Advertisment

Saturday, March 29, 2014

Cak Nun: dari GSG Unair, Mbok Beruk Kotabaru sampai You Tube

Etnokartunologi (Watesroom-DIY) Ketika masih aktif berteater di kampus pernah sekali pementasan yang sulit untuk dilupakan, pentas bersama tokoh besar yaitu Emha Ainun Najib beserta Kyai Kanjeng. Dengan mengambil tema tentang televisi dan dampak pada penontonnya, performence art dari Teater Puska menjadi tampilan pembuka sebelum Cak Nun pentas bersama Kyai Kanjeng. Pentas kali ini menyuguhkan properti yang cukup sederhana, sebuah televisi layar besar walaupun itu hanya replika. Terbuat dari kardus besar yang dicat hitam, antena kayu dan bagian layar diberi kertas tipis agar bisa ditembus. Properti sepenuhnya dibuat oleh teater Puska sendiri dengan sentuhan tangan dingin dari anggota Puska spesialis peralatan yaitu Joko Supriyono.
Kyai Kanjeng feat Teater Puska (GSG Unair 2005)
Pentas bersama televisi kardus di lakukan di lapangan depan GSG Unair kampus B Surabaya pada 20 November 2005. Menampilkan berbagai apresiasi dan termasuk keresahan karena televisi, sebuah kotak ajaib yang mampu menyihir orang untuk memasuki labirin hidup bermedia dan berbagai komodifikasi lainnya mulai pemaknaan atas tubuh sampai pada agama.Yang tidak bisa terlupakan adalah sesaat sebelum pementasan saya melihat tokoh yang menjadi inspirasi untuk berani bersikap. Beliau adalah Cak Nun alias Emha Ainun Najib, budayawan kondang. Saya awal mengenal dari rekaman kaset bertajuk Jaman Wis Akhir yang menampilkan musik kontemporer dan musikalisasi puisi. Puisi ini biasa menjadi pengiring gerakan teatrikal ketika aktif berteater di Teater Citra Smada Lamongan dari pentas di sekolah sampai pentas di jalanan untuk kepentingan karnaval.
Tahun 2013 terjadi pertemuan tidak terduga, saat sedang sarapan di warung Mbok Beruk sepulang dari perjalanan Malang-Jogja. Warung Mbok beruk adalah warung sederhana di kawasan Kota Baru yang menjadi jujugan karyawan sekaligus penyuka masakan pedas. Menu idola saya adalah nasi dengan sayur pedas dan ditambah dengan sepotong ikan laut goreng. Ditambah dengan jeruk hangat dan setelah makan biasa ditambah dengan sesisir pisang. Setiap kali selesai makan pertanyaan yang selalu dilontarkan oleh Mbok Beruk -wanita paruh baya asli Klaten- adalah "Pedes Mas?", jawaban saya selalu "Pedas Bu, sesuai selera orang Jawa Timur".

"Masakan di sini enak, bahan seger"
Tidak disangka, dalam kesempatan yang langka. Sebuah mobil berhenti pagi itu di depan warung dan keluar sosok yang sering  kulihat di televisi dan you tube. Cak Nun keluar dari mobil lalu pesan dua gelas teh hangat dan membungkus lauk Setengah tidak percaya, antara penasaran dengan kaget akhirnya saya putuskan untuk mendekati Cak Nun yang duduk di sebelah timur warung. Setelah perkenalan sesaat terjadi dialog hangat tentang aktivitas dan berkesenian. Pada pembukaan pembicaraan saya mengenalkan diri dan membahas pentas bareng waktu di GSG Unair beberapa tahun silam. Syukur-syukur kalau beliau masih ingat ditengah aktivitas maiyahan yang padat dan menyita waktu.

Masakan Mbok Beruk

"Makanan di sini enak Mas, segar bahannya tidak seperti masakan di restoran"itulah katakan dari Cak Nun pagi itu. Secara tidak langsung menjadi apresiasi atas kerja keras pedagang kecil, kalau ditarik garis lurus termasuk penghargaan kepada petani nusantara. Pembicaraan pagi itu seputar masalah aktivitas keseharian , kesibukan untuk pontang-panting ke luar kota. Beberapa saat kemudian, setelah setengah teh hangat yang dinikmati oleh Cak Nun habis, beliau siap-siap beranjak kembali ke mobil. Cak Nun membuka dompetnya dan menyuruh asistennya untuk membayar bukan hanya teh dan makanan yang dipesan, namun membayar makanan saya. Ketika saya bilang akan membayar sendiri, beliau berkelakar: "Rejeki tidak boleh ditolak". Sungguh pengalaman yang berkesan bertemu dengan tokoh yang memberi perhatian kepada kehidupan bangsa, nasionalis agamawi dan pekerja keras. Sayangnya diskusi kami tidak lama, sebelum beranjak dari warung Mbok Beruk beliau berpesan "Kerja yang keras dan rajin Mas, mumpung masih muda, masak kalah sama yang usianya segini" setelah itu beliau beranjak menuju mobil, tak lupa saya mengucapkan terima kasih atas pertemuan dan traktirannya.
"Nyambut Gawe sing Rajin Mas, Mumpung Masih Muda"
Kesederhanaan tercermin dalam sosok kebapakan dari seorang Emha Ainun Najib, tokoh yang turut mengawal Nusantara mulai dari masa Orde Baru sampai reformasi. Dan beruntung setahun setengah ini saya hidup di Jogja sehingga secara reguler dapat menyaksikan Maiyahan di Adi TV, setiap hari kamis malam. Selain itu, dapat menikmati Maiyahan via cyberspace melalui rekaman pengajian yang diuplod di You Tube. Pengajian yang bersifat interaktif, bukan satu arah. Antara audien dan penampil terdapat komunikasi dua arah dipadu dengan musik kyai Kanjeng yang tidak biasa. Memadukan antara aspek tradisional, agama dan modern, cerminan harmoni kehidupan. Kehidupan yang senantiasa guyup, rukun dan saling memahami. “Hasbunallah wani’mal-wakîl, ni’mal-mawlâ, wani’man-nashîr" Artrinya: "Cukuplah Allah tempat berserah diri bagi kami, sebaik-baik pelindung kami, dan sebaik-baik penolong kami".