Advertisment

Friday, August 5, 2011

Shaun The Sheep (Kajian Semiotika)

Menarik untuk mengikuti kartun anilempung Shaun The Sheep, semakin banyak yang nonton dari berbagai kalangan mulai dari yang kanak-kanak sampai orang tua. Kartun ini tidak membosankan dan menarik untuk di kaji secara ilmiah. Kali ini saya akan mengkaji dari aspek semiotika, sebuah ilmu yang saya tekuni berhubungan dengan tanda dan interpretasi manusia. Apakah semiotika itu? Semiotika menurut Wikipedia adalah didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal serta tactile dan olfactory [semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki] ketika tanda-tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia. Semiotika dapat mengkaji apa saja, mulai dari iklan, rambu, gesture, komik, kartun, film, karya sastra, musik sampai gaya hidup dan trend. Shaun The Sheep dikategorikan sebagai animasi, yaitu karya manusia berupa gambar bergerak yang diidentikan dengan film. Film termasuk dalam kajian semiotika. Ada dua unsur penting dalam semiotika yaitu penanda dan petanda. Kali ini saya lebih fokuskan pada aspek Model of Reality (Model dari Realitas) dan Model for Reality (Model untuk Realitas. Keduanya fokus pada masalah refleksi dalam animasi terhadap suatu kenyataan yang terjadi.


Kalau kita memperhatikan gambar di atas, maka kita dapat melihat tokoh-tokoh yang sering keluar dalam setiap episode Shaun The Sheep (Bagi yang kurang paham bisa membaca postingan terdahulu tentang Figur dalam Shaun The Sheep). Tokoh-tokoh dalam gambar di atas adalah sebagai Model of Reality dan Model for Reality. Kalau kita analogikan dengan sebuah kekuasaan negara (terutama negara tirani) maka tidak salah jika Shaun the Sheep mewakili realitas yang terjadi. Setting peternakan dan rumah adalah wilayah negara, Manusia diibaratkan sebagai penguasa, kawanan domba sebagai rakyat jelata dan anjing penggembala sebagai kaki tangan penguasa sekaligus media aspirasi yang cenderung bermuka dua. Sementara itu ada tokoh tambahan yang turut mewarnai kehidupan di peternakan yaitu babi yang memonopoli pohon apel.
Penguasa dalam film ini jelas dari manusia separuh baya yang hidup sendirian dalam kawasan peternakan. Setiap saat dia melihat situasi dan menginginkan segalanya sempurna. Suka membuang barang-barang bekas dari dalam rumah ke lahan tempat bermain para domba, ini dapat diinterpretasikan sebagai seorang penguasa yang lalim yang memperhatikan kepentingan kekuasaannya secara mekanis bukan dari sisi humanis yang berbasis hari nurani.
Tokoh anjing penggembala dalam Shaun the Sheep adalah figur penjaga yang selalu melayani tuan rumah, siang malam siap mengabdi dengan peluitnya siap menertibkan para domba dan alat tulis lengkap dengan daftar checklist untuk mengelist untuk mengatur domba dari dan menuju kandang. Tokoh ini dapat diibaratkan asisten penguasa lalim yang mempunyai dua muka atau bersifat oportunis, dislpin tinggi untuk majikan namun bersahabat akrab dengan para domba. Bahkan tidak segan bermain bersama mereka. Kelemahan kodrati dari tokoh ini adalah jika disodori dengan tongkat atau bola langsung menjulurkan lidah dan ekor menjorok ke atas tanda siap untuk bermain dengan siapapun pembawa dua benda tadi. Interpretasi dari karakter ini adalah dalam dunia politik tidak sedikit yang menyerupai tokoh ini, dengan buaian uang dan kedudukan yang lebih baik membuat seseorang lupa pada peran dan kewajiban awal yang seharusnya dilaksanakan.
Tokoh yang sangat mewakili Shaun the Sheep adalah kawanan domba, namanya juga the Sheep sehingga titik tumpuhnya adalah pada domba. Domba-domba yang kreatif dan tidak jarang bertingkah laku lebih dari periperdombaan. Tingkah laku yang tidak lazim bahkan lebih menyerupai manusia dilakukan dengan sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan dari pemilik peternakan. Figur ini saya interpretasikan sebagai sosok agent of change atau generasi pembaharu yang menjadi pendobrak untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Kawanan domba yang kreatif diibaratkan sebagai kalangan pemuda, cendekiawan, mahasiswa yang bersifat progresif, kurang suka dikekang, kreatif dan menghendaki sesuatu yang berbeda. Salam Revolusi Domba !

No comments:

Post a Comment