Advertisment

Sunday, August 2, 2015

Muktamar Kartunis, cerita dari Mubes Pakarti 2015

Semua orang sedang membahas muktamar dua organisasi massa berbasis massa besar di Indonesia. Hijau dan biru. Muktamar Nahdhatul Ulama (NU) ke-33 di Jombang dan Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makasar. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengikuti muktamar: Mubes Pakarti (Musyawarah Bersama Persatuan Kartunis Indonesia). Ada beragam fakta unik seputar mubes Pakarti 2015 28-29 Maret 2015, namun yang menjadi tujuan utama adalah manfaat dari pertemuan rutin kartunis Indonesia ini untuk umat. Demi kemaslahatan umat, kartunis atau tukang gambar yang tersebar di berbagai kawasan. 
Prameks pagi: Wates-Solo
Pagi setelah alarm di hp berbunyi dengan setengah sadar bercampur panik saya bersiap menuju stasiun Wates. Jangan sampai tertinggal kereta pagi yang murah meriah bisa sampai Solo. Kalau naik bus bisa membuang waktu yang cukup lama. Jalanan cenderung macet kalau sudah masuk pagi, dengan beragam aktivitas. Anak sekolah, karyawan kantoran, buruh sampai bus pariwisata.  Kereta prameks menjadi solusinya. Setelah mendapat tiket, saya segera menuju ruang tunggu bersama pramekers yang lain. 

Perbaikan Gizi kala tanggal tua
Bayangan saya nanti di muktamar kartunis akan berjalan lancar setelah sampai di stasiun Solo Balapan. Ternyata kenyataan tidak sama dengan impian. Buta medan, buta solo (karena sedang kebingungan di kota Solo bukan di kota Medan). Saya naik becak menuju Taman Budaya Jawa Tengah. Becak melaju dengan woles dan saat itulah salah satu panitia sms."Kalau dari stasiun  ke TBJT naik becak terlalu jauh Mas". Perasaan tidak enak kembali menjalar. Ada apa gerangan. Akhirnya sampai pula di Taman Budaya, tapi kali ini salah sasaran. Baru tahu ternyata taman budaya di Solo ada dua, Sriwedari dan TBJT dekat ISI Surakarta. Muktamar diselenggarakan di TBJT, tukang becak mengantarkan ke Sriwedari. Atas panduan dari panitia pula, saya berjalan menuju halte bus. Semacam transbus punya Solo, batik bus. Semacam nama pesawat komersial. Enak bisa mbatik sambil menikmati perjalanan. 

Tantangan menuju lokasi muktamar juga sulit, sesulit menjawab tantangan industri kreatif. Kali ini saya nyasar lagi, turun di halte bus yang terlalu menjorok ke timur. Tidak tepat sasaran. Di depan gerbang kampus Universitas Sebelas Maret saya terpaksa turun. Berniat naik bus lagi ke barat. Tapi atas kebaikan panitia saya mendapat jemputan. Pak Dhe Dwi, demikian panggilan beliau, seorang kartunis senior anggota Pakarso (Persatuan Kartunis Solo) datang menjemput dan saat itulah seumur hidup saya memasuki kawasan UNS. Biasanya cuma lewat depannya saja kalau dalam perjalanan rutin Jogja-Malang atau Jogja-Surabaya pp, antar kota antar provinsi. 
Tiba di lokasi muktamar, telah berkumpul teman-teman kartunis duduk asyik di teras gedung. Setelah bersalamanria dengan beberapa kartunis, saya melakukan registrasi dan memasuki arena muktamar. 
LPJ Sang Presiden
Setelah acara pembukaan, berlanjut pada laporan pertanggungjawaban Pak Presiden Pakarti: Jan Praba. Namanya juga kartunis tentunya suasana muktamar sangat humoris. Ada senyum, tawa dan iseng-iseng yang menggoda dari peserta yang ada. Bayangan saya semula, forum ini akan menjadi formal atau serius semacam seminar atau bedah buku di kampus. Tapi di tangan para kartunis, keseriusan meleleh oleh suasana yang santai tapi tetap fokus. 
Roikan Menggugat
Ketika mendapat kesempatan untuk bicara. Saya maju menuju mimbar dan menyampaikan aspirasi tentang permasalahan di dunia kartun Indonesia. Terutama regenerasi dan usulan pembuatan pusat studi atau litbang khusus kartun. Tidak lupa usul pembuatan website atau forum yang lebih baik dan interaktif, tidak melulu menggunakan jejaring sosial.
Kecuali ada bagi beberapa kartunis yang ingin nyambi, fokus tapi tetap usil. Dialah Joko Susilo, kartunis atau lebih tepatnya karikaturis dari Kaliwungu yang tidak berhenti menggoreskan spidol saktinya untuk menggambar wajah siapapun di sekitarnya. 
Djoko Susilo kokkang membidik Jajak Solo
Saya membayangkan, jika kelak pada hari perhitungan akhirat. Jika diijinkan untuk membawa peralatan gambar, kertas dan spidol. Djoko Susilo akan menggambar semua wajah orang yang ditemui sepadang mahsyar. Setelah makan siang, acara berlanjut dengan pemilihan dan pemilahan ketua Pakarti. Semacam pilpres, dan yang menjadi Pak Presiden kartun adalah Jan Praba. Pejabat lama yang naik kembali. 
Kartunis Indonesia bersatu
Acara santai sore itu dilalui dengan duduk-duduk sambil menikmati makan gratis karena panitia telah memborong angkringan plus isinya. 
Madhang angkringan sak kapok e
Ada peserta yang datang sedikit telat, karena terhambat jarak dan waktu tempuh tentunya. Wawan, kartunis sekaligus penyanyi yang dulu beken bersama grup Teamlo datang bermobil dari Jakarta. Tidak membayangkan capeknya seperti apa, nyetir sepanjang itu. Jamuan sore berlangsung akrab dengan suasana penuh guyup. Seakan meelupakan sejenak, tekanan deadline maupun perbedaan garis. 
Malam harinya kami mendapat tempat kehormatan, karena diundang oleh pejabat setempat. Bapak Walikota Solo mengadakan jamuan makan malam sekaligus ramah tamah dengan kartunis. Lepas jamuan sore datang jamuan makan malam. Seperti gambar di atas, acara ini benar-benar perbaikan gizi tanggal tua. Dalam sela-sela acara kami dihibur oleh tarian tradisional Solo yang dimainkan oleh remaja putri. 
Minke bersama Wawan Teamlo
Saya membayangkan novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer malam itu. Membayangkan sebagai seorang Minke yang sedang mendapat jamuan kehormatan dari tuan Millema.Duduk dipendopo bersama sang kekasih hati  Anneliesse, anak dari Nyai Ontosoroh.
Minggu pagi, muktamar berlanjut di jalanan. Melalui acara kartunis beraksi di sela-sela car free day minggu Solo. Kedatangan kartunis dari berbagai daerah memberi nuansa yang berbeda karena ada acara ngartun on the spot dengan tema anti korupsi. Penyakit bangsa yang akut. 
Kartunis beraksi
Ada beragam respon dan komentas dari khalayak yang lewat. Termasuk yang antusias, tidak segan-segan masuk dalam senda gurau kami. Termasuk mencoba berunjuk spidol. 
Koruptor dan kimcil (Roikan)

Kartunis beraksi dalam sebuah kompilasi

begal uang rakyat (Slamet Wid Secac)

Korupsi membawa 'nikmat' (Ifoed)

Tikus meletus

#Save KPK (Suryo)
Dalam kesempatan ini saya mencoba berbagi lelah dengan salah satu kerabat kartun, pembawa bendera kebesaran Pakarti. Kebetulan yang membawa bendera saat itu putri dari kartunis Pak Kadi, kartunis dari Pakarso sekaligus pembatik yang mengkolaborasi antara kartun dan batik. 
Sehat tanpa Korupsi
Matahari semakin menanjak, sudah waktunya untuk segera beranjak. Tapi sebelum kami membubarkan diri ada momen yang ceria yang turut mewarnai kesempatan langka bertemu dengan teman-teman kartunis. Aksi dari kartunis sedulur sikep dari Semarang. Bondet, selain mahir menggambar juga kreatif bermusik. Menghibur khalayak dengan lagu-lagu yang sarat kritik. 
Bendot Secac in action
Setelah itu kami berkemas dari car free day untuk kembali ke lokasi TBJT untuk urusan pemutakhiran AD/ART organisasi demi 'akreditasi' yang selaras dengan tuntutan jaman. Acara ini sekaligus penutupan mubes Pakarti 2015. Jamuan terakhir dari panitia adalah masakan tengkleng spesial. Tengkleng rasa kartun. Akhir kata dalam penutup posting kali ini saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman kartunis yang tergabung dalam Pakarti, khususnya Persatuan Kartunis Solo (Pakarso), selaku panitia yang telah bekerja keras menyiapkan dan menfasilitasi semuanya. 

catatan kaki (paragraf dibuang sayang): 
Minggu pagi (29 Maret 2015) bersama dengan Mas Ifoed saya bermaksud membangunkan teman-teman kartunis, khususnya yang berasal dari Jakarta. Saya cuma ikut di belakang Mas Ifoed, tiba di suatu kamar, Mas Ifoed mengetuk pintu, saya ikut mengetuk setelahnya dengan ketukan yang lebih keras. Ternyata yang keluar bukan Jan Praba atau Joko Luwarso. Tapi seseorang dengan rambut gondrong tanpa ekspresi. Dan menutup pintu kembali. Saya langsung nyelonong di belakang Mas Ifoed yang menghampiri pintu kamar di sebelahnya. Ternyata kami salah ketuk pintu kamar. #kartunIndonesia #Pakarti

1 comment: