Advertisment

Friday, April 1, 2011

Referensi Buku: Menakar Panji Koming (Tafsiran Komik Karya Dwi Koendoro Pada Masa Reformasi Tahun 1998)



Judul: Menakar Panji Koming (Tafsiran Komik Karya Dwi Koendoro Pada Masa Reformasi Tahun 1998)
Penulis: Muhammad Nashir Setiawan
Tebal: xix+145 halaman
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Februari 2002
ISBN: 979-709-011-6

Buku ini saya beli tanggal 11 bulan keenam tahun 2002 di Toko Buku Uranus Surabaya. Waktu itu saya masih baru lulus SMA dan sedang mengikuti bimbel persiapan SPMB. Masa itu juga saya mulai mencintai dunia kartun dan sudah menggalakkan ngartun setiap hari. Apapun dikartunin, karena saya percaya bahwa pekerjaan yang menyenangkan di seluruh dunia adalah ngartun. Buku karangan M. Nashir Setiawan berisi tiga bab dengan fokus pada kartun mingguan Harian Kompas yang dikenal dengan Panji Koming.
Dwi Koendoro adalah salah satu kartunis/komikus yang sudah termasuk golongan senior, dapat kita sejajarkan dengan G.M Sudarta. Potensi muatan lokal Indonesia dalam wujud local genius menjadi sesuatu yang dieksplor dan dikembangkan dalam kartun Panji Koming tanpa melupakan sisi sosiokultural masyarakat Indonesia. Buku ini memberikan rekaman berbagai peristiwa penting pada masa kejatuhan Presiden Soeharto. Membaca komik Panji Koming serasa kita melewati berbagai batas waktu dan mengalami petualangan kronik sejarah lintas alur dan lintas jaman. Serasa kita naik mesin waktu yang melihat masa sekarang pada kejadian yang actual dengan penyajian masa Kerajaan khususnya Majapahit.
Bab I pada buku ini berisi Sejarah komik pers di Indonesia yang berisi cikal bakal komik yang berasal dari relief di candi-candi yang terbentang dari Jawa Barat sampai Jawa Timur (Lihat artikel di blogspot etnokartunologi pada Indonesian Classical Comic). Kartun Panji Koming yang terbit secara mingguan disebut sebagai kartun editorial, yakni kartun yang menjadi cirri khas dari sebuah penerbitan baik Koran atau majalah. Kartun editorial menyoroti segala fenomena yang tengah terjadi dengan teknik ngartun yang membuat orang bias tertawa, merenung dan tersenyum. Proses untuk mengadakan perenungan membutuhkan instuisi alami manusia dalam menafsirkan sesuatu. Proses ini berarti mencari makna yang tersurat dan tersirat dalam sebuah kartun. Buku ini menjelaskan pemaknaan pada kartun dengan pendekatan Hermeneutik-Semiotik.
Bab kedua pada buku ini memberi penjelasan secara mendetail tentang komik panji koming. Orang sering mempunyai salah kaprah tentang komik, kartun dan karikatur. Komik adalah cerita bersambung dengan frame yang teratur dengan cerita yang penjang. Kartun lebih memfokuskan diri pada sesuatu yang lucu, kejadian konyol, perilaku tolol dan humor yang menggebu. Karikatur membuat gambar tokoh terkenal atau yang kurang terkenal dengan menekankan pada eksagerasi yaitu penggambaran yang dilebih-lebihkan misalnya mata dibelokin, hidung dibesarin, dagu dibesarin dan lain-lan. Karikatur identik dengan gambar kepala besar dengan badan yang kecil. Salah kaprah yang beredar dalam masyarakat adalah kerikatur dan kartun dianggap sama. Padahal secara konten dan penyajian berbeda.
Panji Koming termasuk komik yang Indonesia banget, maksudnya dari segi gambar dari waktu ke waktu konsisten menghadirkan konteks masa majapahit dengan cerita yang sedang actual pada masa sekarang. Seorang teman komikus Surabaya dari Sanggar Oret 101 (in memoriam), Abdul Semoet Wicaksono pernah mengutarakan isi hatinya tentang ada pendapat yang meyatakan bahwa wajar jika Dwi Koendoro mengklaim dirinya sebagai komikus Indonesia banget karena konten Indonesia selalu di dalam karyanya. Setelah mendalami Antropologi dan mempelajari teori tentang perpaduan dan persebaran budaya baru saya dapat menyimpulkan bahwa tidak ada suatu kebudayaan yang mutlak asli di Indonesia karena banyak pihak yang memberi kontribusi warna tertentu pada budaya kita. Itulah proses akulturasi perpaduan dua budaya tanpa kehilangan masing-masing identitasnya. Komik dan kartun berasal dari barat sedangkan panji koming terinspirasi dari penokohan dengan setting jaman Majapahit.
Panji Koming mempunyai cerita yang cukup kompleks dengan karakteristik khas yang membuat komik ini tetap bertahan dan selalu ditunggu kehadirannya setiap minggu. Pada dasarnya lakon Panji Panji Koming mempunyai 7 karakteristik yaitu: Kadar humornya bukan sekadar lawakan, balon kata beserta diaolog maupun gerak kartunnya tidak norak, menggunakan 12 prinsip animasi walt Disney (nanti akan saya jelaskan 12 prinsip ini pada artikel terpisah), Karakter yang khas pada tokoh, masing-masing tokoh mempunyai kebiasaan pribadi yang mudah dikenal, setiap lingkungan tokoh mempunyai daya pikat gimmicks yang mudah dikenal, analogis dengan situasi abad ke-20 dan abad ke -21.
Adapun tokoh-tokoh yang sering muncul dalam komik Panji koming adalah Panji Koming, Pailul, Denmas Ariakendor, Ni Woro Ciblon, Ni Dyah Gembili, Empu Randubantal, Bujel dan Trinil, Hulubalang keratin, Hewan-hewan (Anjing, Buaya) dan Unsur alam (Pohon, buah Kelapa).
Bab ketiga berisi Panji Koming dalam merekam reformasi di Indonesia pada Mei 1998. Panji Koming dan Reformasi di Indonesia merepresentasikan Sosok Denmas Ariakendor yang mewakili Tokoh yang paling disorot pada tahun 1998 yaitu Presiden Soeharto. Denmas Ariakendor mewakili sosok Buta Cakil yang culas dan metakhil. Tahun 1998 adalah tahun yang mengembirakan sekaligus memiluhkan. Reformasi yang dituntut rakyat melalui mahasiswa sampai memakan korban jiwa dan material, menjadikan perubahan dalam tatanan berbangsa dan bernegara di Indonesia, mengawali era keterbukaan dan kebebasan setelah sekian lama terkekang. Reformasi 1998 melahirkan penguasa yang mati rasa sampai pada ujungnya dengan pengunduran diri Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998. Efek dari polemik yang terjadi adalah munculnya krisis di Indonesia yang membuat segala macam kebutuhan harga mengalami kenaikan. Masalah makin berat, para petinggi negara berupaya mencari penyelesaian dengan mengadakan siding Istimewa yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai musyawarah plesetan. Tuntutan untuk mengadili Soeharto dan mengusut kekayaannya membuat banyak pihak yang ditunding masih mewakili sisa-sia imperium dinasti orde baru. Muncul tokoh-tokoh yang menjadi pembaharu dengan visi misi yang mewakili agenda umum untuk perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun negara malah menganggap tokoh itu sebagai pemimpin gerakan makar (gerakan pembelotan dan melawan negara). A.Kemal Idris dan Ali Sadikin yang dianggap sebagai biang makar pada saat itu.
Akhir kata, Panji Koming secara kritis mengangkat fenomena yang faktual pada masa transisi dari Era Orde Baru ke Orde Reformasi, fenomena diangkat dengan kritis melalui metafor-metafor visual dengan sedikit bumbu humor. Panji Koming menarik untuk dicermati lebih dalam sebagai deskripsi yang signifikan dari penggalan catatan sejarah bangsa.

No comments:

Post a Comment