Advertisment

Monday, October 10, 2011

Cartoonist of the month: Hanung Kuncoro (nunk)

Jika anda penggemar sepak bola sekaligus suka kartun, rublik Sepakbolaria pasti tidak asing di benak anda.
Kartun strip yang menampilkan aksi kocak olah raga terutama sepak bola dan olah raga lainnya yang biasanya digabung dengan berbagai fenomena aktual yang tengah terjadi. Sepak bola oleh Hanung Kuncoro (nunk) dipadu dengan banjir, mudik, lebaran, tahun baru, natal, hari raya kurban bahkan tsunami. Berjilid-jilid buku sepakbola ria telah terbit yang diterbitkan oleh PT Tunas Bola. Terbitan terakhir yang saya ketahui sampai jilid ke-6. Ini membuktikan animo masyarakat yang cukup tinggi dan apresiasi yang baik dari dunia penerbitan. Kartun sepakbolaria telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Tabloid Olahraga BOLA. Sama seperti makan di rumah makan padang, keberadaan kartun nunk adalah seperti rendang yang rasanya nendang. Tabloid tanpa kartun ibarat padang tandus yang mengampar luas, media penerbitan tanpa kartunis ibarat rumah besar namun sepi karena tidak ada hal yang membuat kita tersenyum sekaligus merenung. 
Lahir dengan nama Hanung Kuncoro tepatnya di Grobogan pada tanggal 5 Maret 1961, Nunk dibesarkan dari tradisi kebudayaan Jawa tepatnya model Jawa Tengah bagian Semarangan. Setelah agak gedhe bersekolah di SMA Negeri 2 Rembang (Satu almamater dengan saya yang sama-sama SMA Negeri 2 cuma bedanya saya Smada Lamongan:). Kemudian berlanjut pendidikan tinggi dengan kuliah di Fakultas Ekonomi UNDIP pada tahun 1980 (umur saya tiga tahun pra kelahiran hehehe).

Si Gundul adalah karekter yang melekat kuat dalam gaya ngartun Nunk. Gundul adalah keadaan tanpa rambut yang melambangkan kepolosan bagi kalangan anak kecil dan melambangkan kesucian bagi pendeta Budha. Orang Gundul juga diidentikan dengan orang yang menghemat shampoo dan minyak rambut. Gundul bagi kalangan militer adalah hal wajar menyambut kedatangan prajurit siswa (Prasis). Bagi sebagian orang gundul dan menggunduli diri merupakan bagian dari janji pada Tuhan (nazar), jika keinginan terkabul maka kepala jadi korban tindakan gundulisasi.
Pada awalnya saya mengira pembuat kartun sepakbolaria adalah sama gundulnya seperti yang digambar, itu persepsi saya waktu masih SMP yang kebetulan suka beli Tabloid BOLA. Setelah teknologi Facebook merambah saya akhirnya bisa bisa bertemu dengan Gundul's maker yang teryata tidak segundul yang saya bayangkan.
Awal berkarir sebagai kartunis dimulai dari mengirim karya-karya ke bebagai media penerbitan yang memuat rublik kartun. Karya pertama dimuat di majalah Krida pada tahun 1977 (Horor ngartun pertama biasanya dibuat makan-makan atau dilaminating saja buat kenang-kenangan). Setelah itu karya-karya Nunk mulai bermuncula di Minggu Ini, Sinar Harapan Minggu, Gadis, BOLA  dan lain-lain.
Awal keakraban Nunk dengan BOLA dilmulai tahun 1988 sejak membuat kartun strip bertema sepakbola dengan judul Sepakbola...la...la..la. Kartun ini kemudian mengalami perubahan menjadi Sepakbola Ria yang bertahan hingga sekarang. Aktivitas Nunk sekarang adalah tetap menjadi kartunis dan secara rutin setiap penerbitan BOLA hari Selasa kartun strip Si Gundul menjadi santapan wajib pembaca, selain itu Nunk juga aktif dalam pembuatan kartun opini yang hadir dalam setiap edisi. Prestasi Internasional yang diraih Nunk adalah apresiasi masyarakat Asia yang lain terhadap karyanya termasuk Singapura yang menerbitkan Kartun Sepakbola Ria dengan judul Soccer Joy.

Gambar di atas adalah salah satu karya Nunk dalam rublik Sepakbola Ria. Sepakbola adalah olah raga yang digemari banyak pihak dan usia. Baik itu sekadar menjadi penonton setia atau  pecandu bola, gila bola, pemain bola maupun penjudi bola. Sepak bola tidak mengenal biaya mahal cukup ada lapangan yang tidak terlalu luas dan ada sebuah bola bisa dimainkan kapan saja. Masalah gawang bisa memakai sandal atau sepeda pancal yang dibalik. Kalau ada pertandingan besar tidak sedikit antusias dalam menyaksikan gocekan pemain favorit, sebut saja Presiden SBY yang kerap kali menonton pertandingan Timnas di Gelora Bung Karno. Sepak bola bisa dimainkan oleh siapapun tanpa ada batasan yang terlalu mengekang.
Kartun di atas manampilkan hubungan antara sepak bola dengan budaya feodal yang menjadi salah satu budaya dalam masyarakat Jawa. Nampak seorang raja yang menjadi penggemar bola turut serta ingin merasakan bagaimana berlarian di atas lapangan hijau. Unsur humor yang kuat pada kartun di atas terletak pada keberadaan pada abdi dalem yang tergopoh-gopoh melayani majikannya yang akan bermain bola sampai di tengah lapanganpun mereka masih setia memberikan keteduhan melalui payung yang setiap mengkuti kemana larinya Sang Raja.
Secara teknik gambar dari Nunk merupakan perwujudan dari goresan yang lugas dengan mengikuti gaya Quirky Cartoon yang imut dan menggemaskan terutama pada karakter Si Gundul yang menjadi pembantu rumah tangga dengan gigi tongosnya yang menambah kelucuan di balik keluguan tingkah lakunya. Karya Nunk mencerminkan konsistensi pada satu bentuk style yang menjadi pegangan utama dalam berkarya agar tetap menjadi karya yang mencerminkan eksistensi berkesenian dalam dirinya.
Nunk bukan hanya kartunis yang hanya mengejar popularitas dalam jagad perkartunan di Indonesia, hati nuraninya terpanggil untuk menjadi salah satu peserta pada kontes kartun Internasional dalam aksi solidaritas menentang kekerasan terutama di Jalur Gaza. Gambar di samping adalah salah satu karya Nunk yang diikutsertakan dalam kontes kartun Internasional pada tahun 2008. Penindasan serta kesewenang-wenangan zionis di buat oleh Nunk dengan gaya kartunal yang tidak lagi membuat kita tertawa, namun ada ketergerakan hati nurani untuk merenung lebih dalam pada fenomena yang tengah terjadi di Jalur Gaza. Anak kecil yang terbunuh bersama Bapak Ibunya mempunyai aspirasi mendalam akan pentingnya perdamaian dan ketenangan hidup. Warna biru menggambarkan perasaan yang tersentuh sedangkan pemilihan lokasi tempat kejadian di sebelah tembok tanpa latar belakang apapun dimaksudkan agar kita lebih fokus dalam memahami kelugasan gambar Nunk.
Konsistensi yang didasari oleh hati nurani adalah kunci utama suksesnya seorang kartunis. Maju terus kartunis Indonesia. Salam Ngartun !

No comments:

Post a Comment