Advertisment

Tuesday, October 20, 2015

Shaun The Sheep The Movie (2015) dalam Analisis Mikro-Selebritas

Pernahkah anda merasa bosan atau jenuh dengan segala rutinitas yang ada? Pernahkan anda berpikir untuk mencari pelarian sejenak dari segala rutinitas? Pernahkan anda membayangkan menjadi terkenal karena sebuah ketidaksengajaan?
Beatles ala Shaun The Sheep
Rutinitas, menjadi pembuka dalam film Shaun The Sheep The Movie. Pada adegan awal, nampak kegiatan rutin setiap pagi. Bangun tidur, diabsen dan pada saat tertentu harus menjalani acara potong bulu.
Agenda Potong Bulu
Maklum lakon dalam film ini adalah domba atau wedhus gibas. Kalau kambing Jawa tentu tidak ada acara potong bulu tapi mungkin hanya menggembala. Rutinitas itu menjadikan para penghuni peternakan menjadi bosan dan bereksperimen. Eksperimen pertama pada ayam jantan yang biasa berkokok, tidak hanya dengan mulut kosong (manual) tapi berkokok dengan menggunakan alat pengeras pula.
Toa Kukuruyuk

Kejenuhan juga dialami oleh kawanan domba. Mereka mulai malas pada rutinitas, dipotong bulu tidak sakit tapi rutinitas itu yang bikin sakit. Akhirnya muncul siasat dari Shaun yang didukung oleh teman-teman dombanya. Segalanya telah direncanakan demi sebuah liburan untuk pelarian.
Konsolidasi biar tidak kruang piknik 

Pada hari yang telah ditetapkan, dengan didukung pula oleh beberapa kerabat dalam peternakan (bebek) akhirnya rencana dijalankan. Langkah pertama adalah mengalihkan perhatian anjing penjaga (Bitzer) dan setelah itu meninabobokan Pak Tani (pemilik peternakan) dengan metode menghitung domba. Tapi petaka terjadi, kamar flat yang seharusnya dipakai untuk menidurkan Pak Tani melaju kencang menuju kota, tak terkendali. Pak Tani mengalami musibah begitu sampai di kota. Kepalanya terbentur lampu kota yang menyebabkannya menderita hilang ingatan sementara (amnesia). Bitzer pun menyusul tapi gagal menemui Pak Tani karena larangan: Anjing masuk ke dalam lingkungan klinik. Shaun berinisiatif untuk melacak keberadaan Pak Tani di kota, dengan menaiki bus. Setiba di kota ia menemukan teman baru, seekor anjing terlantar termasuk masalah baru seorang pemberantas hewan liar dalam kota (animal containment).

Bahaya dari laskar anti hewan liar

Bayangan di kota lebih enak, ternyata tidak terjadi. Ternyata diam-diam rombongan domba dari peternakan juga menyusul Shaun. Dan dipandu oleh kawan baru, mereka berupaya menemukan Pak Tani. Nasib Pak Tani sendiri tidak terduga, menjadi terkenal tanpa harus ikut kontes talent berbakat yang butuh dukungan sms.
Potong berbulu domba

Ceritanya, selepas keluar dari rumah sakit, Pak Tani melewati sebuah salon rambut. Ada seorang artis yang sedang bermasalah dengan rambutnya. Dalam kondisi hilang ingatan inilah memori terkuatnya masih tertuju pada aktivitas di peternakan. Akhirnya secara spontan Pak Tani memegang rambut artis tadi dengan cara yang tidak jauh saat memotong bulu domba di peternakannya. Tidak disangka potongan rambut gaya domba ini menjadi trend tersendiri akibat pengaruh sosial media. Akhirnya Pak Tani menjadi seorang tukang pangkas yang digandrungi. Shaun dan kawan-kawan berjuang keras untuk mengembalikan Pak Tani beserta ingatannya. Akhirnya semua berhasil dengan gemilang walau banyak tantangan menghadang. Pak Tani sembuh dan peternakan kembali normal. Tidak ada lagi keinginan untuk keluar dari rutinitas, bahkan berusaha untuk menikmati semua rutinitas. 
The Power of Sosmed
Film ini ditulis dan disutradarai oleh Mark Burton dan Richard Starzak. Melalui kolaborasi antara studio aardman dan studio canal, film berbasis animasi (lebih tepatnya anilempung-istilah saya untuk animasi berbasis tanah malam), secara kompak diproduksi oleh orang-orang hebat yang berada di balik layar.  Pada dasarnya karakter Shaun The Sheep ini diciptakan oleh Nick Park, kemudian melejit melalui tayangan serial yang mempunyai penggemar sendiri. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga suka. Terlebih lagi orang yang menekuni dunia animasi. Film ini melibatkan banyak lini. Itulah kenapa film animasi itu mempunyai tingkat kerumitan yang lebih dibandingkan dengan film biasa. Itu karena tim yang bertugas lebih banyak dan rumit, karena yang bermain bukan manusia tapi buatan manusia. Dari produser, animator, penata cahaya, kamerawan, desain grafis, tim produksi, penata gerak, pembuat model, editor, pasca produksi sampai musik. Semua bersatu padu membuat karakter, plotting dan visualitas Shaun The Sheep lebih berwarna. Saya mengikuti dan menonton semua seri Shaun The Sheep, namun ada yang berbeda. Karakter yang ditampilkan lebih beragam dan setting perkotaan itu yang rumit. Membuat gambaran lalu lintas kota tidak melulu lingkungan peternakan dan rumah Pak Tani saja. 
Mendadak Ganteng
Secara humor, film ini menyajikan humor yang cerdas. Semua bermula dari kegokilan Shaun sendiri. Merencanakan pelarian, mengganti jendela menjadi suasana malam. Ada humor karena ketidaksengajaan/spontanitas yang keren. Saat kamar van melaju dan secara tidak sengaja ada mobil bergambar pria tampan, pada saat itu Pak Tani bermaksud akan bercermin dan menganggap dirinya lebih ganteng dari sebelumnya. Tidak hanya itu, kejadian waktu bitzer, si anjing penjaga menjadi seorang dokter gadungan yang akan mengoperasi pasien. Mirip karakter boneng di film warkop yang menjadi dokter gadungan bahkan mengobati pasien.
Trend Center

Kali ini saya melakukan analisis film ini dari sisi penggunaan sosial media pada film ini yang membuat Pak Tani menjadi selebritis dadakan, tukang potong yang mengibarkan potong gaya domba. Penggunaan internet termasuk dalam jejaring sosial memberikan dampak yang besar pada kehidupan masyarakat saat ini. Dulu pengguna internet termasuk sosmed jumlahnya terbatas, karena berasal dari kalangan tertentu. Kini hampir semua orang yang mempunyai jejaring sosial. Interaksi tidak melulu bertemu via langsung tapi ada mediator yang canggih yaitu komputer, Istilahnya computer-mediated communication. Internet dan media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan, hari ini orang bangun tidur yang dilihat pertama adalah ponsel pintarnya. Ada semacam ketergantungan yang tinggi pada dunia maya. Berdasarkan hasil penelitian dari Alice E, Marwick (2014) penggunaan sosial media merupakan upaya untuk menunjukan diri dalam bentuk teknik presentasi, micro celebrity, kuantitas dan promosi.  Lalu apa itu micro-celebrity, menurut Alice E, Marwick dijelaskan: 

"strategies combine the entrepreneurialism fetishized by techies and business people with marketing and advertising techniques drawn from commercials and celebrity culture"

Penjelasan di atas dapat dihubungkan dengan fenomena yang ada dalam film. Melalui ketidaksengajaan menjadi sebuah cara pemasaran yang bagus bagi pengusaha salon. Potongan gaya pangkas bulu domba yang kemudian menjadi trend center masyarakat kota dalam film Shaun The Sheep melalui agen pengguna jejaring sosial, pemilik salon, artis yang bermasalah rambutnya plus pemilik salon menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam penciptaan trend. Itulah kekuatan dari sosial media, mempunyai kekuatan perubahan yang besar.
Agent of Trend
Mengubah cara hidup dan lambat laun juga dapat mengubah pandangan hidup. Khususnya yang oleh Foucault katakan sebagai "Technology of the self". Film ini mengingatkan pada kita semua bahwa statusmu adalah karaktermu. Orang bisa menjadi selebritis atau pengusaha dadakan jika melakukan manajemen yang bagus, salah satunya adalah memanfaatkan jejaring sosial, asal dengan bijak dan tidak ugal-ugalan. 

Referensi
Alice E. Marwick, Status Update: Celebrity, Publicity, and Branding in The Social Media Age. Yale University Press. 2013.

No comments:

Post a Comment