Advertisment

Saturday, December 13, 2014

Cerita Pulang Kampung: Arus Mudik-Balik 2014

Ramadhan, puasa, mudik dan lebaran menjadi empat hal yang tak terpisahkan. Tahun 2014 menjadi tahun kedua untuk bermotor dari Wates-Jogja menuju kampung halaman, Kota Soto Lamongan.Walaupun perjalanan luar kota telah menjadi makanan mingguan selama dua tahun terakhir. Tetapi, mudik bermotor memberi kesan tersendiri. Dalam kondisi berpuasa bermotor berjam-jam dan yang jelas ada 'puasa' untuk pulang ke kampung halaman bertemu keluarga menjadi sesuatu yang melengkapi ibadah ramadhan.Sebelum mudik saya meninggalkan coretan dinding di kantor, semacam kartu lebaran kartunal.

Mbengkel Time
Tidak lupa pemeriksaan rutin pada motor sebagai bagian penting, agar lebih ready and safety. Mengingat jarak yang ditempuh bukan hanya Jogja-Kulon Progo. Tetapi Kulon Progo-Lamongan lintas provinsi, melintasi beragam tipe medan.

Usut punya usut, ternyata tukang servis yang di salah satu bengkel motor yang terletak tidak jauh dari pasar Gamping ternyata warga Sedayu Bantul. Karena langganan sejak tahun 2012, jika motor Revo saya taruh di bengkel tanpa banyak bicara langsung di tangani. Saya biasanya memberi kode antara ganti oli saja atau servis lengkap dan tidak lupa untuk selalu mencatat kilometer motor yang ada di spedometer. Maklum trauma dengan telat ganti oli dan servis yang dulu menyebabkan motor super irit, Supra Pit sampai turun mesin.


Coretan di papan kantor untuk pemudik
Servis langganan
Final setting di bengkel Gamping

Shopping Time

Tidak lupa belaja oleh-oleh untuk orang rumah. Puasa tahun kedua di Jogja ini saya mengajak teman-teman kantor Wates untuk belanja bersama, dari desa belanja menuju Kota. Malioboro menjadi tempat jujugan pertama karena misi awal yaitu ingin menyeragamkan seluruh anggota keluarga pas lebaran nanti. Saya membeli baju batik di lapak batik milik teman sekantor yang terletak di depan Matahari Maioboro. kulakan batik RW batik collection dengan harga khusus harga teman sekantor.Setelah itu kami blusukan di sekitar Malioboro mulai dari toilet umum (kencing berjamaah) sampai Departement Store (semacam 'kementrian' khusus belanja). Yang jelas karena bulan suci, kami tidak mampir ke Sarkem, guna menjaga hati dan iman. Setelah puas belanja kami sejenak mampir ke kos Tamantirto untuk bongkar muat barang belanjaan. Setelah itu balik kembali ke Wates dan melakukan final check pada jagoan red Revo. Biar kinclong di jalanan antar provinsi tidak lupa motor saya ajak 'mandi besar' di depan kantor Wates.
Ramayana Departemen Store Malioboro
Malioboro di penghujung bulan puasa
Juragan Kimcil Kulon Progo: Gotir
Gladi pra-mudik

D-Day, 22 Juli 2014-Arus Mudik Jogja-Lamongan Season II
Bertekad untuk mudik bermotor tanpa membatalkan puasa, sengaja agak santai. Kalau mudik tahun 2013 saya berangkat pada pagi buta, selepas subuh. Pada mudik 2014 bangun kesiangan, terlalu santai sampai terlelap pasca makan sahur. Awalnya dladapan mempersiapkan segalanya, tapi karena misi mudik memang alon-alon pokok kelakon dan sluman slumun slamet tidak ada target waktu untuk sampai kampung halaman. Toh jaman sekarang rata-rata jalanan sudah halus dan relatif terang. Tidak ada ketakutan nanti dihadang oleh beberapa kisanak berkuda dengan menghunuskan golok di tengah hutan (efek nostalgia sandiwara radio).
Bangun tidur langsung berangkat
Etape pertama, By Pass Solo
Etape pertama yaitu jalanan Kridosono sampai timur Kota Solo. Perjalanan agak kesiangan mengharuskan mata untuk lebih kuat menahan sinar matahari dari timur. Jalur yang saya lalui adalah jalur yang biasa dilewati bus malam. Etape kedua: pom bensin di barat kota Ngawi dekat RM Kurnia Jatim yang menjadi warung langganan makan malam setiap naik bus malam. Tahun 2013 juga transit di SPBU ini, dan lebih santai karena sempat bercengkrama dengan pegawai SPBU sampai sopir truk yang sedang rehat. Bahan bakar perlu diisi, mesin dan bokong perlu didinginkan. Konon jika terlalu memaksakan diri nyetir dengan pantas yang berapi-api bisa menyebabkan gaya nyetir tidak lagi simetris dan cenderung lebih arogan.
Menembus jalur lurus, Padangan-Bojonegoro
Memasuki kawasan Ngraho, daerah Bojonegoro yang berdekatan dengan Ngawi. Motor melaju di jalanan yang cenderung sepi. Sejak masuk kota Ngawi, pemudik motor plat B yang terus membuntuti. Setelah saya observasi di lampu merah, seorang pria kira-kira berusia 40 tahun mudik sendirian dari arah barat, mungkin dari Jakarta atau Jawa Barat. Sepanjang jalan terjadi duet blong-blongan antara plat L versus plat B. Karena bapaknya darah muda tidak mengalir sederas saya, kerap melakukan tindakan pasrah begitu saya dahului. Tak pikir ngepur, ternyata memang sengaja menghindari balapan dan nyetir lebih santai. Memasuki kota Padangan (tempat asal Pak Tani legendaris Antro Unair-Mr. Amir Salaf), saya kehilangan jejak dari plat B yang setia blong-blongan mulai Ngawi sampai Padangan. Begitu motor mulai memanas setelah lebih dari enam jam dipacu, kecepatan bermotor menjadi lebih ugal-ugalan sampai memasuki kota Babat. Ada kelegaan begitu melihat plang Selamat Datang di Kota Lamongan, padahal jarak dari situ sampai rumah relatif masih jauh.
Welcome Home
Memasuki pasar Babat, di samping kiri jalan, saya melihat sesosok pria muda yang masih melekat di memori otak kanan. Teman sebangku kelas dua SMA ketika bersekolah di SMA N 2 Lamongan, hendak menyebrang bersama istri dan anaknya. Dia adalah Didik yang sekarang bekerja sebagai Guru di salah satu SMK di Kota Lamongan. Didik 'Conair' julukan yang saya lontarkan sejak masa SMA, maklum wajah doi tidak jauh berbeda dengan aktor yang turut meramaikan film CONAIR sebagai penjahat psikopat yang berbahaya. Didik mirik Steve Buscemi, bintang dunia yang juga main di film Armagedon dan film The Big Labowski. Namun, karakter Didik dengan Steve Buscemi berbeda, jika dalam setiap filmnya Steve Buscemi cenderung bertingkah laku iseng. Didik cenderung lebih pendiam, bahkan lebih pendiam dari teman sebangku jaman kelas tiga SMA yang bernama Wiyono 'Raden Mas Ngabehi Slamet' (karena wajahnya mirip Dono Warkop DKI).
Dua pernyataan dan komentar yang makjeb pada mudik tahun ini adalah "loh kok helmnya satu?", "Kok mudik sendirian, mana pasangannya?". Istilah populernya sampai tulisan ini dibuat adalah sakitnya tuh di sini. Tapi semua harus kembali pada keyakinan bahwa urusan jodoh, pati dan rejeki sudah ada panitia yang mengatur.
Ketupat lanang dan ketupat wadon
Aktivitas di Rumah
Seperti lebaran tahun-tahun sebelumnya. Rutinitas baku yang dilakukan adalah mempersiapkan jajan untuk di pajang di meja ruang tamu, ziarah kubur, takbiran (baca: cangkruk di warung), sholat Ied (tepat di shaf terbelakang, luar pagar masjid di bawah gapura dusun dengan tekstur jalanan yang menyebabkan sajadah terasa kulit durian) sampai unjung alias berkunjung, silaturamhi dengan orang-orang sedesa maupun kerabat.
Kali ini di rumah tidak bisa sesantai mudik sebelumnya, ada kerjaan yang harus dilakukan namanya tesis. Sengaja saya membawa laptop dan scanner untuk melakukan pengumpulan arsip kartun humor yang pernah dimuat majalah Intisari. Tanggal 22 sampai 27 Juli 2014, saya melakukan pengarsipan terhadap kartun-kartun karya kartunis KOKKANG yang dimuat oleh Majalah bulanan Intisari periode 1984-2004 plus satu edisi pada tahun 2007. Pengarsipan dilakukan dengan digitalisasi menggunakan alat pemindai (scanner) dan terkumpul 466 kartun. Melelahkan tapi menyenangkan. 
Jika lebaran di beberapa tempat pada hari H membuat ketupat, di daerahku ketupat baru di buat pada H+6 Namanya riyoyo kupat atau lebaran ketupat. Menjelang lebaran ketupat ada tamu dari Jombang yaitu Sipin dan Boyo yang ingin berkunjung sekaligus belajar membuat ketupat. Dengan tutor Makku, Sipin diberi pelajaran singkat cara membuat ketupat. Ada dua jenis ketupat, yaitu ketupat Lanang dan ketupat Wedok. Ternyata ketupat pun mengenal pembagian gender, seperti gambar di atas, ketupat feminim lebih besar bentuknya daripada ketupat maskulin. Isi badan ketupat ladies lebih bohay, sementara ketupat laku lebih kecil namun berotot (otot janur).
Ganti oli dan setting bengkel Demangan, Lamongan Kota

Arus Balik, 3 Agustus 2014
Legen di jalanan Bojonegoro
Sumber Selamat melintas
Etape terakhir, Alas Mantingan Ngawi
Bonus Track
Oleh-oleh dari kampung

Nantikan Review Sambal Istimewa ala Mbah Putri... :)






















No comments:

Post a Comment