Advertisment

Tuesday, May 29, 2012

All About Madura (Pak Tani dan Nelayan)

Etnokartunologi (kamarkos-sby). Pada postingan kali ini saya akan mendeskripsikan hal-hal yang menarik selama setahun lebih perjalanan saya berangkat mengajar melintasi pulau Madura. Ada beberapa hal yang menarik untuk dikaji pada masyarakat Madura, mulai kehidupan sosial, religi sampai arsitektur rumah dan bentuk perahu nelayan. All About Madura adalah postingan rutin melihat sisi menarik Madura dari perspektif ngartun.
Berbicara tentang mata pencaharian, orang Madura menggantungkan hidup pada kegiatan ekstraktif yang bersifat subsisten, mengambil sesuatu dari alam yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan dan sekadar bertahan hidup. Jika kebutuhan tidak mencukupi maka cara yang ditempuh adalah bekerja di luar Madura. Kali ini saya menjelaskan dua mata pencaharian masyarakat Madura yang tidak keluar merantau namun tetap bertahan di tanah kelahirannya. Ada dua pekerjaan yaitu Petani dan Nelayan.
Pak Tani Pencari Rumput dengan Keranjang dan Sabit

Pekerjaan yang menjadi mayoritas bagi masyarakat Madura adalah menjadi petani, pada musim kemarau ada daerah yang bergelut dengan tembakau misalnya Sampang dan Tlanakan (Pamekasan), pada musim hujan rata-rata menekuni budidaya tanaman padi. Keberadaan sapi bagi masyarakat Madura adalah harta yang berharga setelah posisi istri tersayang. Sapi adalah simbol status dan ketahanan finansial, maka tidak heran jika perawatan sapi beserta segala perlakuannya kadang lebih baik dibandingkan dengan perhatian dan perlakuan pada keluarga sendiri. Sapi yang sehat memerlukan nutrisi yang baik, oleh karena itu dalam menghimpun rumput dipilih rumput yang berkualitas baik pula. Mencari rumput dilakukan jika pekerjaan di sawah telah usai, agar menjaga kesegarannya karena setelah disabit langsung dibawa pulang. 
Hati-Hati Banyak Pencari Rumput yang Melintas atau Menyeberang !


Pencari rumput banyak kita jumpai sejak menyeberangi Suramadu sampai Madura pedalaman. Piranti yang dibawa untuk mencari rumput adalah sabit, gerobak kayu (gledekan) untuk pencarian skala besar dan keranjang anyaman bambu untuk skala kecil. Jika didaerah Trawas atau dataran tinggi lainnya rumput yang diberi pada sapi adalah rumput Gajah, berbeda dengan Madura yang mempunyai kontur lebih rendah dan suhu lebih panas, makanan untuk sapi adalah rumput liar yang tumbuh di sela-sela padi, tanah kosong, sisa ladang. Bukan hanya rumput saja, saya pernah menemui ada yang memberi makanan sapi dengan sisa batang dan daun jagung. Daerah Tanah Merah (Bangkalan) kita bisa menemui sapi-sapi yang digembalakan di sekitar ladang tidak jauh dari pemukiman mereka. Bahkan di daerah Sampang yang berbatasan langsung dengan pantai, saya pernah menemui ada sapi yang dibawa kelaut untuk dimandikan saat laut sedang surut di siang hari. 

Nelayan Siap Melaut dengan Properti Ember dan Sarung
Madura adalah sebuah daerah kepulauan yang tersebar ke arah timur. Tidak heran jika ada daerah yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan menggantungkan hidup pada sektor maritim. Contohnya Sampang, dengan slogan BAHARI nampak semangat untuk mencari nafkah pada sesuatu yang berhubungan dengan hasil laut, petani garam sampai nelayan. Nelayan yang saya dan saya gambar di atas adalah nelayan di daerah perbatasan Sampang-Pamekasan tepatnya Desa Tanjung. Jika melintas pada siang hari nampak aktivitas lebih banyak dilakukan oleh para laki-laki yang sibuk dengan peralatan menuju laut, ada beberapa bapak yang menggelar jaring birunya sekaligus memperbaiki bersama dan kaum Ibu sibuk berkumpul di depan rumah. Suasana yang berbeda jika melintas pada malam hari, Bapak-bapaknya santai di depan rumah sementara Ibu-ibunya sibuk menjajakan ikan di depan masjid yang sekaligus area pasar malam rutin untuk menjual ikan segar tangkapan tadi siang. 
Pasar Malam Ikan Segar (Raya Tanjung dekat Alfamart)
Piranti standar yang dipakai untuk berangkat kelaut adalah alat menangkap ikan seperti jala, jaring, ember dan sarung. Keberadaan ember, menarik untuk di bahas, jika beberapa orang Pamekasan yang saya wawancarai ember digunakan untuk menampung pasir laut yang diambil ditengah laut yang bisa dimanfaatkan untuk material rumah maupun dijual kembali. Berbeda dengan penuturan dari orang asli desa Tanjung yang menjadi pedagang Mie Ayam di Surabaya, penggunaan ember bekas cat yang biasa dibawa nelayan melaut adalah sebagai tempat jala dan berbagai kebutuhan pribadi misalnya rokok dan sarung. Ibarat tas rangsel bagi pendaki gunung dan kantong ajaib bagi Doraemon. Ember ini juga yang melatarbelakangi saya untuk membuat postingan ini. Selain ember, sarung adalah piranti wajib yang harus dibawa selama bekerja di laut, sarung tidak saja digunakan untuk Sholat namun bisa sebagai perlindungan terhadap angin malam dan menjadi alat penutup aurat yang efektif dan praktis jika ingin terjun ke laut. Sarung bagi masyarakat Madura adalah busana wajib melekat pada lelaki, tidak heran jika kadang-kadang melihat ada siswa di kantor Madura yang berangkat belajar dengan tetap mengenakan sarung. Sarung menjadi ikon bagi lelaki Madura terutama kalangan Bapak, jika tidak percaya silakan melintas di daerah Lomair, perbatasan Bangkalan-Sampang di sebelah kiri jalan ada iklan layanan masyarakat warisan ORBA tentang Keluarga Berencana. Pada baliho itu kita bisa melihat gambar satu keluarga kecil bahagia sejatera dengan figur Bapak yang memakai sarung dengan atasa jas hitam lengkap dengan kopyah (songkok) yang tinggi khas lelaki Madura. Salam Taretan Dibi' salam Ngartun. 

No comments:

Post a Comment