Advertisment

Tuesday, June 6, 2017

Ketika Surabaya Berkarikatur

Surabaya adalah sebuah kota yang terletak di pesisir Jawa Timur yang sejak lama mempunyai beragam reputasi. Pernah menjadi semacam kerajaan kecil semacam keraton (dengan alun-alun Contong dan daerah Kepatihan), salah satu pusat perdagangan dulu bernama Ujung Galuh. Menghebohkan dunia dengan pertempuran 10 Novembernya sampai kegiatan berkeseniannya. Bicara tentang kesenian, kebanyakan orang hanya tahu Surabaya dengan Tari Remo dan Ludruk. Kalau ditelisik lebih dalam banyak seniman besar yang terlahir di Surabaya, ada Cak Durasim sampai Gombloh dengan tahi kucing rasa coklatnya. 

Untuk seni rupa, Surabaya mempunyai beragam galeri dari berstatus negeri sampai swasta (mirip sekolahan), ada galeri menandakan geliat berkesenian juga kuat baik dari proses kreatifnya maupun komunitas seninya. Awal kuliah S-1 di Universitas Airlangga, DKS sebuah gedung samping Bioskop Mitra (kini sudah tinggal riwayat) menjadi tempat cangkruk sekaligus melepas lelah karena rutin naik sepeda pancal dari Sawahan - Karangmenjangan. Ada banyak pelukis yang berproses di sana, bahkan tidak jarang ikut cangkrukan dengan para seniman yang dari luar nampak gahar (gondrong) namun sangat terbuka dan ramah. Saat itu terbesit sebuah pertanyaan: "Ini banyak seniman lukisnya, lha kartunis sama karikaturisnya kemana semua, nangdi kabeh? moso gak ono prejengane siji-siji?". 

Hingga lanjut kuliah lagi di Jogja, saat semangat 45 untuk menekuni kajian budaya kreatif dari para seniman khususnya kartunis pertanyaan besar masih mengusik di hati. Tidak sedikit kota sudah punya komunitas kartunis (plus karikaturis), kemana ini Surabaya. Begitu tahun 2015 saat studi di UGM selesai dengan dipermudah teknologi digital (via media sosial) akhirnya keberadaan karikaturis Surabaya mulai terlacak


Gak Karikatur Tah Pean? (pada suatu Agustus di Sutos) 

Adalah Surabaya Caricaturist Community (SCC), sebuah komunitas pecinta seni karikatur untuk siapapun yang ingin berproses reaksi dalam sebuah proses kreatif yang solid dan berkesinambungan. Ada kepuasan tersendiri saat bisa menemukan keberadaan komunitas karikaturis ini, mengingat saat pengumpulan data untuk riset kartun beberapa kartunis senior sempat memberi pesan cari potensi ngartun/ngarikatur di sekitarmu. Istilahnya kalau saya maknai "Berilah seribu pemuda/pemudi lucu pinter nggambar, niscaya negara ini akan ceria". 
Berdasarkan tanya jawab singkat dengan Cak R, salah satu sesepuh dari SCC menceritakan secara singkat riwayat komunitas yang membuat anggotanya bisa melihat sisi lucu dari wajah setiap orang (bahkan Alien, Kingkong dan Robot). Berawal dari keinginan bersama untuk memiliki tempat berteduh dari panas dan hujan yang 'nyel' dan ajeg dari orang-orang Surabaya dan sekitarnya tentunya yang menyukai seni karikatur. Mengingat pada awal pembentukan keberadaan SCC bisa dikatakan semacam additional player (nek wong Suroboyo ngarani pupuk bawang) sebagai bagian dari art perform saja, Ibarat minion dalam film Despicable Me, namun dengan keteguhan hati dan semangat para perintis (dimulai dari trio karikaturis) akhirnya SCC bisa berdikari dan membuktikan bahwa karikatur juga bagian dari sebuah karya seni. 

Berproses Bersama (Saling Sharing - gak- Saling Serang)


Lahir pada 12 Desember 2012 (empat bulan selepas ekspedisi Surojogja) SCC semakin melebarkan sayap dan telah menjaring bakat-bakat muda (termasuk yang tua tapi berjiwa muda) untuk berproses bersama, ngarikatur bareng. Dari tiga menjadi lebih dari dua puluh orang. Berdasarkan  penuturan Cak R ada tiga hal yang mendukung kreatifitas dan keguyuban SCC. Pertama, peran media sosial mulai dari Facebook, Instagram sampai Whats app sebagai sarana tidak hanya pamer karya (pameran tunggal virtual), juga dapat menjadi sarana komunikasi yang efektif antar anggota dan menambah anggota baru. Kedua, PR mingguan. Kalau jaman sekolah jika kita mendengar kata Pekerjaan Rumah (PR) apalagi untuk pelajaran yang dirasa berat itu terkesan menjadi beban tersendiri. Karena tidak dinikmati, tapi PR dari SCC setiap senin selalu ditunggu kehadirannya. PR SCC sebagai ajang senam tangan, pemanasan menggambar sampai menjadi sarana untuk melihat referensi film terbaru yang sedang tayang di bioskop. Pengalaman saya sendiri saat ada PR menggambar salah satu tokoh antagonis di film balapan mobil, FF 8, saya tidak jadi menggambar karena gak senang dengan perilaku licik mbak e yang menculik anak lucu ke dalam pesawat. Tapi sudah ada janji dalam hati, kalau setiap posting PR harus menyertakan item antara pancing, ikan dan Jagir. Ketiga, sosialisasi karikaturis. SCC mempunyai kegiatan sosialisasi lewat acara di mall, kampus atau tempat wisata (berair dan bisa mainan busa). Setiap minggu di tanggal tua ada acara rutin bertajuk SCC Meet Up di Taman Bungkul seebagai ajang berkumpul dan konsolidasi antar anggota komunitas. Mengenai ajang pameran pada tahun 2017 SCC ikut PSLI sebagai pembuktian bahwa pameran karya karikaturis juga layak (dan harus) disebut bagian dari seni rupa. 

Eksistensi komunitas ini menunjukan bahwa karikatur bukan sekadar gambar ngawur. Saya sependapat dengan pandangan ini. Menggambar karikatur tidak hanya mengobrak-abrik wajah seseorang. Tapi harus jeli melihat karakter khas dari seseorang secara visual, cermat dan singkat. Hal yang tidak kalah penting dari karikatur adalah aspek humor. Mengutip Pernyataan Nick Meglin (2011) "Caricature is unique in that it incorporates a blend of both the representational and humorous approaches". Jadi inti dari dari ngarikatur adalah representatif dan humoris, tidak sekadar meniru obyek secara mentah-mentah untuk bisa menjadi seperti itu perlu latihan dan pergaulan yang intensif. Gak Karikatur Tah Pean?!? (Jangan lupa datang ke Sutos setiap Jumat jam 19:00 sampai 23:00 WIB). 
Saling Menggambar bersama Cak R 

1 comment:

  1. Mantap..mas.pingin join gimana caranya.. Ada bakat seni rupa sedikit boleh ya.

    ReplyDelete