Advertisment

Sunday, August 12, 2012

Cartoonist of The Month: Irvan Muhammad

Irvan Muhammad 
Etnokartunologi (kamarkos-sby). Setelah sekian lama vakum, rublik Cartoonist of The Month nongol lagi, untuk menutup bulan puasa ini saya menampilkan kartunis juara Festival Kartun Ramadhan Semarang yaitu Irvan Muhammad. Latar belakang sekaligus pertimbangan saya untuk memuat Irvan Muhammad sebagai Cartoonist of The Month adalah sebagai penghargaan atas kemenangan pada lomba kartun yang dilakukan oleh paguyuban kartunis Semarang yang lebih kita kenal dengan nama SECAC dalam menyambut bulan puasa. 


Irvan Muhammad (berbaju lengan panjang kotak) bersama para juara

Irvan Muhammad adalah kartunis lulusan SMSR (Sekolah Menengah Seni rupa), sekolah khusus spesialis tukang gambar yang berada di Jogjakarta. Sekolah ini mendedikasikan dan fokus pada kesenian khususnya seni rupa, tidak sedikit alumninya yang kemudian melanjutkan ke ISI (Institute Seni Indonesia) atau langsung terjun ke dunia kerja menjadi ilustrator atau tukang gambar ber-SNI. Pria Kelahiran 7 Juni 1986 ini sekarang bekerja sebagai reporter di Radio Persatuan Bantul dan menetap di Jogjakarta. 
Irvan adalah sosok yang easy going, jika kita melihat dari bentuk fisik dan bahasa tubuh, hal ini terbukti pada prinsip hidupnya yang .."banyak lagi tergantung keadaan" dan slogan Mulat Sarira Hangrasa Wani
Alon-alon Pokok Kelakon

Gambar di atas adalah gambar yang menginterpretasikan sosok dari Irvan Muhammad, penggambaran dirinya sebagai seekor kura-kura. Kura-kura merupakan hewan yang diidentikan dengan waspada tingkat tinggi dan easy going karena biar lambat asal selamat. Kewaspadaan tingkat tinggi karena mempunyai kulit keras atau cangkang yang digunakan sebagai perlindungan bila ada bahaya yang mendekat. Secara teknik visual, penggambaran diri sendiri oleh Irvan dalam sosok kura-kura mempunyai karakter sketsa yang kuat. Teknik hitam putih dengan arsiran dan pencahayaan yang mantap menjadikan Irvan versi kura-kura menjadi nyaman untuk dilihat. 
Ada rasa lapar di sini, ruang yang bergeliat adalah sebuah petuah yang dicantumkan dalam profil Facebook Irvan Muhammad. Kalimat yang dalam dan multitafsir, lapar yang dimaksud bukan hanya sekadar perut yan keroncongan, asam lambung yang naik karena membutuhkan nutrisi atau sekadar lapar jasmaniah, lapar dalam konteks estetika adalah kebutuhan untuk berkarya yang disamakan dengan lapar secara harfiah. Secara produktivitas bagi seorang kartunis, untuk menjaga ritme berkarya harus selalu banyak mencari dan kontemplasi. Karya yang baik adalah karya yang didasari oleh keinginan untuk selalu menghasilkan sesuatu yang lebih baik, lebih indah dan lebih sempurna. Orang tidak makan bisa kelaparan, kartunis tidak berkarya bisa 'kelaparan' juga, kelaparan akan karya, kelaparan estetika.
Ruang yang bergeliat, saya tafsirkan sebagai peluang yang dapat kita temui dalam berbagai kesempatan. Kadang kita melihat bahwa keberhasilan datang menghampiri kita, namun tidak sedikit yang keberhasilan justru terwujud setelah kita yang mendatangi. Ruang yang bergeliat adalah suatu kesempatan yang terbuka lebar bagi semua yang ingin berusaha dengan totalitas dan konsistensi. Geliat ruang kadang berlangsung sekali, namun tidak sedikit yang berkali-kali. 
Aksi solidaritas untuk seniman Pepeng yang pernah ditayangkan di Kick Andy, Metro TV telah menimbulkan antusias dan animo yang luas di kalangan para kartunis Indonesia. Pada saat itu (tahun 2010) saya juga mendapat undangan, namun karena sesuatu hal tidak bisa hadir dan berpartisipasi ke Jakarta. Irvan Muhammad turut serta dalam Kartun Tribute to Pepeng yang sebagaimana gambar di bawah ini. Gambar sosok Pepeng yang sedang sakit namun memiliki semangat yang tinggi. Optimisme yang tinggi digambarkan dengan sorot mata yang tajam dan menatap jauh ke depan. Teknik pengambaran oleh suami Ani Padmawati ini menggunakan teknik manual dengan acrylics. Gradasi warna yang selaras dengan background color yang teduh dan harmoni. Pepeng digambarkan oleh Irvan sebagai seorang balita yang tengah berpikir, menatap jauh ke depan dan membuat visi misi yang lebih baik dalam kehidupan. Pada bagian bawah karya ini terselip kata-kata "Untuk Pakdhe Pepeng...Semoga Lekas Sembuh" . Pakdhe dalam bahasa Jawa adalah panggilan untuk lelaki yang dituakan dan dihormati. Pakdhe bisa berasal dari darah keturunan (paman, saudara Ibu-Bapak), bisa juga panggilan untuk yang dituakan dan menjadi patron. Respektasi terhadap Pepeng dalam gambar di atas adalah merepresentasikan penghormatan, solidaritas dan empati antar seniman dalam berbagai keadaan lintas generasi.  Jika saya melihat dalam konteks kekinian tulisan tersebut bisa dimodifikasi menjadi "Untuk Indonesia (pemimpin, pejabat, anggota Dewan yang terhormat)..Semoga Lekas Sembuh :)" Salam Ngartun
Solidaritas untuk Pepeng

Sumber Gambar: Irvan M's Photos Facebook