Advertisment

Thursday, June 25, 2015

LIKANGTOR: Kali Belakang Kantor (Ayo Memancing X)



Setelah beberapa postingan tentang spot mancing pada area tertimur (Banaran) dan terbarat (MuaraCongot). Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang spot mancing yang paling dekat. Sungai yang melintas tidak jauh dari kantor. Terletak di belakang kantor. Masih termasuk dalam jaringan kali Serang. Membentang membelah kawasan Giripeni, termasuk Gunung Gempal. Tempat berteduh saya sejak tahun 2012 plus ngantor di Wates.

Plung Nyut...ikan jatah setahun..
Spot ini pertama kali diperkenalkan oleh Tri Gotir. Saat mancing bersama di suatu minggu yang masih buta medan bersama Tri Kusnadi. Pengalaman perdana boncis di  spot ini, tidak membuat kapok. Berlanjut memancing di tengah malam, tepatnya malam jumat. Bukan ikan yang didapat. Kami bertiga menjumpai seekor ulat piton ukuran sedang melintas di area uncal. Dengan santainya piton itu berenang di depan kami. Suasana tegang karena ular segedhe itu bisa makan ayam sekali lep. Tinggal leph. Tapi suasana mencair bahkan jadi humor sejak Tri Kusnadi yang orang ngapak, berseloroh spontan dengan kengapakannya. 

sore santai


Uluuu,..ulliiii Yung,..Uluuu Biyung”. Sambil mengangkat salah satu kakinya. Suasana yang humor kembali menegangkan, ketika piton itu tidak jadi berenang. Malah menyelam dan menyisakan kepalanya di permukaan air. Seakan mengawasi kami sedang mancing tengah malam. Semacam kamera CCTV dari alam. Ada mitos yang beredar di kalangan masyarakat dan juga beberapa pemancing. Kalau saat berangkat mancing atau saat mancing kita bertemu dengan ular. Maka boncos jadi jaminannya. Tidak bakal dapat ikan. Apalagi jika yang kita temui adalah ular weling. Salah satu jenis ular berbisa yang mirip zebra cross. Selang seling antara hitam dan putih. Walau belang seperti itu tapi daya bisanya sangat mematikan. Ingat, semakin lancing mulut ular itu, semakin mematikan gigitannya. Please jangan disamakan dengan mulut orang lho ya...no rasis. 


the power of ombyok
Benar juga mitos itu. Setelah bertemu ular mancing kami hampa. Boncos. Ada ular lain yang hampir saya temui setiap mancing pagi, siang atau sore. Ulo katok. Bukan maksud mengintip orang mandi. Biasanya dengan sopan dan ramah, bapak-bapak yang hendak mandi di dekat spot pemancingan selalu uluk sapa. “Mas badhe tumut adus nggeh” (Mas mau ikut mandi ya). Saya hanya bisa tersenyum dan mengiyakan. Mau melarang juga mustahil wong bukan penduduk asli Wates. Malah saya beranggapan  kalau ada laki-laki mandi di area sekitar pemancingan kita. Ikan-ikan pada berdatangan mendekat. Mungkin dia panik karena di sisi lain ada ulo katok yang datang menyerang. Mereka mendekat mencari perlindungan plus makan. Ibarat barak penampungan, ada makanan gratis. Tapi harus siap dengan resiko terangkat ke darat. Kalau mencoba mencicipi hidangan cacing unthel atau pelet segar yang saya sajikan. 

barongan fishing
Salah satu peristiwa yang tidak pernah saya lupakan dari spot ini adalah saat iseng-iseng di suatu sabtu yang ceria mendapat doorprice seekor ikan wader buntut abang yang lumayan besar. Hanya menggunakan joran patang ewu yang murah meriah. Maksud hati hendak memanfaatkan sisa umpan pelet yang sayang kalau terbuang. Saya bergegas ke kali belakang, melewati Ibu-ibu yang sedang ngerumpi di kerumuna penjual sayur (welijo). Ada seorang ibu yang nyethuk:”Mas-mas mancing terus memang dapat ikan”. Hari panas, hati anget, kepala tetap suam-suam. Kebetulan ketinggian air saat itu relatif tinggi. Di bawah kanopi pring, saya melempar umpan. Wush...beberapa saat kemudian. Ada yang menarik-narik, dan hap lalu terangkat. Seekor ikan bader buntut merah dalam genggaman. Saya lupa membawa ember atau piranti untuk menampung ikan agar tetap hidup. Ikan dalam genggaman saya bawa lari menuju kantor untuk mengambil ember. Melewati rombongan ibu-ibu, yang terbengong dengan ikan dalam genggaman. Salah satu Ibu kembali nyelethuk:”Wah gedhe Mas ikane. Enak itu kalau digoreng. Mau dong”. Saya cuma tersenyum dengan penuh kemenangan sambil berkata dalam hati: “Kok Nyimut”. Ikan Bader di sini serupa tapi tak sama dengan bader yang ada di Lamongan. Perbedaan utamanya pada casing, ada warna strip merah pada sirip dan ekor.
Panji manusia kali
Salah satu lakon wayang kulit dari Dalang kenamaan di Kulon Progo. Ki Hadi Sugito dalam lakon “Gareng Dadi Ratu” menceritakan bagaimana Nyai Roro Sembodro mempunyai permintaan kepada Arjuna untuk dicarikan Ikan Derbang sisik kencono. Ikan Wader Abang dengan kulit kencana. Ikan ini hanya dapat ditangkap dengan menggunakan jala khusus yaitu Jala Sutra (mirip nama penerbit buku ya). Jala ini unik, karena satu ruasnya mewakili satu nyawa. Kalau ada yang robek satu ruas harus ditukar nyawa orang yang merobekannya. Beruntung istri tercinta yang dengan hamil muda tidak memiliki ngidam ekstrim seperti Sembodro. Cukup ikan gurami/tengiri yang dapat dibeli di rumah makan terdekat.
semangat pagi
Spot mancing kali belakang kantor tidak hanya menghadirkan pemandangan sungai belaka. Tapi di sini saya sering menyaksikan fenomena alam, hukum alam. Siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Bukan acara flora fauna ala padang rumput afrika. Tapi ini fenomena ikan makan ikan. Wader kecil yang ceria, biasanya terusik kerumunannya saat ada rombongan bader merah menerobos tempat bermain di sisi tikungan sungai. Dua kubu kelompok ikan itu akan panik berhamburan, saat ada ikan palung (hampala) datang menyambar secepat torpedo. Itu fenomena yang terlihat setiap kali saya di TKP pada pagi hari.
mancing dan membaca
Bukan hanya itu juga, sungai ini juga sebagai tempat untuk menambah perkawanan. Ada beberapa pemancing dari warga setempat yang saya kenal. Bahkan kami kerap mancing bersama. Ada Mas Asep, Kang Bayu Gimbal dan Deni manusia ikan. Khusus yang terakhir, seorang bapak muda asal gunung kidul yang dapat istri orang Giripeni dan bekerja di pelabuhan ikan Semarang. Setiap pulang kampung dia pasti mancing. Teknik apapun mahir, casting, tegeg sampai dasaran. Memancingnya pun hanya untuk kesukaan karena dari penuturannya lebih suka mancingnya daripada makan ikan pancingannya.
Bayu, pemilik kafe jamaica
Itulah sekilas kisah saya dalam dunia perjoranan di Kulon Progo. Daerah surganya para pemancing dari berbagai kalangan, berbagai teknik dan berbagai usia. Salam uncal, karena memancing adalah candu. 

 Bonus Track
dua joran

sisi barat

pre-wisuda


No comments:

Post a Comment