Advertisment

Thursday, October 8, 2015

Ikan Farewell party: Kisah Dua Boncos

Jumat, 2 Oktober 2015 melewatkan masa-masa penghujung di Kulon Progo. Ada agenda pesta kecil sembari menunggu mobil jemputan. Saya dan Gotir sepakat belanja perlengkapannya, acara bakar ikan. Dalam terik matahari kami berdua menuju pasar Wates. Sasaran utama adalah beli ikan segar. Tapi siang itu lapak terasa lengang. Ada beberapa ayam potong di lapak yang biasa jual ikan segar. Dua Ibu pedagang ayam potong sangat antusias. "Ayam Mas" sambil mengangkat tangan. Saya cuma melangkah, sedikit gontai karena lapak ikan sudah tak buka. Gotir ku ajak balik kanan saja. Ingatanku pada plakat di barat terminal Wates, ada pasar ikan Wates. Saat itu ada seorang Ibu bertanya:"tumbas nopo Mas? ". Saya berjalan sambil berbisik pelan beli ikan dan terus berlalu.

Menembus Tambak menuju TPI


Perjalanan dilanjutkan ke terminal Wates, ternyata pusat ikan segar di sana juga tidak beroperasi. Pagar terkunci. Artinya kami sudah boncos dua kali.  Ada kesepakatan baru, berangkat ke TPI Trisik. 
Lantaran cuaca cukup menyengat kami berdua pulang sebentar hanya untuk minum seteguk air. Benar memang hidup itu cuma mampir. Urip mung mampir ngombeh. Mampir singkat untuk minum air seteguk segelas berdua. 
Gotir,Mr Boncos


Melewati jalur tembusan pedesaan kami bermotor kembali. Tujuan TPI trisik Kulon Progo. Melewati medan pepohonan jati, pekarangan penduduk, hingga persawahan. Walau musim kemarau, petani di sini masih berjuang untuk bekerja dengan menanam jaging, cabe, padi dan bawang. Airnya tidak membutuhkan air hujan, penduduk sini mengebor tanah dan dengan pompa air irigasi telah terpenuhi. Motor melaju menuju selatan.Terpampang plakat bertulis Siliran. Spot mancing favorit .
Sepi agawe santoso
Aroma pantai telah semerbak, laut selatan sudah ada di depan mata.Dari jalur Daendels yang melintasi Jogja sebelah selatan kami terus melaju. Melewati hamparan perumahan penduduk dan tiba diujung aspal terus membelah ke selatan. Saya melihat ada sesuatu gejolak di daerah ini, ada plakat larangan masuk untuk pekerja pasir besi, penduduk sekitar yang mengawasi perjalanan kali ini. Motor masuk area tak beraspal,di kanan kiri ada pertanian masyarakat mulai dari pepaya,kangkung,cabe,sampai semangka. Semangka itu salah satu ikon khas dari kulon progo mengingat beberapa area adalah penghasil semangka. Tiba di dekat garis pantai,ada tambak udang,cemara udang sampai penanaman buah naga. Begitu kami tiba di TPI suasana sepi.Bayangan akan keramaian pasar ikan segar pupus,yang buka hanya wc umum. Berkeliling sejenak,ada perahu tertambat dan tidak jauh dari situ ada pasangan muda mudi yang tengah memadu kasih.Mas Mbak gak kepanasan tah siang terik pacaran di antara perahu nelayan ?.
Perkilo hanya 25k
Kecewa sudah pasti. Maksud hati ingin cari ikan untuk dibakar bersama apalah daya TPI 'bubrah'. Berdua dengan Gotir motor dilaju menuju pasar,plan b mencari ayam saja. Kami berlanjut menuju pasar Wates dan melewati lapak yang sebelumnya sudah dipantau.Tiba di pasar Wates yang mulai lengang, saya menuju pedagang ayam. Mereka sudah antusias,dua Ibu penjual ayam yang bersebelahan nampak antusias.Menuruni lapak saya berjalan tegak karena yakin bahwa ayam saja.
Tapi baru dua langkah, ada seorang ibu yang tiduran santai sambil menanyakan apakah mencari ikan segar. Spontan saya hentikan langkah kaki dan menghampiri Ibu tadi. 
Wasripin satpam TPI

Lalu Ibu tadi berjalan santai menuju satu kotak yang ternyata adalah sebuah kulkas. Ada ikan laut dan tawar berada di dalamnya. Ternyata kotak besar membentang itu adalah peti pendingin. Kalau lemari penempatannya vertikal,peti pasti vertikal. Saya kemudian memilih ikan yang akan dibakar, ikan bawal dan nila. Beli dua kilo tapi ikan bawalnya yang diperbanyak.

Bakar-bakar

Saat Ibu tersebut mengurus ikan, saya lontarkan pertanyaan sekaligus cletukan, kenapa tidak pasang papan nama dengan keterangan DiSini Jual Ikan. Karena untuk mencari ikan ini kami membutuhkan perjuangan yang lebih, mutar muter Kulon Progo. Ikan di bawa pulang dan malam harinya kami mengadakan acara bakar-bakar, bakar ikan tentunya. Menu utama dalam acara pisah kenang Roikan setelah 3 tahun hidup, kerja dan kuliah di Jogja. Akhir kata saya mengucapkan terima kasih pada semuanya yang telah menjadi bagian dalam hidup di rantau di tanah Binangun nan Istimewa. 
Detik-detik terakhir

No comments:

Post a Comment