyanyi antara lain Mansyur S., Hetty Soenjaya, Jaja Mihardja, dan Ira Savira, selain bintang kawakan Mieke Wijaya. Pria berdarah India Pakistan ini pernah belajar akting di LPKJ (sekarang Institut Kesenian Jakarta), dan ikut loka karya tentang membuat film yang diselenggarakan Taman Ismail Marzuki bersama Persatuan Artis Film Indonesia. Beberapa anak A Rafiq juga mengikuti jejaknya di dunia hiburan Indonesia, antara lain Fadila A. Rafiq, Farhad A. Rafiq dan Fairuz A. Rafiq. Namun suratan takdir berkata lain, A.Rafiq meninggal dunia di Rumah Sakit Medistra, Jakarta, pada tanggal 19 Januari 2013 akibat penyakit jantung. Banyak pihak yang kehilangan dan merasa akan selalu rindu dengan suara khasnya dan tingkah lakunya yang baik budi, karena selama berkarir menjadi penyanyi dangdut beliau tercatat tidak pernah macam-macam. Seorang figur, legendaris, ulama, kepala keluarga dan teladan untuk penyanyi lain telah berpulang.

A Rafiq
Apresiasi saya terhadap penyanyi senior ini terwujud dalam bentuk gambar, kontribusi yang hanya bisa diberikan oleh seorang kartunis. Kalau dalam blantika musik dangdut Indonesia ada Raja Dangdut, ada pula Ratu Dangdut. Namun khusus A. Rafiq belum ada julukan untuk mewakili kiprahnya. Jika kita melihat gerakan goyangnya dan cara pakaian yang mewakili era tahun 70-an tidak heran banyak yang menyebut A.Rafiq adalah Elvis Presley-nya Indonesia. Walau beda aliran musik namun dedikasi pada musik sulit untuk dibedakan. Komitmen untuk tetep melestarikan musik dangdut pada madzab ala melayu adalah visi dan misi yang diusung oleh A.Rafiq. 

Elvis Presley
Sesaat setelah mendengar berita wafatnya Sang Maestro, saya langsung ambil pensil dan mulai menggambar dengan menggunakan pensil kombinasi, mencoret kertas putih dengan mereka-reka bagian wajah yang harus dieksagerasisasi. Eksagerasi adalah syarat mutlak dalam seni karikatur, proses melebih-lebihkan (lebay proces) wajah seseorang yang menjadi obyek. Jika masyarakat Barat dan orang yang mempunyai selera humor tinggi, jika menjadi obyek karikatur yang wajahnya dipletotin justru malah senang. Namun di lain pihak tidak sedikit ada pihak yang marah-marah jika wajahnya dikarikatur dengan jurus eksagerasi ini.
Selamat Jalan Master 
Gambar di atas merupakan media berekspresi yang khusus saya dedikasikan untuk Almarhum A Rafiq. Selamat Jalan Pak Haji semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya dan tetap menjadi inspirasi bagi penyanyi dangdut lainnya untuk tidak hanya berkarya atau dikaryakan demi sensasi namun demi dedikasi pada musik rakyat Indonesia.