Advertisment

Saturday, April 5, 2014

150 Menit perhari (Me and Kindle)

Etnokartunologi (Watesroom). Berapa buku yang anda baca setiap bulan? sebuah pertanyaan yang bagi beberapa orang dianggap sebagai hal biasa. Membaca menjadi hobi yang dapat mengisi waktu untuk kegiatan positif. 
Awal dari kebiasaan menjadi kegilaan (@Mading Goa Antro Fisip Unair)
Buku digadang-gadang sebagai jendela dunia, pembuka cakrawala. Sementara muncul pandangan umum bahwa orang yang banyak bergelut dengan buku diidentikan dengan kurang gaul, cupu dan berkacamata tebal. Itu adalah gambaran oleh berbagai media yang biasa kita lihat, sebab media yang kita konsumsi berbanding lurus dengan persepsi dan aksi kita sendiri. 

Membaca dan kopi...
Permasalahan yang terjadi berkaitan dengan budaya baca minat baca bangsa Indonesia yang cenderung berada pada level memprihatinkan. Saat ini mulai jarang kita temukan siapapun yang kemana-mana membawa buku dan rajin berdiskusi, laptop yang ditenteng lebih banyak berisi game dan lebih digunakan untuk hiburan (berdasarkan pengamatan kerap melintas di hall depan perpustakaan kampus Unibraw Malang).
Me and kindle
Membaca dapat menambah wawasan, ilmu pengetahuan dan kepekaan. Melansir koran Kedaulatan Rakyat (KR) tanggal 1 April 2014 bahwa Indonesia hanya menerbitkan sekitar 24.000 judul buku per tahun dengan rata-rata cetak 3000 eksemplar perjudul. Pendapat ini dikemukakan oleh Efi E Sinarao selaku Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), sehingga dalam setahun Indonesia hanya menghasilkan sekitar 72 juta buku dan jika dibandingkan dengan jumlah penduduk 240 juta jiwa, berarti satu buku rata-rata dibaca 3-4 orang. Sehari saja tanpa membaca dan berpikir jarak kebangkrutan intelektual akan semakin pendek.
..membaca sambil melaju @Mataremaja Train ...

Kebangkrutan Intelektual
Saya tertarik dengan istilah kebangkrutan intelektual sebagai penyebutan bagi pihak yang bisa membaca namun tidak mau membaca. Ada sahabat yang mengemukakan ide sebaiknya membaca dilakukan minimal dalam sehari 15 menit, artinya dalam 1x24 jam meluangkan waktu seperempat jam untuk membaca. Manfaatnya baru terasa ketika yang bersangkutan dituntut untuk berpikir logis dan membutuhkan kepekaan yang tinggi. Orang yang terbiasa membaca akan mempunyai pemikiran yang lebih tajam dan dalam. Jika kebetulan yang dibaca bersifat fiksi dan penuh fantasi maka ia akan mempunyai ide-ide lain yang lebih fantastis. Dimana ada pemasukan disana ada pengeluaran, menulis yang bagus biasa didahului dengan proses membaca yang intensif. Secara kesehatan membaca mempunyai beberapa manfaat seperti memperbaiki pola tidur (pada beberapa orang yang tidak bisa tidur tanpa membaca terlebih dahulu), membaca dapat menurunkan depresi (jika galau dianjurkan membaca sesuatu yang berhubungan dengan cerita motivasi), membaca dapat mencegah penyakit pikun serta alzheimer dan yang lebih penting lagi dengan membaca kita dapat lebih 'membaca' situasi dan kondisi. Jadi setelah tahu berbagai manfaat membaca jika kita tetap pada kebiasaan untuk menunda atau bahkan malas membaca maka berdampak pada kebangkrutan intelektual. 

Salah satu poster yang menjadi penginspirasi minat baca adalah kartun karya Maurice Sendak , Reading is Fun merepresentasikan membaca adalah aktivitas yang menyenangkan. Karena dengan membaca kita dapat tahu segalanya dan lebih cerdas tentunya. 


Reading is Fun !....







..membaca di sela tugas kantor...

..membaca alam @Coban Talun Malang..
...natural back sound..
...sajian tahunan (Lepet dalam Lebaran Ketupat)..
...membaca kolestrol (pesta lebaran kurban)...
..asri..
Ketika membaca menjadi suatu kebutuhan di tengah masyarakat global yang hidup dalam era cyberspace membutuhkan sesuatu yang praktis dan tentu saja ramah lingkungan. Sebuah alat membaca atau yang lebih dikenal dengan Ebook reader merupakan jawaban atas kebutuhan yang piranti yang cepat dan mendukung produktivitas intelektual. Pertama kali melihat variasi jenis Ebook reader saya langsung tertarik pada Kindle , sebuah alat bantu membaca (buku elektronik) yang dapat menyimpan banyak buku, cahaya yang ramah di mata dan tentunya kemampuan baterai yang gila (dapat bertahan selama berminggu-minggu). Ada beberapa pilihan produk ebook reader yang bagus dari Kindle, Sony, Nook Color sampai Kobo, semua telah saya jelajah di Toko Ebook online..Kalau mencari penjual offline (lapak nyata) susahnya bukan main, beda jika kita mencari piranti yang berhubungan dengan hiburan seperti console game PS, yang jual banyak bahkan ada jasa penyewaan secara harian. Belum pernah saya mendengar ada Rental Ebook Reader. Hal ini sudah merepresentasikan bagaimana keadaan baca membaca bangsa kita, perpustakaan menjadi tempat yang relatif sunyi dibandingkan dengan pusat perbelanjaan. 
Beruntung kindle jenis touch screen saya beli second dari salah seorang penjual di FJB Kaskus, setelah nego dan tidak bisa menaklukan keteguhan hati dari sang penjual yang telah menetapkan harga pas. Akhirnya pagi itu, sepulang dari Malang saya langsung meluncur menuju daerah Imogiri tepatnya selatan terminal Giwangan Jogja, dekat Markas Brimob. Kami melakukan transaksi dan sepakat pada harga 950 ribu berbonus DVD berisi kumpulan aplikasi ebook dan isi bacaan berbagai variasi. Ternyata setelah DVD saya selidiki, isinya lebih banyak file ebook motivasi nan Islami. 
Selanjutnya Kindle menjadi teman setia yang selalu menemani kemana saja, dari istirahat di kos, bus, kereta sampai saat turun lapangan. Mengingat status masih kuliah dan menekuni pekerjaan ngajar, maka membaca dan menulis menjadi kebutuhan yang penting. Oleh karena itu, dalam 1x24 jam saya sempatkan setidaknya membaca kindle dan buku cetak minimal 150 menit (setara dengan kuliah 3 sks). Membaca dengan alat canggih selain praktis juga tidak perlu pontang panting membawa banyak buku. Meskipun begitu ada saat ingin nostalgia membaca buku secara fisik yang tentunya dapat kita beri catatan, gambar dan ada bau kertas yang khas.
..membaca di antara Tanean Lanjeng @Tanjungbumi Madura..
...Tiada hari tanpa membaca.