Advertisment

Wednesday, March 18, 2015

ISIS: Kisah Gumpilnya Gigi Roikan

Malam Magelangan di Wates kota bersama Sujar dan Gotir (berkacamata)
....Perhatikan gambar di atas, apa ada yang aneh dengan senyum Roikan? Jika anda jeli maka ada perbedaan pada bagian gigi bagian depan. Ada retak kecil yang menyebabkan udara masuk ke mulut menjadi lebih sejuk (Isis dalam bahasa Jawa). 

ISIS di sini bukan negera Islam Irak dan Syiria (Islamic State of Iraq and Syria) yang sedang menjadi bahan perbincangan masyarakat dunia, ISIS adalah bahasa jawa yang berarti sejuk, bukan tentang penghijauan, namun kondisi yang saya alami akibat kecelakaan kecil di kolam renang. Tanggal 12 Februari 2015 tidak pernah saya lupakan, kala pagi pukul 07:30 WIB, terjadi peristiwa luar biasa yang menurut penuturan salah satu penjaga kolam renang merupakan peristiwa pertama, sejak kolam ini diresmikan pada pertengahan tahun 2014.

Tragedi 12 Februari 2015 
Kamis pagi saya dan Gotir berangkat latihan rutin berenang di kolam renang Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Wates, Kulon Progo. Tidak ada perasaan janggal saat kami bermotor dari kantor menuju kolam yang menjadi tempat olahraga rutin tiap minggu. Agar tetap sehat dan kuat dalam menjalankan aktivitas bekerja dan melaju. 
Peralatan lengkap...

Dengan berbekal peralatan lengkap (kacamata dan penutup kepala silikon warna biru) yang baru dibeli di toko olah raga dekat perlintasan kereta api Wates Kota, saya siap mengarungi kolam renang 50 meter. Langit cerah dan birunya warna kolam menyambut kami untuk segera menuju ruang ganti dan mengubah diri menjadi Deni Manusia Ikan

Tidak ada firasat atau pertanda sesuatu bakal terjadi tragedi memusingkan pagi itu. Malam harinya saya telah belajar banyak di Youtube tentang berenang yang berteknik. Tidak sekadar berenang dengan menggunakan gaya kali, teknik renang yang biasa dilakukan orang awam yang belum sadar bahwa pada dasarnya renang tidak hanya aktivitas mengapung dan bergerak di atas air. 
...smile before gumpil...
Selepas dari ruang ganti kami langsung pemanasan di tepi kolam, tidak lupa mengabadikan apapun dengan kamera ponsel. Saya ingin mempraktekan teori meloncat (diving) yang sebelumnya telah saya pelajari.
...Yoga before gumpil..
Langsung pada lintasan paling ujung kulon kolam, saya naik papan loncat dan Byur !!, meluncur dengan sukses. 

Saat itu kolam sepi dan setelah melakukan gaya bebas plus gaya dada di sisi barat kolam ada keinginan untuk mencoba lintasan lain. ya lintasan paling timur, lintasan no 1, lintasan para juara. Setelah merasa mendapat posisi paling nyaman, saya menyiapkan diri untuk melontarkan badan dan ....Byur....meluncur ke air dengan lancar, tapi tiba-tiba Gladuk !!! terasa ada sesuatu yang membentur di dasar kolam. Ternyata terjadi tabrakan tunggal antara kepala saya dengan dasar kolam. Ibarat tentara yang ditembak di dasar sungai, saya terdiam sejenak, kepala terasa pening dan saya berusaha mengingat apapun. Rumus phitagoras, nama keluarga, nama bus, nama apapun agar memori tidak ikut tergoncang. Itu saya lakukan di dasar air. 

..olah TKP dari lintasan no 1...
Kebetulan ada saksi tunggal dalam peristiwa itu, Gotir. Ia menyaksikan semua peristiwa dari pinggir kolam. Termasuk saat saya keluar dari dasar kolam dan bertanya: "Tir, opo ono untuku sing rompal? (Tir, apakah ada gigi saya yang pecah?)"...karena saya merasa gigi depan bagian bawah ada yang terasa pecah. Ternyata yang pecah tidak hanya bagian bawah, namun gigi depan atas terasa ilang seperempat. Setelah sadar ada gigi depan yang pecah tanpa peduli sakit kepala yang menyayat, saya turun lagi ke dasar kolam, berkacamata renang menyusuri dasar untuk mencari pecahan gigi depan siapa tahu ketemu. 
..data ante mortem...
Setelah sesaat melakukan Search and Rescue pada pecarahn gigi yang tidak membuahkan hasil saya kembali ke permukaan. Tentu saja dengan menahan sakit kepala dan pikiran terus mengingat sesuatu karena kuatir gagar otak atau hilang ingatan mendadak. Tiba-tiba tercium bau amis, dan tanpa disadari ada tetesan darah yang melewati penutup kepala renang silikon biru yang ternyata telah sobek seperti tersayat pedang samurai batosai. 
Tahu bahwa kepada telah berdarah, saya mencoba menghentikan pendarahan dengan kembali berenang agar air dapat menghambat aliran darah di luka vertikal. 
...akibat bertarung dengan Shicibukai Mihawk
Situasi tidak kondusif, saya memutuskan untuk mengakhiri renang dan kembali ke kantor. Selepas dari kamar bilas saya mulai merasa lemas setelah melihat kondisi kepala lewat cermin di ruang ganti. Semakin lama semakin lemas dan terasa lunglai, kunci motor segera diambil alih Gotir dan dalam perjalanan kembali ke kantor terasa badan sudah di ujung tanduk. Ingin ambruk. Sesampai kantor di depan pintu saya ambruk dan dengan berbekal minyak kayu putih dan segelas teh manis akhirnya kesadaran mulai pulih. 
..sikap badan yang salah, tangan harus tegak lurus biar tidak gumpil...
Berjuta syukur tidak lupa selalu tersebut di hati karena peristiwa ini tidak berdampak pada hal yang bersifat lebih fatal.

Ucapan terima kasih tak lupa saya berikan kepada Istri tercinta, Fitri Jubaida yang memberi grasi skorsing pasca gumpil dari libur dua bulan diperingan sampai luka di kepala mengering. Terima kasih kepada Gotir yang tetap strong melihat kawannya terluka dan sigap membuatkan teh hangat dan terakhir. Matur nuwun kepada Bu Mita Artaria yang memberikan pencerahan bersama sahabat dokter spesialis bedah, bahwa saya tidak bakal botak karena luka di kepala tipis dan tidak mengganggu pertumbuhan rambut.
..tidak kapok renang walau ada lubang angin-angin..
Makna dari postingan di atas adalah Jangan menirukan adegan di atas, sebelum mendapat bimbingan dari tenaga profesional.




No comments:

Post a Comment