Advertisment

Friday, April 8, 2011

Referensi Buku: Histeria !! Komikita


Judul: Histeria! Komikita
Penulis: Martabak Bandung (Hafiz Ahmad, Beny Maulana, Alvanov Zpalanzani)
Tebal: 270 halaman
Penerbit: PT Elex Media Komputindo, 2006
ISBN: 979-20-8695-1

Buku Histeria !! Komikita diterbitkan oleh Trio Martabak dari Bandung yaitu Hafiz Ahmad, Beny Maulana dan Alvanov Zpalanzani. Buku ini berjalan seperti komik yang biasa kita baca mengalir tanpa daftar isi yang biasa umum terdapat pada buku-buku pada umumnya. Ketiga orang Bandung ini melakukan pembedahan terhadap komik Indonesia pada masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Seperti Film Back To The Future. Setelah saya telusuri buku unik ini terdiri dari 13 Bab yang diawali dengan pengenalan the martabakers dengan slogan utamanya Support Your Local Comics, Yo!!.Bab kedua memperkenalkan tentang apa yang dimaksud dengan komik. Komik adalah media hiburan yang murah meriah, media untuk bercerita, media untuk mendidik, media untuk berekspresi dan eksplorasi termasuk propaganda serta sebagai imprealisme modern. Buku ini menceritakan tentang suka duka yang dialami komik Indonesia dari masa ke masa di tengah serbuan komik dari barat dan manga dari negeri sakura. Pada bab Times line komikita menceritakan sejarah panjang dunia perkomikan Indonesia dengan berbagai periodesasi layaknya pelajaran sejarah anak IPS. Trio Martabak membagi jaman komik menjadi sebagai berikut Jaman Prasejarah komik alias jaman tradisional yang terinspirasi dari relief di candi-candi Jawa. Jaman berikutnya adalah komik modern generasi pertama (1930-1954) dengan karakter Put On karya Kho Wang Gie, Sie Djin Koei karya Siauw Tik Kwie, Sri Asih karya R.A Kosasih, Puteri Bintang dan Garuda Putih karya Johnlo. Generasi selanjutnya adalah Komikita modern generasi kedua (1960-1970) yang saat itu didominasi oleh komik dengan tema perjuangan dan nasionalisme, selain itu komik-komik yang menampilkan sisi romantis Indonesia seperti Tetesan Air Mata Cinta. Pada periode ini juga terdapat tokoh legendaris komik Indonesia diantaranya Ganesh TH dengan Si Buta dari Gua Hantu, Hasmi dengan Gundala Putera Petir, Wid NS dengan Godam.
Generasi Modern selanjutnya masuk pada generasi ketiga yaitu mulai tahun 1995 sampai sekarang. Ini adalah awal dimana komikita semakin terpuruk dengan kehadiran komik-komik asing yang menyebabkan cewek-cewek Indonesia lebih memilih komik import karena cerita lebih bervariasi. Proses pengaruh budaya luar yang masuk di komik kita juga dibahas khusus dalam buku ini terutama pada masalah identitas komikita yang intinya kita tidak boleh mempermasalahkan identitas autentik komik kita karena sifat dinamis dan relatif yang akan terus membayangi kehidupan manusia di muka bumi. Keberadaan komik asing yang masuk membuat banyak pihak untuk mengupayakan industrialisasi dalam komikita dengan semakin maraknya keberadaan komik indie. Komik indie adalah produksi komik yang unik mulai dari teknik cetak yang kadang tidak umum sampai pada pemasaran melalui distro. Terdapat empat pilihan bagi komikus untuk pemasaran komik diantaranya: berdasarkan tema yang diusung ada Mainstream, Indie Label dan cara penerbitan: Komik Undergound, Major Label.
Pembaca komikita terbagi menjadi beberapa tipologi karakter yaitu pembaca kritis (pengamat komik), pembaca wanita dan pembaca yang memiliki potensial sebagai pembeli dan pelanggan rutin setiap penerbit. Bab terakhir ditutup dengan cara membuat komik dan cara membuat komikita bangkit kembali. Cara membuat komik yang kontekstual dengan mengubah sudut pandang dan memperhatikan hal pokok dalam komik yaitu sederhana dan bertahap yang meliputi keseharian, komik pendek, adaptif. Semua itu memerlukan fokus dan perhatian yang mendalam pada proses. Support our local comic dengan menciptakan sinergi antara komikus, penerbit dan pembaca.
so, Support our local comic, ya!!

No comments:

Post a Comment