Advertisment

Thursday, November 15, 2012

Upin-Ipin (Duo Ternate dalam Kajian Strukturalisme)

Etnokartunologi (Kos Bantul-DIY) Ada yang bilang bahwa jika ingin tetap waras dalam menjalani hidup adalah tetap ceria dan tekuni hobi. Hobi bukan hanya sekadar kegemaran pada sesuatu baik benda maupun aktifitas, namun terlebih dari itu menurut saya hobi adalah sebuah terapi. Aktivitas padat untuk saat ini (Kuliah-bekerja) kerap membuat lelah fisik dan jiwa, namun demi sebuah pencapaian dan pengharapan segala gangguan sebisanya diatasi. Makan yang sehat dan minum air putih membuat badan sehat sentosa, namun untuk masalah batin yang capek kerap membuat bad mood melakukan segalanya. Beruntung ketika pindah berpindah di Jogja ada teman-teman yang bisa memberi energi positif dan support yang tidak sedikit kepadaku. Termasuk dua orang mahasiswa S2 seangkatan yang berasal dari Ternate ini. Teman-teman menjulukinya sebagai Upin-Ipin (mirip serial animasi di salah satu televisi swasta yang berasal dari negeri Jiran). Keduanya tidak pernah terpisah, Bakhtiar (Bahemen-Upin) dan Arifin (Vhino-Ipin). Keduanya adalah alumi UnKhair (Universitas Khairun). Awal kenalan waktu kuliah Agama dan Dinamina.. asuhan Kak Hardi hehehe. Dan di suatu hari yang cerah pula, saat kuliah bersama iseng-iseng aku ngartunin keduanya, dengan gambar yang sesuai dengan imajinasi yang merepresentasikan keduanya meskipun dalam proses on the spot in classroom.
Bahamen Manusia Ikan
Gambar pertama adalah Bahamen bersama ikan, mengapa memilih ikan? Kerap mendengar penyataan yang keluar dari yang bersangkutan, katanya makan apapun tidak bakal enak tanpa adanya ikan. Bahkan sebagai orang Timur sejati dia kerap makan mie instan yang dicampur dengan sagu. Oleh karena itu Bahamen aku gambarkan tengah di tarik seekor temannya yaitu ikan.
Si Upin dari Ternate
Bahamen mempunyai pandangan ke depan yang cermat, terbukti saat guyonan di bawah pohon rambutan dekat kandang FIB UGM, dia memproyeksikan semua orang yang dia kenal. Mungkin orang ini indigo atau indie yang lain karena pengamatan dan perkiraan untuk suatu masa depan terlontar dengan cermat. Jika jaman ORBA ada Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun, bagi Bahamen proyeksi melihat masa depan orang cukup 30 tahun. Oleh karena itu, aku menamainya sebagai Antropologi Futuristik, sebuah kajian yang tidak umum hehehe dan paradigma yang dipakai adalah fenemologi masa depan pula. Ada yang diramalkan olehnya nanti 30 tahun kedepan jika mengadakan pertemuan di bawah pohon rambutan, ada yang telah wafat, ada yang lumpuh dengan berkursi roda, ada yang meski manula tapi masih sehat sampai pada kedatangan nenek-nenek seksi.
Vhino Hair Booster - Penumbuh Bulu Paling Ampuh
 Gambar di atas, kubuat sesaat setelah gambar pertama selesai dan dilakukan pada saat kelas matakuliah Agama (kuliah tiap rabu jam 10 pagi), sebuah kelas yang bisa membuatku untuk terus rajin membaca, berfantasi sampai menggambar. Karena si Ipin banyak bulunya maka aku membuat gambarnya sebagai bintang iklan sebuah obat penumbuh bulu paling ampuh dengan merek dagang Vhino Hair Booster. Produk ini hanya bisa didapat di Pakdhe Narto (Seorang penggagas agama baru dengan nama Agama Pak Dhe Narto).
Si Ipin dari Ternate
Jika Bahamen aliar Upin terkenal sebagai sosok yang gokil, justru bertolak belakang dengan kembarannya yang bernama Ipin alias Vhino (Arifin). Ia lebih serius dan cool, pembicaraan denganku kerap membahas masa depan pada sesuatu yang benar-benar terjadi dan bisa diharapkan. Sebuah kontras yang menciptakan dualitas yang saling berlawanan dari sosok Upin - Ipin dan itulah sebuah perbedaan yang biner. Konsep Biner (Binnary Opposition) ini adalah sebuah kajian yang menarik untuk dibahas bagi yang ingin mempelajari Antropologi terutama kajian Strukturalisme. Suatu perbedaan yang kontras dan bertolakbelakang akan menciptakan sebuah konstruksi yang saling menguatkan.Strukturalisme menekankan pada kajian tentang sebuah struktur dari masyarakat dengan tokoh utama Mbah Claude Levi-Strauss (Bukan penemu Celana Jeans tebal khas coboy). Fokusnya adalah ketertarikan pada logika yang bersifat dari dalam sebuah kebudayaan dan hubungun antar struktur (bagian-bagian vital yang saling terhubung)  yang membentuk struktur kebudayaan. Relasi kekerabatan adalah manifestasi nyata dari sebuah struktur kemasyarakatan. Struktur kekerabatan ini kemudian menjadi hal yang menarik untuk ditelusuri hingga mencapai pada kajian tentang tabu sampai makanan.
Upin (Kanan atas pojok) dan Ipin (Kiri atas pojok), perhatikan senyumnya dan jumlah giginya
Berdasarkan asal dan perkembangannya Strukturalisme dibedakan menjadi tiga madzab besar yaitu Strukturalisme Prancis, Strukturalisme Belanda, Strukturalisme Inggris. Strukturalisme Prancis dimotori oleh Levi Strauss dengan konsentrasi pada struktur dan bagian-bagian detailnya sampai kemungkinan pembentukan struktur dalam struktur (The structure of all possible structures). Madzab ini dipengaruhi oleh kajian linguistik dan termanifestasi kedalam bahasa, oposisi biner dan studi komparasi sampai struktur yang berada di luar kesadaran. Stukturalisme Belanda dimotori oleh J. P. B. de Josselin de Jong  yang lebih menekankan pada sistem klasifikasi dan kekerabatan dalam area penelitian ethnologish studievelden. Madzab terakhir adalah strukturalisme Inggris dengan tokoh penting Emile Durkheim sampai pada Redclife Brown. Strukturalisme ala Inggris lebih menekankan pada sistem sosial dan proses kodifikasi (pemberian kode seperti halnya ilmuwan kimia memberi nama pada zat-zat tertentu) walapun fokus awalnya adalah pada pembahasan bagian dan pembagian masyarakat (particular societies).

Daftar Pustaka: Catatan Kuliah, Hardisk Axioo Neon, Pedaringan Nokia E51 dan Buku History and Theory in Anthropology (Alan Barnard)

Bonus Track: 
Kalau ini adalah dialog antara Sipin dengan Ipin...siapa Sipin itu? nanti akan ada pembahasan tersendiri tentang Mr. Sipin Putra S.Sos. (yang bentar lagi jadi Master) seorang dosen muda Antropologi Budaya Universitas Brawijaya yang super rempong dan jago main gobak sodor.  Salam Ngartun.
Sipin dan Ipin