Advertisment

Sunday, April 24, 2011

Resensi Novel Grafis: Epileptik 1 karya David B.


Judul: Epileptik 1
Penulis:David B.
Tebal: 163 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta 2008
ISBN: 978-979-22-3185-4

Kesan pertama saat membaca lembar demi lembar novel grafis ini adalah sensasional. Ekspresi dan penjiwaan mendalam diperoleh dengan teknik hitam putih dan gambar dengan fantasi yang liar. Membaca novel grafis ini kita akan mendapat renungan akan pentingnya keluarga sebagai sebuah masyarakat yang terkecil. Keluarga dalam suka dan duka bersama, dalam sakit dan bugar tetap bersama. novel grafis ini menceritakan keluarga Pierre Francois 5 tahun anak dari keluarga sederhana di Prancis. Pierre mempunyai 2 saudara yaitu Jean Christophe yang berusia 7 tahun dan Florence yang masih 4 tahun. Hari-hari masa kecil Pierre Francois dilewatkan dengan permainan perang-perangan dan karena pengaruh buku yang dia pelajari pemikiran Pierre lebih cenderung militan.Pierre sangat mengagumi tokoh-tokoh militer masa lalu seperti Jengis Khan sampai pergerakan mahasiswa Perancis pada akhir tahun 60-an.
Apa yang terjadi seandanya dikeluarga yang kita cintai terdapat salah satu anggota yang menderita sakit parah. Kakak Pierre yakni Jean mengidap epilepsi yang cukup akut. Kumat dimanapun dan kapanpun dengan intensitas yang bervariasi. Jika kita perhatikan gambar cover depan maka disitu terdapat sekumpulan dokter yang berusaha menyembuhkan sakit Jean dengan berbagai ilmu kedokteran, sehingga keluarga mereka seakan-akan berada dalam cengkraman dokter.
Pengobatan dokter ternyata tidak banyak menolong, sehingga keluarga Jean menggunakan cara yang non modern yaitu dengan pengobatan gaya timur. Teknik akupuntur diterapkan sampai pengobatan sistem makrobiotik yang menjaga keselarasan antara Yin dan Yang.Pengobatan dari timur cukup menolong namun tidak berlangsung lama sejak guru sekaligus terapis mereka pergi dan diganti dengan kerabatnya.
Dalam novel grafis ini jika dikaji secara ilmu kesehatan khususnya antropologi kesehatan memberikan gambaran betapa bangsa barat juga menggunakan instrumen yang berasal dari Timur. Terjadi dialog antar budaya yakni budaya barat dengan modern dan rasionalnya dengan budaya timur yang mengedepankan kearifan dan keselarasan.
Kepribadian dan daya pikir anak-anak ditentukan bukan hanya didikan keluarga, namun bacaan yang digunakan oleh seorang anak mempunyai kontribusi yang tidak sedikit terhadap kepribadian. Tokoh Pierre F. dalam novel grafis di atas membaca buku-buku yang seharusnya dibaca oleh orang yang di atasnya.Sifat ingin tahu yang tinggi tentang keadaaan waktu perang sering menggugah Pierre untuk selalu mencari informasi tentang peperangan dari tokoh yang terlibat. Khayalan yang tinggi dan liar membuat Pierre mempunyai persepsi yang berbeda tentang kematian. Jika anak pada umumnya mengganggap suatu kematian dari anggota keluarga adalah sebuah musibah.Berbeda dengan Pierre menganggap kematian kakeknya merupakan perubahan. Metamorfosa dari seorang kakek menjadi seekor burung yang berjas rapi.

Dialog dan kekaguman bangsa barat terhadap budaya timur diapreisasi dalam novel ini dengan sangat gamblang meskipun penggambaran yang super ekspresif. Pada saat tertekan dan ingin mencari pelarian sekaligus pelampiasan amarah, Pierre menggunakan pisau milik kakeknya yang diperoleh dari Indonesian untuk melampiaskan amarah di dalam hutan yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Finally, novel grafis ini dapat kita jadikan sebagai bahan referensi dalam variasi ngartun. Semakin banyak kita bahan kajian semakin luas juga wawasan kita. Kartunis yang baik tidak hanya jago menggambar namun harus bisa apresiasi dengan total pada karya orang lain.
"Epilepsi Bukan penyakit turunan...Ayo Di main bola lagi !!" (kutipan iklan pelayanan masyarakat pada masa ORBA yang terkenal di televisi).

No comments:

Post a Comment