Advertisment

Tuesday, March 25, 2014

Office Chef (Petualangan Bujang Kantoran)

Laki-laki dan memasak. Jika di beberapa tempat di nusantara dianggap sebagai sesuatu yang tabu, karena ada kecenderungan bahwa masak adalah urusan perempuan. The power of kepepet menjadikan beberapa kanca muda (sebutan perkawanan ala salah satu radio di Surabaya) menyiasati dengan membuat acara memasak di kantor, karena tinggal di kantor tidak lengkap jika tidak sekalian masak di kantor.
Daftar Belanja ke Pasar Wates

Bahan Baku
Menu yang disajikan pun tidak terlalu muluk, menu sederhana dari bahan sederhana yang penting bisa menghasilkan nutrisi seimbang bagi tubuh. Tidak harus 4 sehat 5 sempurna seperti gambar yang biasa terpampang di Puskesmas, yang penting ada sayur dan protein hewani dari ikan asin. Tentu saja karena hidup di Jogja, posisi gula menjadi prioritas terutama penggunaan gula jawa (gula tradisional berwarna merah dari produksi rumahan yang berbeda dengan gula putih dengan produksi massal yang secara historis dapat menceritakan betapa galaunya anak bangsa ini kala produksi gula melanda Nusantara pada era kolonial).

Tak Ijo Royo-royo

olahan dasar
Tukang belanja (Mr. Habe dan Mr. Sujar)

Adalah beberapa bujang kantor (walau per postingan ini ditulis sudah ada beberapa yang telah menikah), penunggu kantor bimbel Ganesha Operation unit Wates KULONe kali PROGO. Mereka adalah saya sendiri, Mr. Sujar, Mr. Pusak dan terkadang Mr. Habe yang kerap mewarnai kantor setelah aktifitas KBM berakhir. Selain masak kegiatan kami adalah main game. Jika ada acara masak di kantor maka yang kami lakukan adalah belanja ke pasar, membuat daftar belanjaan setelah itu baru dieksekusi.

Selfi sampai Mendidih
Pembagian tugas telah terbagi dengan jelas, ada yang bagian belanja ke pasar, ada juru penanak nasi, pembuat lauk, spesialis sambal dan terakhir bagian bersih-bersih (bersihin sisa makanan dari pada sia-sia terbuang, di pindah ke dalam perut). Kalau di Jogja kegiatan terakhir disebut dengan Isah-isah. Kalau di tempat asal saya (Lamongan-Jawa Timur) dinamakan dengan Kora-kora (mirip nama kapal yang digunakan dalam eksedisi monopoli penjajahan dalam pelayaran Hongi dengan menggunakan kapal tradisional kora-kora). Apapun nama dan penyebutannya yang jelas secara perilaku dan kosakata, terdapat pengulangan kata yang merepresentasikan perilaku yang dilakukan secara berulang. Kora-kora ataupun isah-isah secara harfiah adalah perilaku membersihkan peralatan makan, nah dalam proses membersihkan itulah terjadi proses berulang yaitu mengusap, membersihkan sampai membilas yang dilakukan beberapa kali.
Rambo
Mengenai menu, biasanya yang saya masak adalah masakan sederhana ala anak kos. Oseng sayur kadang di campur santan, sop sayur dan yang tidak bisa dilupakan adalah sambal dan telur dadar. Untuk urusan sambal sudah jadi pekerjaan Mr. Sujar sedangkan untuk urusan penggorengan sudah ditangani oleh Mr. Pusak. Tidak lupa sebelum makan bersama kita senantiasa berdoa karena sudah ada juru doa bernama Mr. Imam sebagai ustad sejuta umat untuk kawasan GO Wates. Yang jelas makan apapun dan bagaimanapun rasa masakannya yang penting kebersamaan, gotong royong, guyupitas yang menjadi prioritas.
Didoakan biar berkah dan barokah