Advertisment

Sunday, January 5, 2014

Kartun, Ngalay dan Ibukota (part 2)

(Etnokartunologi. Yos Room-DIY) Cerita pada Bagian satu penuh dengan tidur yang ngemil, postingan kali ini diawali dengan pertumpahan darah. Setelah menempuh perjalanan jauh selama kurang lebih 15 jam, Jakarta sudah di ambang mata. Sebuah lemparan baru yang tidak sampai menembus kaca, menyambut kedatangan kereta Mataremaja Cadangan di kawasan Jatinegara. Seorang gadis berhidung mancung yang naik dari stasiun sebelum Madiun mengalami lecet di bagian jari tangan karena serpihan kaca. Ini bukan kali pertama saya naik kereta dan ada insiden pelemparan batu, atlet lempar batu adalah sebutan untuk orang-orang tidak bertanggung jawab yang suka membuat teror dalam dunia transportasi kita.  
Sesampainya di Stasiun Pasar Senen, sebelum berangkat menuju Taman Ismail Marzuki (TIM) ada hal khusus yang sesuai dengan janji sebelum sampai Jakarta. Menuju Polsek Senen untuk memberikan sesuatu kepada Bapak Polisi yang bertugas di sana. Sebagai tanda terima kasih karena telah menampung selama pencarian data jaman menulis skripsi dahulu. 
...bajaj merah...
Melalui proses tawar menawar yang alot, kami berdua naik bajaj. Walau sudah 4 kali ke Jakarta namun ini adalah kesempatan pertama kali naik Bajaj. Kendaraan pengganti becak kayuh yang dirasa lebih manusiawi dan menjadi salah satu ikon Jakarta juga. Seiring dengan wacana Go Green sekarang bajaj terpecah menjadi dua mazhab: merah dan biru. Merah adalah bajaj lama yang menggunakan bahan bakar minyak sedangkan biru merupakan bajaj yang menggunakan bahan bakar gas (BBG). Tentu saja harganya berbeda, berdasarkan oleh TKP saat mencoba menawar bajaj biru dari Pasar Senen menuju TIM ditarik Rp 25.000; sedangkan waktu menawar bajaj yang merah, kami mendapat harga Rp 17.000; untuk trayek tujuan kami. Selama perjalanan saya sempat ngobrol bersama 'pilot' bajaj merah tersebut, termasuk membuka pembicaraan tentang Malang, hujan dan bajaj. ketika saya tanyakan kenapa tetap pakai bajaj merah kok bukan yang biru Alasannya adalah daya beli masih belum mencapai karena secara harga ada selisih yang jauh antara bajaj biru ber-BBG dengan bajaj merah. Tidak semua sudut kota ada tempat pengisian BBG dan biaya operasional yang tinggi menjadikan beberapa orang tetap setia pada bajaj merah. 
...TIM dan TOM...
Setelah 'berlabuh' di depan Taman Ismail Marzuki, segera kami memasuki kawasan yang menjadi salah satu kawasan kesenian di Jakarta. Terletak tidak jauh dari Gedung Juang Menteng 31, saksi bisu perjuangan para pemuda pada awal kemerdekaan Indonesia. Namun suasana berkesenian yang saya bayangkan sejak berangkat dari Malang sirna ketika melihat kenyataan yang terjadi. Gedung kesenian yang seharusnya menjadi ajang ekspresi dari berbaga lini telah digunakan juga sebagai salah satu gerai industri hiburan yang monopolis. Itulah gedung bioskop yang lewat jaringan nasionalnya telah menempati berbagai ruang seperti mall dan gedung kesenian. Saya masih ingat saat awal kuliah, sering bermain di Dewan Kesenian Surabaya dan berdiskusi dengan berbagai macam seniman kala itu, ada banyak orang yang datang kesana namun tujuannya adalah melihat pemutaran film yang sedang laris di pasaran. Aspek baiknya, ketika menunggu menonton bioskop pengunjung dapat menyempatkan diri sejenak untuk melihat pameran apapun yang ada disitu, setidaknya dapat tahu bagaimana karya yang 'bukan pasaran' itu yang murni berasal dari ekspresi.

...lantai dua Galeri Cipta TIM...
Pameran kartun yang digunakan sebagai peringatan untuk menutup tahun 2013 sekaligus temu kangen kartunis maupun pemerhati seni kartun dilakukan galeri cipta paling pojok. Ada dua lantai yang dibuat untuk pamera, lantai satu lengkap dengan penerima tamu (ada lapak jual mug Pakarti dan buku yang disewakan untuk dibaca ditempat tulisan dari Pak Darminto S Sudarmo). Pada kesempatan kali ini saya berkorespondensi dengan salah satu kartunis Kaliwungu yang merantau di Jakarta, Wawan Bastian Kokkang. Pertemuan yang agak molor karena kereta api dari Bogor mengalami hambatan akibat hujan deras yang menyebabkan perjalanan tidak bisa tepat pada waktunya. Selama menunggu kedatangan Wawan Kokkang saya berusaha menelpon salah satu nomer penginapan khusus backpacker yang ada di jalan Jaksa. Setelah ada kepastian untuk di mana tidur nanti malam, akhirnya sore ini saya wawancara dengan Wawan Kokkang di warung nasi goreng yang tidak jauh dari galeri cipta. Dari pertemuan awal yang singkat dan tidak menutup kemungkinan untuk suatu saat bertemu lagi, ada secercah terang perihal kebuntuan pengerjaan tesis yang pernah melanda. 

Jakarta, 28 Desember 2013 sebuah catatan visual
...pusat wacana...

...atas nama normalisasi...

....metromini 03 Senen-Rawamangun..

....karedok...

....di bawah pohon nangka...
Perjalanan pulang mendapat bus AKAP tante Rosa (P.O Rosalia Indah) karena musim libur tiket banyak yang habis khususnya untuk tujuan Jogjakarta, maka dengan membayar Rp 100.000; di loket 8 terminal Rawamangun mendapat satu tiket jurusan Jakarta - Purwokerto.
...bagian dari pelayanan...

....tante Rosa...

....daleman tante Rosa...
Perjalanan dengana armada yang terputus memberikan beberapa pilihan sekaligus ketidakpastian. Tiba di terminal Puwokerto pukul 03:00 WIB, dini hari yang sunyi terpecah oleh obrolan ngapak orang-orang yang berada di sekitar pemberhentian bus. Ada bus jurusan Solo yang menawarkan turun di Jogja, tapi pagi itu kedatangan bus Patas Efisiensi memberikan pilihan untuk naik bus yang lebih nyaman dan efisien.  P.O ini memperkerjakan wanita sebagai salah satu awak khususnya kenek. Namun tanggal 28 Desember pagi ini, mbak-mbak Efisiensi yang diharapkan tidak ada, tepat pukul 09:07 WIB saya turun di dekat kantor GO Wates Kulon Progo untuk kemudian mengerjakan agenda menyebar brosur bertepatan dengan penerimaan raport pasca UAS. 
....efisiensi....

....welcome back. 
Laporan Keuangan Ngalay Malang-Jakarta-Jogja: 
Angkot mBetek- Stasiun Malang : Rp 3000
Kereta Api Mataremaja Tambahan: Rp. 130.000
Souvenir Polsek Senen : Rp 30.000
Bajaj Senin-TIM : Rp. 17.000
Djody Hostel Jalan Jaksa: Rp. 175.000
Metromini Senen-Rawamangun: Rp 5000
Bus Rosalia Indah Exe Jakarta-Purwokerto: Rp 100.000
Bus Patas Efiensi Purwokerto-Jogja jauh dekat: Rp 50.000
nb: silahkan total biaya keseluruhan sendiri dan belum biaya lain-lain seperti makan, minum, snack, ngopi, pipis dan pulsa.